BERITA TERKINI
Sarasehan PPN XIV Aceh 2026 Bahas Sastra Klasik dan Penguatan Sistem Pelestarian Budaya

Sarasehan PPN XIV Aceh 2026 Bahas Sastra Klasik dan Penguatan Sistem Pelestarian Budaya

BIREUEN — Sarasehan Karya Sastra Klasik Aceh yang digelar dalam rangka Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV Aceh 2026 menjadi ruang refleksi mengenai sejarah, identitas, dan masa depan sastra Aceh. Forum ini menghadirkan pandangan budayawan, akademisi, dan pelaku seni tentang posisi sastra klasik yang tidak hanya dipahami sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan dan pembentuk peradaban.

PPN XIV Aceh merupakan forum yang mempertemukan penyair dari berbagai daerah dan negara dengan tujuan memperkuat ekosistem sastra dan kebahasaan. Sarasehan dipandu Muhammad Deputra sebagai pewara sekaligus moderator, yang mengarahkan diskusi dengan mengangkat isu sastra klasik Aceh, pelestarian budaya, serta tantangan kebudayaan di era modern.

Dalam paparannya, Tengku Afif menjelaskan istilah “klasik” dalam sejarah kebudayaan kerap terkait dengan kerajaan. Ia menyebut sastra klasik lahir dan berkembang dalam ruang kehidupan kerajaan, baik melalui tulisan maupun tradisi lisan. Tengku Afif mencontohkan surat Sultan Iskandar Muda sebagai gambaran kekuatan bahasa sastra klasik Aceh yang memiliki nilai diplomasi, kewibawaan, dan identitas politik pada masanya.

Menurutnya, karya seperti hikayat tidak hanya berfungsi sebagai bacaan, melainkan juga menjadi media penyimpanan sejarah, pembangun semangat masyarakat, serta sarana penyampaian nilai kehidupan. Ia menekankan bahwa sastra klasik berkaitan dengan cara sebuah masyarakat menyimpan ingatan dan membentuk pola pikirnya.

Tengku Afif juga menyoroti bahwa sastra klasik Aceh tidak hanya hadir dalam teks tertulis, tetapi turut hidup melalui tradisi tutur. Berbagai seni pertunjukan dan cerita rakyat disebutnya berkembang dari akar sejarah panjang, lalu mengalami perubahan bentuk seiring perkembangan zaman.

Ia menjelaskan, kemodernan dalam sastra bukan semata kemampuan mengikuti teknologi atau bahasa global, melainkan kemampuan menghasilkan karya yang kritis terhadap kehidupan. Terkait teknologi kecerdasan buatan (AI), Tengku Afif menilai teknologi dapat menjadi alat pendukung kreativitas, namun tidak menggantikan fondasi berpikir manusia. Menurutnya, AI akan menghasilkan sesuatu yang kuat apabila digunakan oleh manusia yang memiliki pengetahuan, pengalaman, dan daya pikir yang matang.

Sementara itu, Syeh Mulyadi selaku Ketua Harian Dewan Kesenian Kabupaten Bireuen menekankan pentingnya sistem kebudayaan yang kuat agar seni dan sastra dapat bertahan. Ia menyampaikan perlunya ruang khusus bagi kebudayaan dalam pemerintahan daerah, baik melalui bidang kebudayaan dalam struktur pemerintahan, dewan kesenian, maupun komunitas seni.

Menurut Syeh Mulyadi, kebudayaan membutuhkan lembaga serta sumber daya manusia yang memahami nilai seni agar tidak mudah hilang oleh perubahan zaman. Ia juga menyampaikan harapan agar forum seperti sarasehan sastra dapat melahirkan rekomendasi nyata bagi pemerintah dan masyarakat dalam memperkuat pelestarian budaya.

Diskusi dalam sarasehan tersebut menegaskan bahwa sastra Aceh dipandang bukan sekadar warisan sejarah, melainkan energi budaya yang terus hidup. Melalui pendidikan, komunitas, teknologi, serta kebijakan kebudayaan yang kuat, sastra Aceh diharapkan tetap menjadi bagian penting dalam peradaban Nusantara.