Menjelang peringatan World Allergy Week 2026, isu Alergi Protein Susu Sapi (APSS) pada anak kembali menjadi perhatian. Mengusung tema global “Allergy Care is Essential Care”, Sarihusada memperkuat inisiatif SADAR Alergi (Skrining Awal dan Asupan Rekomendasi Alergi) untuk mendorong penanganan yang tepat sejak dini.
Inisiatif tersebut juga ditujukan untuk mengurangi kebiasaan sebagian orang tua yang melakukan diagnosis mandiri (self-diagnosis) tanpa konfirmasi medis. Praktik ini dinilai berisiko karena dapat mengarah pada penanganan yang tidak sesuai dan berdampak pada tumbuh kembang anak.
Sarihusada menekankan bahwa alergi susu sapi bukan sekadar keluhan ringan seperti ruam atau diare. Berdasarkan data klinis, keterlambatan deteksi dan penanganan APSS yang tidak tepat dapat berdampak pada kondisi psikologis, beban finansial keluarga, hingga memicu masalah gizi kronis.
Medical and Scientific Affairs Director Sarihusada, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, mengatakan tata laksana alergi susu sapi yang keliru dapat memengaruhi kecukupan asupan yang dibutuhkan anak untuk tumbuh kembang optimal. “Dalam jangka panjang, hal ini dapat berujung pada stunting. Studi menemukan risiko stunting mencapai hingga 24% pada kelompok anak alergi protein susu sapi,” ujarnya pada Kamis, 11 Juni 2026.
Sementara itu, Dokter Spesialis Anak Subspesialis Alergi Imunologi Konsultan, dr. Molly Dumakuri Oktarina, Sp.A, Subsp.A.I (K), menjelaskan penanganan APSS bersifat personal dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing anak. Bila ASI eksklusif memerlukan tambahan karena indikasi medis, dokter dapat merekomendasikan formula khusus.
Ia menyebutkan, untuk gejala ringan hingga sedang, susu formula terhidrolisa ekstensif (eHF) atau formula soya dapat menjadi pilihan. Adapun formula asam amino (AAF) digunakan untuk kasus alergi yang tergolong berat.