BERITA TERKINI
Saat Algoritma Ikut Menentukan Musik yang Kita Dengarkan

Saat Algoritma Ikut Menentukan Musik yang Kita Dengarkan

Menekan tombol “putar” telah menjadi kebiasaan sehari-hari: saat baru bangun, di bus yang padat, hingga ketika mengerjakan pekerjaan rumah. Namun di balik tindakan yang tampak sederhana itu, muncul pertanyaan yang lebih rumit: siapa yang sebenarnya memilih musik untuk mengiringi hidup kita—kita sendiri, atau algoritma kecerdasan buatan (AI) yang mempelajari kebiasaan mendengarkan secara diam-diam?

Pertanyaan soal kendali ini bukan hal baru. Pada akhir 1990-an, sosiolog Amerika Tia DeNora mengangkat tema serupa lewat wawancara terhadap 52 perempuan kelas menengah untuk bukunya Music in Everyday Life (2000). DeNora tidak berhenti pada jawaban umum seperti “musik menggerakkan saya”, melainkan menelusuri apa yang benar-benar dilakukan orang dengan musik dalam rutinitas mereka.

Temuannya menunjukkan penggunaan yang beragam: musik dipakai untuk menambah energi di pagi hari, membantu relaksasi sebelum tidur, meningkatkan fokus saat bekerja, meredakan ketidaknyamanan di kereta bawah tanah, hingga menjadi sarana mengenang orang yang telah meninggal. Menurut DeNora, ada benang merah dari praktik tersebut, yakni keyakinan bahwa musik memiliki “kekuatan transformatif” yang hampir mutlak. Ia menyebut kebiasaan mendengarkan musik secara pribadi sebagai bentuk “terapi diri”, karena membantu orang membentuk keadaan diri sesuai yang diinginkan.

Kemampuan untuk “mengarahkan” emosi melalui musik ikut berkembang seiring kemajuan teknologi. Sebelum abad ke-19, cara mendengarkan musik terbatas pada memainkan atau menyanyikannya sendiri, atau mendatangi tempat-tempat yang menyediakan pertunjukan. Setelah gramofon ditemukan pada 1877, musik mulai masuk ke rumah dan dapat diputar ulang.

Le Monde mengangkat anekdot dari penulis Prancis Henri Béraud. Dalam artikel tahun 1932, Béraud bercerita pernah menonton Werther secara langsung dan menganggapnya membosankan. Namun ketika mendengarnya kembali lewat rekaman, ia merasakan karya yang sama itu seperti sesuatu yang berbeda. Rekaman membuat musik dapat dinikmati berulang kali, terlepas dari konteks penciptaannya.

Perubahan besar berikutnya datang pada 1979, ketika Walkman buatan Sony membuat pengalaman mendengarkan musik semakin personal. Peneliti Inggris Michael Bull menggambarkannya sebagai perangkat yang membawa pendengar ke dalam “kepompong sunyi”, memberi kebebasan memilih lagu tanpa banyak dipengaruhi lingkungan keluarga atau kelompok. Pakar musik Jepang Shuhei Hosokawa, dalam artikel tahun 1984 di majalah Popular Music, menyebut setiap sesi mendengarkan lewat Walkman sebagai “peristiwa musik yang unik, portabel, dan personal”—bahkan perjalanan belanja bahan makanan pun dapat terasa menjadi pengalaman pribadi yang menyenangkan.

Di era streaming, musik kian mendominasi keseharian. Survei Kementerian Kebudayaan Prancis yang dikutip Le Monde mencatat, pada 1973 hanya 9% warga Prancis yang mendengarkan musik setiap hari, sedangkan kini angkanya meningkat menjadi 57%. Di Inggris, The Guardian melaporkan streaming musik online telah mencakup 85% pasar musik. Sementara itu, menurut Financial Times, pendapatan iklan Spotify diperkirakan kurang dari 12% dari total pendapatannya pada pertengahan 2025, yang menunjukkan porsi besar keuntungan berasal dari pengguna berbayar.

Namun, jika Walkman pernah memberi pendengar kendali besar atas pilihan musik, platform streaming modern dinilai mengambil kembali sebagian kendali itu lewat cara yang lebih halus. Le Monde mengutip sejarawan seni Valentina Tanni, dosen di Universitas John Cabot di Roma, yang menilai perusahaan teknologi seperti Apple dan platform seperti Deezer serta Spotify mengambil langkah penting dengan mengubah suasana hati menjadi kategori produk yang dapat dipasarkan.

Kata kunci seperti “Relaksasi”, “Sedih”, atau “Fokus” kini menjadi kategori pencarian. Daftar putar pun disebut telah menggantikan album sebagai bentuk mendengarkan yang paling populer. Menurut Tanni, algoritma rekomendasi melangkah lebih jauh: mempelajari kebiasaan pengguna, mengantisipasi kebutuhan, dan menciptakan “atmosfer” yang dipersonalisasi bahkan sebelum pendengar sempat memikirkan apa yang ingin didengar.

Dalam artikel yang sama, sosiolog Raphaël Nowak, dosen di Universitas York, Inggris, menyebut platform juga memanfaatkan data lokasi untuk mengetahui apa yang didengarkan pengguna, di mana mereka berada, dan pada jam berapa. Tujuannya, menurut Nowak, telah bergeser dari memprediksi selera estetika menjadi memprediksi perilaku. Meski demikian, ia menilai kekhawatiran tentang kendali mesin tidak sepenuhnya beralasan, karena manusia tetap sulit ditebak—bahkan oleh diri mereka sendiri.

Optimisme tersebut tidak menghapus konsekuensi lain yang disoroti jurnalis investigatif Liz Pelly. Ia menilai, sejak awal 2010-an, Spotify menggeser fokus untuk melayani kelompok “pendengar pasif”: mereka yang hanya ingin ada suara musik pelan sepanjang hari, seperti kebiasaan menyalakan radio di pagi hari dan membiarkannya menyala.

Salah satu dampaknya adalah munculnya genre musik yang oleh pelaku industri disebut “Spotifycore”: musik yang dibuat agar cocok untuk semua orang dan semua situasi, tetapi pada akhirnya tidak benar-benar menjadi milik siapa pun. Pelly juga menyoroti banyak daftar putar yang dipenuhi konten “sangat cocok”—musik latar murah yang diproduksi massal oleh musisi tak dikenal dengan nama artis yang tidak nyata.

Dengan begitu, cerita tentang menekan tombol “putar” bukan lagi semata soal menenangkan diri, seperti yang digambarkan DeNora tiga dekade lalu. Kini, pertanyaannya melebar: ketika musik semakin terintegrasi dengan teknologi dan rekomendasi otomatis, siapa—atau apa—yang pada akhirnya menjadi konduktor dalam simfoni kehidupan sehari-hari?