BERITA TERKINI
Refleksi Editor dalam Penyusunan Buku Seni, Sastra, dan Budaya Lokal untuk Prof Haris Supratno

Refleksi Editor dalam Penyusunan Buku Seni, Sastra, dan Budaya Lokal untuk Prof Haris Supratno

Arus globalisasi dan pragmatisme pendidikan kerap dinilai mendorong pengetahuan bergerak ke arah yang seragam, sementara kekayaan budaya lokal berisiko terpinggirkan. Pertanyaan tentang arah pengembangan ilmu pengetahuan itulah yang mengemuka dalam refleksi Much. Khoiri saat dipercaya menjadi salah satu editor buku Seni, Sastra, dan Budaya Lokal: Pendekatan Multi-, Inter-, dan Transdisipliner (Unesa University Press, 2025).

Buku setebal 562 halaman tersebut disusun sebagai antologi tulisan ilmiah sekaligus persembahan dari puluhan kontributor kepada Prof Dr Haris Supratno dalam rangka purnatugas. Khoiri menyebut proses editorial yang dijalani sebagai bagian dari upaya meneruskan semangat “menyalakan lilin ilmu” yang, menurutnya, diwariskan oleh sang guru besar.

Dalam proses penyusunan, tim editor menghadapi tantangan untuk merangkai puluhan naskah lintas disiplin—mulai dari sosiologi, antropologi, psikologi, linguistik, hingga pedagogi—agar menjadi buku yang utuh, bukan sekadar kumpulan artikel yang berdiri sendiri. Untuk menjaga koherensi, buku kemudian dibagi menjadi tiga bagian utama.

Bagian pertama memuat pembahasan tentang Sosiologi Seni, Sosiologi Sastra, dan Psikologi Sastra. Bagian kedua berisi kajian Antropologi Seni, Antropologi Sastra, Antropolinguistik, serta Psikolinguistik. Bagian ketiga mengangkat etnopedagogi dan pendidikan karakter berbasis budaya lokal. Menurut Khoiri, struktur tersebut dipilih agar selaras dengan dorongan Prof Haris kepada para muridnya untuk melampaui sekat-sekat disiplin.

Khoiri juga menyoroti pengalaman menemukan tema-tema yang sangat kontekstual dalam naskah yang disuntingnya. Ia menyebut, antara lain, tulisan tentang waranggana (penari tayub) profesional bernama Darsini, serta artikel mengenai peran domestik perempuan ludruk di Jember yang dipaparkan sebagai unsur strategis dalam keberlangsungan seni tradisi. Bagi Khoiri, kajian semacam ini memperlihatkan bagaimana pengetahuan tentang seni tradisi terkait erat dengan kehidupan sehari-hari para pelaku dan keluarganya.

Selain tema, pendekatan multi-, inter-, dan transdisipliner menjadi perhatian tersendiri dalam penyuntingan. Salah satu contoh yang disebut adalah tulisan Riki Nasrullah bertajuk “Narasi, Nalar, dan Neurolinguistik” yang membaca karya Prof Haris tidak hanya sebagai teks sastra, tetapi juga sebagai proses kognitif-afektif yang berkaitan dengan otak dan emosi pembaca. Khoiri menilai pendekatan tersebut sebagai lompatan metodologis yang segar.

Contoh lain yang dicatatnya ialah kajian tentang Tari Topeng Cisalak sebagai media pendidikan karakter. Dalam pandangannya, kajian itu menunjukkan kemungkinan tarian tradisional menjadi instrumen penguatan moral yang dapat melengkapi metode pembelajaran di kelas. Dalam proses editorial, ia menyatakan berupaya menjaga agar gagasan-gagasan seperti ini tetap tajam setelah melalui penyuntingan.

Di sisi lain, Khoiri mengakui adanya tantangan khas buku antologi, terutama ketidakmerataan kualitas tulisan. Sebagian artikel dinilai kuat dari sisi teori dan data, sementara sebagian lain lebih deskriptif dan kurang tajam dalam analisis. Ia menyebut tugas editor adalah membantu penulis meningkatkan ketajaman argumentasi tanpa menghilangkan suara asli masing-masing kontributor.

Khoiri juga mencatat bahwa meskipun mengusung semangat lokal, banyak artikel masih bertumpu pada kerangka teori Barat seperti Foucault, Barthes, Lévi-Strauss, dan Lickona. Ia mempertanyakan peluang lahirnya lebih banyak konsep analitis yang digali dari kearifan lokal Nusantara—misalnya konsep “rasa” dalam budaya Jawa atau “siri’” dalam budaya Bugis—sebagai perangkat analisis yang setara. Namun, ia menilai situasi ini sebagai ruang yang masih terbuka, bukan semata kekurangan, dan melihat buku tersebut sebagai awal untuk pengembangan berikutnya.

Dalam refleksinya, Khoiri juga menjabarkan kelompok pembaca yang disasar buku itu. Ia menyebut mahasiswa sastra, bahasa, dan antropologi sebagai kelompok pertama karena buku tersebut dapat menjadi “laboratorium metode”, misalnya dalam penerapan semiotika Barthesian pada Serat Darmagandhul atau penggunaan antropologi sastra untuk membaca kepercayaan rakyat Nias dalam novel Manusia Langit.

Kelompok kedua ialah guru dan dosen, terutama di daerah, karena bagian ketiga buku memuat inspirasi bahan ajar berbasis kearifan lokal. Ia menyinggung contoh dari Kalimantan Selatan dan Toraja untuk menunjukkan gagasan bahwa pendidikan karakter dinilai lebih membumi ketika berakar pada tradisi yang dekat dengan keseharian siswa.

Kelompok ketiga adalah pemerhati budaya dan pegiat seni. Khoiri menyebut salah satu bab yang membahas adaptasi Cerita Panji di era digital, termasuk pembacaan tokoh Dewi Rengganis sebagai ikon feminisme di media sosial, sebagai contoh upaya menunjukkan relevansi seni tradisional dalam konteks kekinian.

Pada akhirnya, Khoiri menilai buku tersebut tidak hanya menjadi kado purnatugas untuk Prof Haris Supratno, tetapi juga warisan terbuka bagi pembaca yang meyakini ilmu pengetahuan tidak seharusnya terkurung dalam “menara gading”. Ia menutup refleksinya dengan menegaskan bahwa kehidupan tidak berjalan secara monodisiplin, melainkan selalu bersifat multi, inter, dan transdisipliner—sejalan dengan semangat yang ingin dihadirkan melalui buku itu.