Jakarta — Sarihusada memperkuat inisiatif SADAR Alergi (Skrining Awal dan Asupan Rekomendasi Alergi) untuk meningkatkan edukasi, deteksi dini, serta penanganan alergi protein susu sapi (APSS) pada anak. Penguatan program ini dilakukan bertepatan dengan peringatan World Allergy Week 2026 yang diinisiasi World Allergy Organization, dengan tema “Allergy Care is Essential Care”.
Alergi susu sapi disebut masih menjadi tantangan kesehatan bagi banyak keluarga. Mengacu pada Asia Pacific Journal of Clinical Nutrition (2025), prevalensi alergi susu sapi secara global berada pada kisaran 2% hingga 7,5%. Sementara Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat angka kejadian di Indonesia dapat mencapai 7,5%.
Healthcare Nutrition Director Sarihusada, Vera Saw, mengatakan inisiatif SADAR Alergi diarahkan untuk membantu orang tua mendapatkan akses informasi yang kredibel dan relevan mengenai alergi susu sapi pada anak. Ia menilai gejala alergi susu sapi kerap menyerupai kondisi umum lainnya, sehingga berpotensi menimbulkan keterlambatan penanganan.
“Kami terus memperkuat inisiatif SADAR Alergi untuk mendorong pentingnya edukasi, konsultasi dengan dokter spesialis anak serta dukungan nutrisi yang tepat bagi anak dengan alergi susu sapi,” kata Vera dalam acara Sadari Gejala Alergi “Waspadai Alergi Susu Sapi Sejak Dini” di Jakarta, Kamis (11/6).
Vera juga menyoroti masih adanya tantangan berupa self-diagnosis oleh orang tua berdasarkan informasi yang beredar, tanpa evaluasi medis yang memadai. Menurutnya, kolaborasi antara orang tua, tenaga kesehatan, serta edukasi berbasis sains diperlukan untuk menjaga kebutuhan nutrisi dan tumbuh kembang anak.
Dalam pelaksanaan program, Sarihusada melibatkan tenaga kesehatan dan pakar medis. Dokter Spesialis Anak Subspesialis Alergi Imunologi Konsultan, dr. Molly Dumakuri Oktarina Sp.A, Subsp.A.I (K), menyampaikan bahwa setiap anak dengan alergi susu sapi memerlukan pendekatan yang berbeda sesuai kondisi klinisnya.
Ia menegaskan ASI tetap menjadi sumber nutrisi terbaik bagi anak. Namun, pada kondisi tertentu yang membutuhkan tambahan nutrisi, pemilihan formula perlu berdasarkan rekomendasi dokter anak. Menurutnya, pilihan dapat berupa formula terhidrolisa ekstensif (EHF), amino acid formula (AAF), maupun formula berbasis soya, sesuai kebutuhan masing-masing anak.
“Karena tidak semua formula cocok untuk setiap anak, sehingga seluruh proses mulai dari diagnosis serta pemilihan nutrisi perlu dilakukan di bawah pengawasan dokter anak agar kebutuhan nutrisi dan tumbuh kembang anak tetap terjaga,” ujar dr. Molly.
Medical and Scientific Affairs Director Sarihusada, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, mengatakan penanganan alergi susu sapi yang tidak tepat dapat memengaruhi kecukupan nutrisi yang dibutuhkan anak selama masa pertumbuhan. Ia menyebut sejumlah studi menunjukkan risiko stunting pada anak dengan alergi protein susu sapi dapat mencapai 24%, serta dapat berdampak pada kualitas hidup anak dan keluarga.
Untuk mendukung deteksi dini, Sarihusada juga mengembangkan alat bantu digital bersama para ahli yang ditujukan membantu tenaga kesehatan mengidentifikasi gejala alergi susu sapi lebih cepat dan tepat. “Selain itu, kami berinisiatif mengembangkan alat bantu digital bersama para ahli untuk membantu tenaga kesehatan mendeteksi lebih awal gejala alergi susu sapi dengan lebih tepat,” kata Ray.
Selain edukasi, Sarihusada turut berkolaborasi dengan Alodokter dalam menyediakan layanan konsultasi gratis dengan dokter anak selama rangkaian World Allergy Week 2026. Melalui kolaborasi tersebut, orang tua diharapkan dapat memperoleh informasi dan arahan medis terkait alergi susu sapi sejak dini agar penanganan sesuai dengan kondisi anak.
Melalui penguatan inisiatif SADAR Alergi, Sarihusada menyatakan upayanya untuk memperluas akses edukasi kesehatan berbasis sains, sekaligus mendukung orang tua dalam memahami pentingnya deteksi dini, konsultasi medis, dan pemenuhan nutrisi yang tepat bagi anak dengan alergi susu sapi.