Festival Samosir Music International (SMI) 2026 dijadwalkan berlangsung pada 2–4 Juli 2026 di Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. Masuk dalam jajaran Kharisma Event Nusantara (KEN), festival ini menggabungkan unsur musik, budaya, olahraga, serta pemberdayaan masyarakat sebagai bagian dari upaya memperkuat posisi Danau Toba sebagai destinasi pariwisata prioritas Indonesia.
Penyelenggaraan SMI 2026 melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, komunitas seni, pelaku ekonomi kreatif, UMKM, hingga masyarakat setempat. Warga lokal disebut berperan aktif dalam rangkaian kegiatan sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan.
Inisiator Samosir Music International, Henry Manik, menyampaikan bahwa festival ini tidak hanya dirancang sebagai ajang hiburan, tetapi juga sebagai ruang kolaborasi yang diharapkan memberi dampak bagi masyarakat. Ia menyebut keterlibatan warga ditujukan untuk menggerakkan perekonomian, membuka peluang bagi pelaku UMKM, sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada masyarakat internasional.
Salah satu sorotan SMI 2026 adalah tingginya partisipasi masyarakat dalam berbagai program, seperti pertunjukan seni, tari kolosal, keterlibatan sanggar budaya, hingga dukungan operasional acara. Festival juga menghadirkan komunitas seni dari Papua Selatan yang akan menampilkan tari dan musik tradisional, sekaligus memperkenalkan produk ekonomi kreatif melalui area pameran. Kehadiran mereka disebut memperkuat semangat pertukaran budaya yang menjadi salah satu fokus SMI 2026.
Pelaksana Tugas Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT), Arditama Nusantara Putra, menilai Samosir Music International berperan dalam memperkuat ekosistem pariwisata di kawasan Danau Toba. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku industri kreatif menjadi kunci untuk meningkatkan daya tarik destinasi.
Ia juga menyampaikan bahwa, sejalan dengan arahan Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, penyelenggaraan event daerah diharapkan tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi turut menggerakkan sektor pariwisata dan ekonomi lokal sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Selama tiga hari, SMI 2026 akan menghadirkan agenda yang memadukan budaya, musik, olahraga, dan kegiatan sosial. Hari pertama dibuka dengan ritual adat Batak yang dipimpin Lembaga Adat Batak Samosir. Kegiatan dilanjutkan dengan layanan kesehatan gratis bagi masyarakat serta pertunjukan seni budaya. Rangkaian acara pada hari pembuka disebut dapat dinikmati masyarakat tanpa dipungut biaya.
Pada hari kedua, festival diawali dengan pertunjukan tortor massal yang melibatkan masyarakat di kawasan Tuktuk. Malam harinya, panggung utama dijadwalkan menampilkan Lyodra, Style Voice, Dorman Manik, Rani Simbolon, Saut Situmorang, dan Ogar Nababan.
Hari terakhir dibuka dengan SMI Run yang diikuti sekitar 700 peserta. Malam penutupan akan diisi kolaborasi musisi nasional dan internasional, di antaranya Punkgoaran, Bermarga, Maite Hontelé y La Novia dari Belanda, Alsant Nababan, serta Viky Sianipar Band yang akan tampil bersama musisi asal Jerman dan Inggris. Sejumlah musisi lokal juga dijadwalkan turut tampil.
Menjelang pelaksanaan festival, antusiasme mulai terlihat dari meningkatnya tingkat hunian hotel dan berbagai akomodasi di kawasan Tuktuk dan sekitarnya. Kondisi ini diharapkan berdampak positif bagi sektor perhotelan, transportasi, kuliner, hingga pelaku UMKM di Kabupaten Samosir.
Melalui penyelenggaraan sebagai bagian dari Kharisma Event Nusantara, Samosir Music International diharapkan terus berkembang sebagai ajang kolaborasi budaya yang memperkuat ekosistem ekonomi kreatif sekaligus memperluas promosi Danau Toba di tingkat nasional maupun internasional.