Menanamkan sikap empati pada anak perlu dilakukan sejak dini, namun prosesnya tidak terjadi secara instan. Psikolog keluarga Anna Surti Ariani S.Psi., M.Si. mengatakan kemampuan menolong dan berbagi berkembang bertahap dan perlu dipraktikkan berulang kali.
Menurut Anna, anak memerlukan beberapa tahap perkembangan sebelum benar-benar memiliki kesadaran utuh untuk berbagi. Ia menyebut, pemahaman yang lebih matang biasanya baru terbentuk sekitar usia SMP, ketika anak mulai menyadari dari hati nuraninya bahwa berbuat baik memang perlu dilakukan.
Anna menjelaskan, tahap pertama umumnya terjadi pada usia pra-sekolah. Pada fase ini, anak belum berbagi berdasarkan kesadaran pribadi. Jika anak mau berbagi, hal itu lebih karena ia mengetahui tindakan tersebut akan mendapatkan pujian dari orang tua, bukan karena memahami manfaatnya bagi orang lain.
Tahap berikutnya biasanya dialami anak pada awal usia sekolah dasar. Di fase ini, anak menolong atau berbagi lebih karena merespons permintaan orang lain. Artinya, anak cenderung melakukan tindakan tersebut setelah diminta, misalnya oleh orang tua.
Dalam keseharian, anak pada rentang usia ini juga masih kerap kesulitan bersabar dan berbagi, seperti saat harus mengantre bermain atau meminjamkan mainan kepada teman. Anna mengingatkan orang tua agar tetap sabar dan tidak berhenti melatih sikap tersebut, karena kondisi itu sesuai dengan tahap perkembangan anak.
Memasuki tahap ketiga yang umumnya terjadi pada akhir usia sekolah dasar, anak mulai memandang berbagi sebagai cara untuk memperoleh sesuatu, seperti nama baik atau pujian. Setelah melewati fase-fase tersebut, barulah pada usia SMP anak cenderung lebih mampu memahami pentingnya berbuat baik atas dorongan dari dalam dirinya.
Anna menekankan, orang tua tidak perlu terburu-buru menuntut anak segera “sadar” sepenuhnya. Ia juga mengingatkan agar anak tidak dimarahi hanya karena belum menunjukkan empati seperti yang diharapkan. Menurutnya, pembiasaan sejak kecil melalui praktik yang terus-menerus akan membantu orang tua merasakan hasilnya di kemudian hari ketika anak tumbuh lebih dewasa.