BERITA TERKINI
Sarihusada Perkuat Inisiatif SADAR Alergi Jelang World Allergy Week 2026

Sarihusada Perkuat Inisiatif SADAR Alergi Jelang World Allergy Week 2026

Sarihusada memperkuat inisiatif SADAR Alergi (Skrining Awal dan Asupan Rekomendasi Alergi) menjelang World Allergy Week 2026 yang diinisiasi World Allergy Organization dengan tema “Allergy Care is Essential Care”. Penguatan inisiatif ini ditujukan untuk mendorong edukasi, konsultasi dengan dokter spesialis anak, serta dukungan nutrisi yang tepat bagi anak dengan alergi susu sapi.

Langkah tersebut sekaligus menjadi pengingat pentingnya penanganan alergi yang tepat sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas hidup serta mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

Healthcare Nutrition Director Sarihusada, Vera Saw, mengatakan inisiatif SADAR Alergi diharapkan dapat membantu orang tua memperoleh akses terhadap informasi yang kredibel dan relevan. Ia menyoroti alergi susu sapi masih menjadi tantangan yang kerap dihadapi orang tua, terutama karena gejalanya sering disalahartikan sebagai kondisi umum sehingga berisiko menyebabkan keterlambatan penanganan.

Di tengah banyaknya informasi yang beredar, tantangan lain yang muncul adalah praktik swadiagnosis tanpa konsultasi medis yang tepat. Karena itu, kolaborasi antara orang tua, tenaga kesehatan, dan edukasi berbasis sains dinilai penting untuk menjaga kecukupan nutrisi dan mendukung tumbuh kembang anak.

Secara klinis, alergi protein susu sapi dapat memunculkan gejala dengan tingkat yang berbeda pada setiap anak, mulai dari ringan, sedang, hingga berat. Perbedaan ini bergantung pada jenis dan intensitas gejala serta respons tubuh terhadap protein susu sapi. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kenyamanan anak, termasuk mengganggu asupan nutrisi dan kualitas tidur akibat ketidaknyamanan yang ditimbulkan. Apabila tidak terdiagnosis dan ditangani dengan tepat, dalam jangka panjang kondisi ini berpotensi memengaruhi tumbuh kembang anak.

Dokter spesialis anak subspesialis alergi imunologi konsultan, dr. Molly Dumakuri Oktarina Sp.A, Subsp.A.I(K), menekankan penanganan alergi susu sapi perlu dilakukan secara terarah berdasarkan evaluasi medis. Menurutnya, setiap anak memiliki kondisi yang berbeda sehingga pendekatan penanganannya tidak bisa disamaratakan.

Dr. Molly menyampaikan ASI merupakan nutrisi terbaik bagi anak, termasuk pada anak dengan alergi protein susu sapi. Namun, ia menyebut ibu perlu menghindari konsumsi susu sapi dan produk turunannya sebagai bagian dari penanganan.

Pada anak yang memerlukan asupan tambahan karena indikasi medis tertentu, pemilihan nutrisi perlu disesuaikan berdasarkan rekomendasi dan pemantauan dokter anak. Dr. Molly menjelaskan, formula terhidrolisa ekstensif (EHF) dapat digunakan untuk alergi ringan hingga sedang. EHF berbasis whey disebut memiliki tingkat toleransi tinggi serta rasa yang lebih dapat diterima sehingga dapat mendukung kepatuhan konsumsi anak.

Selain itu, formula soya dapat menjadi alternatif apabila terdapat kendala biaya atau ketersediaan EHF untuk alergi ringan hingga sedang. Sementara amino acid formula (AAF) dapat diberikan pada kondisi alergi yang lebih berat atau ketika kondisi tidak dapat ditangani dengan EHF.

Dr. Molly mengingatkan susu terhidrolisat parsial (PHF) bukan pilihan untuk terapi alergi susu sapi. Ia menegaskan tidak semua formula cocok untuk setiap anak, sehingga proses diagnosis dan pemilihan nutrisi perlu dilakukan di bawah pengawasan dokter anak agar kebutuhan nutrisi dan tumbuh kembang tetap terjaga.

Dalam keterangan yang sama, disebutkan formula berbasis asam amino dapat membantu meredakan gejala alergi secara cepat dengan risiko reaksi alergi yang sangat minimal. Sementara formula berbasis soya juga dapat menjadi alternatif dengan tetap memastikan asupan nutrisi penting seperti omega-3 dan omega-6, AA dan DHA, minyak ikan tuna, zat besi, serta vitamin C guna mendukung tumbuh kembang.

Menghadapi alergi susu sapi pada anak kerap menjadi tantangan bagi orang tua, mulai dari mengenali gejala, mencari informasi yang tepat, hingga memastikan asupan gizi agar tumbuh kembang tetap optimal. Apabila anak menunjukkan reaksi setelah minum susu, konsultasi dan pemantauan berkelanjutan diperlukan untuk memahami kondisi dan menentukan penanganan yang sesuai.