KEDIRI — Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) 2026 digelar di Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Mojo, Kabupaten Kediri, Sabtu malam (20/6/2026). Pembukaan ditandai dengan tabuhan kentongan sebanyak sembilan kali.
Agenda tersebut dibuka oleh Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, didampingi Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf serta jajaran pengurus PBNU lainnya.
Dalam pidato pembukaan, KH Miftachul Akhyar menegaskan tiga agenda penting yang perlu diperkuat warga Nahdliyin sebagai langkah strategis untuk menjawab tantangan peradaban yang kian kompleks. Pertama, membangkitkan kembali kesadaran sosial (dhamir ijtima’i) di tengah masyarakat. Kedua, membangun opini publik yang berlandaskan moral sebagai instrumen kontrol sosial. Ketiga, memperkuat kualitas kepemimpinan yang berlandaskan semangat jihad dan ijtihad.
Menurutnya, ketiga aspek tersebut menjadi fondasi agar NU tetap mampu memainkan peran strategis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ia menilai kepemimpinan di lingkungan NU menuntut kapasitas intelektual yang memadai serta kemampuan membaca persoalan-persoalan zaman.
KH Miftachul Akhyar juga menekankan bahwa kepemimpinan tidak cukup bertumpu pada keteladanan moral, tetapi membutuhkan kecerdasan, kesungguhan, dan keluasan wawasan untuk menghadirkan solusi atas persoalan baru yang terus berkembang. “Seorang pemimpin harus memiliki kemampuan ijtihad, yaitu kecerdasan, kesungguhan, aktivitas, dan keluasan ilmu yang diperlukan untuk memberikan solusi terhadap berbagai persoalan kontemporer,” ujarnya.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang hadir dalam pembukaan menyambut baik arah kebijakan yang disampaikan Rais Aam PBNU. Khofifah menilai tema Munas-Konbes NU 2026, Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmat untuk Kemaslahatan Bangsa, relevan dengan kebutuhan penguatan peran organisasi di tengah dinamika masyarakat.
Ia menyebut menjaga marwah organisasi tidak cukup diwujudkan melalui integritas semata, tetapi perlu diterjemahkan dalam pengabdian nyata yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat. Khofifah juga menilai Munas-Konbes menjadi forum strategis untuk merumuskan pandangan keagamaan sekaligus memberi kontribusi pemikiran dalam menjawab berbagai persoalan kebangsaan.
Sebagai provinsi yang menjadi rumah bagi ribuan pondok pesantren, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, lanjut Khofifah, berkomitmen memperkuat sinergi dengan NU dalam pembangunan sumber daya manusia, pendidikan, hingga pemberdayaan ekonomi umat. Menurutnya, pesantren dan NU memiliki peran penting dalam mencetak generasi yang unggul secara intelektual, kuat secara spiritual, serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi.