BERITA TERKINI
Saat Koleksi Musik Fisik Kian Jarang: Rasa Memiliki yang Memudar di Era Streaming

Saat Koleksi Musik Fisik Kian Jarang: Rasa Memiliki yang Memudar di Era Streaming

Heirlambang Jaluardi (44) mengaku tak lagi bisa menghitung jumlah piringan hitam yang dimilikinya. Hobi mengoleksi musik telah memenuhi sebagian ruang di rumahnya. Selama lebih dari satu dekade, Hei—sapaan akrabnya—mengalami perubahan cara menikmati musik: dari membeli rilisan fisik, beralih menyimpan berkas digital, hingga akhirnya berlangganan layanan streaming.

Hei mulai membeli kaset sejak sekolah dasar, saat membeli kaset menjadi satu-satunya cara untuk mendengarkan musik. Kebiasaan itu tetap ia pertahankan meski kini streaming menjadi cara paling umum menikmati musik. Baginya, membeli rilisan fisik adalah bentuk apresiasi terhadap karya musisi.

Menurut Hei, perbedaan terbesar antara format analog dan digital terletak pada rasa memiliki. Dulu, musik bukan hanya didengarkan, tetapi juga bisa disentuh, dibaca melalui booklet, dan dinikmati lewat artwork album. “Kalo streaming doang kayak ya gak punya apa-apa. Padahal ya kita langganan kayak Apple Music tuh berapa, Rp59.000 kalau enggak salah sebulan… tapi gue jadi enggak ngerasa punya,” katanya dalam wawancara telepon, 18 Juni.

Peralihan Hei ke format digital dimulai pada 2008, ketika ia membeli iPod dari gaji pertamanya sebagai jurnalis. Perangkat itu ia gunakan hingga 2015. Meski tak lagi memegang bentuk fisik album, ia masih merasa memiliki musik karena menyimpan berkas lagu yang diunduh dari internet.

Namun pada 2015, kebutuhan pekerjaan membuatnya mulai berlangganan layanan streaming. Ia menyebut dirinya termasuk terlambat beralih. “Karena dulu kebutuhan liputan juga. Jadi banyak band yang ngasih link demo-nya ke platform layanan streaming, waktu itu ya jadi gue langganan,” ujarnya.

Hei menilai kemudahan streaming ikut mengubah pengalaman mendengarkan musik. Ia merasa lebih sulit mengingat lagu dibanding saat mendengarkan album secara utuh dalam format fisik. Perubahan lain yang paling ia rasakan adalah hilangnya kebiasaan membaca lirik di booklet. “Nah itu apa yang hilang dari digital itu kata gue sih baca-baca liriknya itu sih. Walaupun sebenarnya di digital ada lirik ya. Tapi gue masih belum biasa untuk baca lirik di DSP (digital streaming platform),” tuturnya.

Pengalaman serupa disampaikan Nuran Wibisono (39). Saat beralih ke format digital, ia merasakan pengalaman mendengarkan musik menjadi lebih bergantung pada koneksi internet dan layanan yang digunakan. Berbeda dengan kaset atau CD yang dapat diputar kapan saja, akses musik digital bisa terhenti ketika pengguna tidak memiliki internet atau akun. “Aku merasa bahwa itu tadi ada sense of belonging yang membuat aku bisa memutar ini kapan aja meskipun aku gak punya internet atau meskipun aku gak punya akun,” kata Nuran dalam wawancara telepon, 25 Juni.

Nuran juga menilai kepemilikan musik di era digital lebih rapuh. Lagu bisa hilang dari layanan streaming ketika musisi menarik katalognya. Pengguna pun kehilangan akses jika berhenti berlangganan atau menutup akun. “Aku menyimpan semua lagu kesukaanku. Ketika suatu hari nanti aku ternyata mau menutup akun akan hilang. Jadi semudah itu, karya yang kita sukai hilang,” ujarnya. Ia menambahkan, ketika seseorang memutuskan tidak berlangganan, kenyamanan yang sama ikut hilang dan pengguna harus kembali mendengarkan iklan.

Kebiasaan membeli musik dalam format fisik pernah menjadi sesuatu yang lumrah. Kini, aktivitas itu kerap menuntut biaya tambahan—mulai dari membeli rilisan, perangkat pemutar, hingga ruang penyimpanan. Soni Triantono (34) bercerita, ia terbiasa mendengarkan CD di mobil sejak 2010. Album Gun N’ Roses menjadi salah satu yang paling sering ia putar di mobil milik ibunya. Meski menganggap CD bukan kebutuhan utama, ia tetap membeli rilisan fisik untuk merasakan pengalaman mendengarkan yang berbeda.

“Aku ingin tahu bagaimana pengalaman orang-orang pada era-nya mengonsumsi karya yang tadi aku anggap esensial dan berdampak, kayak album Nevermind-nya Nirvana. Jadi kayak apa sih yang mereka bisa baca di fisik albumnya, bisa mereka sentuh di fisik albumnya,” kata Soni, 25 Juni. Bagi Soni, mendengarkan album secara berurutan tanpa memilih lagu juga menjadi pengalaman yang ingin ia rasakan kembali. “Nah budaya itu juga yang ingin aku rasakan lah kira-kira gitu ya,” lanjutnya.

Namun Soni mengakui, mengoleksi musik fisik membutuhkan privilese. Selain harus membeli rilisan, kolektor juga perlu memiliki perangkat pemutar yang harganya tidak murah. “Aku setuju sih kalo dibilang memang. Ya, di sini sesederhana bahwa kalo kamu beli rilis-rilisan fisik pasti kamu harus punya pemutarnya dan pemutarnya tuh rata-rata juga gak murah gitu kan,” ujarnya.

Karena itu, ia memiliki pertimbangan khusus sebelum membeli album. Soni mengoleksi karya teman-temannya, serta album yang menurutnya memiliki nilai penting dan berpotensi bertahan lama. Ia mencontohkan CD terakhir yang dibelinya, album Perunggu berjudul Dalam Dinamika, yang ia beli beberapa bulan setelah rilis untuk mengukur apakah album tersebut akan memiliki nilai “timeless”.

Sementara itu, Hei dan Nuran menilai mengoleksi piringan hitam tak hanya membutuhkan biaya untuk membeli turntable, tetapi juga ruang penyimpanan yang memadai. Rak penyimpanan milik Hei bahkan sudah tidak lagi cukup sehingga piringan hitam kini memenuhi berbagai sudut rumah. “Kalau misalnya gue masih anak indekos yang setiap tahun atau dua tahun sekali pindah indekos gitu. Nggak mungkin, nggak mungkin gue lakukan ngoleksi vinyl,” kata Hei.

Nuran menegaskan, ruang menjadi faktor yang ikut menentukan apakah seseorang bisa mengoleksi musik fisik. “Kalau misalkan orang yang ngontrak atau ngekos, mungkin akan berpikir dua kali untuk koleksi musik fisik dengan segala perangkatnya itu. Karena mereka nggak punya privilege berupa ruang,” ujarnya.