Parahyangan Orchestra (Parchestra) menggelar konser bertajuk Pascahumana: Concert About Human Now di Auditorium PPPG Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR), Minggu, 3 Mei 2026. Sejumlah isu seperti pelanggaran hak asasi manusia, krisis lingkungan, kapitalisme, hingga perkembangan kecerdasan buatan (AI) menjadi benang merah pertunjukan yang memadukan musik orkestra dan unsur teatrikal.
Konser ini menampilkan 10 penampil yang membawakan karya para komponis lokal. Tema besar yang diusung berangkat dari kondisi dunia yang disebut tengah dipenuhi krisis ekologis, ketegangan geopolitik, serta perkembangan teknologi—khususnya AI.
Pembuka konser dibawakan Maria Jessa Tiffany, alumnus Integrated Arts UNPAR, melalui karya Human Disarray ciptaan Nathan Budiman. Pertunjukan ini melibatkan enam penari dari Mataya Project. Karya tersebut menggambarkan kehidupan manusia modern yang repetitif dan terasing dalam sistem kapitalisme, lewat perpaduan musik orkestra dan gerak tubuh penari yang berlari, melompat, serta bergerak di antara panggung dan penonton.
Secara musikal, Human Disarray menonjolkan ritme mekanistis dan pengulangan bunyi yang merepresentasikan rutinitas, kelelahan kolektif, burnout, serta hilangnya makna hidup. Tarian para penampil juga disajikan sebagai simbol keterasingan sekaligus perlawanan terhadap sistem yang digambarkan dalam karya.
Penampilan berikutnya, The Subjugation of the Subhumans of Dili karya Ranggalih Hadi yang dipimpin Gregorius Gerald Pratomo, mengangkat kekerasan pada masa pendudukan Indonesia di Timor Timur pada 1975–1999. Komposisi ini terinspirasi dari kesaksian korban dalam berbagai dokumenter, dengan nuansa mencekam yang dibangun lewat dentuman snare menyerupai parade militer dan integrasi motif musik Dies Irae, Indonesia Raya, serta lagu kebangsaan Timor Leste, Pátria.
Dalam bagian ini, visual perang ditampilkan di layar besar, termasuk gambar Presiden Prabowo Subianto yang disebut pernah bertugas dalam operasi militer di Timor Timur.
Selain dua karya tersebut, konser juga menghadirkan komposisi lain, yakni Closer Than Ever, Blinded War, TAHAP, The Music of Living, Concerto Delle Piante, Forest of the Forsaken, Nibiru I. Akkadian Myth, dan Code 2. Tema yang diangkat berkisar pada isu sosial, politik, lingkungan, hingga masa depan manusia.
Salah satu penampilan yang menyita perhatian adalah kolaborasi Parchestra dengan duo elektronik Bottlesmoker dalam karya Concerto Delle Piante. Anggung Suherman dan Ryan Adzani membawa tujuh tanaman dari area kampus untuk dijadikan bagian dari pertunjukan. Tanaman-tanaman itu dihubungkan dengan perangkat plant wave yang menerjemahkan aktivitas biologis tumbuhan menjadi sinyal musik.
Komposisi yang dipimpin Katarina Ningrum tersebut menempatkan tumbuhan bukan sekadar latar kehidupan, melainkan bagian dari interaksi. “Tanaman ketika dia diam seperti ini banyak sekali pergerakan di dalam tubuhnya yang memang tidak terlihat,” ujarnya. Menurutnya, perangkat itu memungkinkan tanaman “memilih” nada, skala, dan ritme melalui sinyal listrik yang diterjemahkan menjadi suara. “Jadi tanaman ikut bermain bersama teman-teman orkestra di sini memilih kunci nadanya tersendiri juga yang tergantung dengan dia mau bermain di nada apa dan lain sebagainya,” lanjutnya. Pertunjukan ini sekaligus menjadi ajakan untuk melihat relasi manusia dan alam secara lebih setara.
Karya lain yang menonjol adalah TAHAP karya Faturrachman Rizal yang dibawakan Kasih Karunia Indah, alumnus Integrated Arts UNPAR angkatan 2020. Judul TAHAP merupakan singkatan dari Transhuman Algorithmic Human Assimilation Protocol. Karya ini membahas proses hilangnya individualitas manusia akibat industrialisasi dan sistem teknologi.
Penampilan TAHAP dibagi dalam tiga fase: Eden, saat manusia dan alam hidup harmonis; Industrial Revolution, ketika industrialisasi merusak keseimbangan dan menyeret manusia ke siklus hidup repetitif; serta Protocol Completed, fase kehampaan ketika kekacauan berhenti dan manusia perlahan menghilang dari sistem. Pada bagian akhir, satu per satu pemain meninggalkan panggung hingga menyisakan ruang kosong.
Kasih mengatakan dirinya terus belajar menjadi pengaba sejak 2023 dan mengaku sempat mengalami kegagalan dalam sejumlah penampilan awal. “Dan sampai saat ini saya terus belajar,” terangnya. Menurutnya, karya tersebut berbicara tentang manusia yang makin kehilangan individualitas dan akhirnya terjebak dalam sistem.
Direktur musik Parchestra, Gregorius Gerald Pratomo, menyebut tema Pascahumana berangkat dari pertanyaan mengenai posisi manusia di tengah perkembangan zaman. Ia mengungkapkan pertanyaan mendasar yang melatarinya: apakah manusia masih menjadi pusat dari semesta. Menurutnya, konser ini mencoba mempertemukan isu kerusakan lingkungan, trauma sejarah, dan perkembangan teknologi dalam satu panggung pertunjukan.
Dalam konser tersebut, AI juga digunakan sebagai orator. Gerry mengatakan penggunaan teknologi itu dimaksudkan untuk mempertemukan unsur manusiawi dalam musik dengan perkembangan teknologi digital. “Setelah menyaksikan ini justru malah bisa semakin merefleksikan… sendiri bagaimana kita sebagai manusia harus bersikap,” tutupnya.
Melalui Pascahumana, Parchestra mengajak penonton merefleksikan cara manusia menghadapi persoalan sosial, lingkungan, dan teknologi di masa kini.