Prambanan Jazz Festival (PJF) #12 menutup penyelenggaraannya setelah berlangsung selama tiga hari dengan menampilkan perpaduan musik, seni, dan budaya. Sepanjang rangkaian acara, antusiasme penonton terlihat dari hari pertama hingga hari ketiga saat menyaksikan penampilan musisi yang hadir.
Festival tahun ini menghadirkan enam penampil utama, yakni Michael Learns to Rock, Xdinary Heroes, NIKI, Joey Alexander, Henry Moodie, dan The Rose. Di antara nama tersebut, Joey Alexander disebut sebagai musisi peraih nominasi Grammy Award, sementara NIKI menjadi representasi musisi Indonesia yang berkiprah di panggung internasional.
Kehadiran NIKI di Prambanan Jazz Festival juga dipandang sebagai momen pulang untuk merayakan karya bersama penikmat musik di Indonesia. Nuansa perayaan seni dan budaya turut mengemuka melalui pertunjukan Wayang Bocor karya Eko Nugroho yang mencapai puncaknya pada hari ketiga dengan menghadirkan maestro seni pertunjukan Didi Nini Thowok. Kolaborasi musik, seni rupa, dan seni pertunjukan kembali menegaskan identitas Prambanan Jazz sebagai ruang yang merayakan kreativitas sekaligus menjaga akar budaya Indonesia.
Selama festival, program Playing Jazz menjadi salah satu elemen yang menonjol dengan menghadirkan eksplorasi musikal melalui pendekatan jazz. Sejumlah musisi yang tampil dalam program ini antara lain The Panturas, Perunggu, Salma Salsabil, Rio Febrian, White Chorus, dan Jogja Hip Hop Foundation. Program tersebut disebut sebagai bagian dari komitmen festival untuk memperkuat unsur jazz sekaligus membuka peluang kolaborasi lintas genre.
Komitmen terhadap regenerasi musisi juga ditunjukkan melalui program I’m Jazz A Kids, yang menjadi ajang pencarian talenta muda. Pemenang edisi sebelumnya kembali tampil di panggung Prambanan Jazz tahun ini setelah merilis karya orisinal yang telah tersedia di berbagai platform musik digital.
Di sisi lain, panggung Langgam yang mengusung konsep jazz lounge kembali dihadirkan untuk menciptakan suasana yang lebih intim bagi musisi dan penonton. Panggung ini menampilkan Jo Soegono dan Jordan Susanto serta dilengkapi sesi signing session. Langgam juga menjadi wadah bagi musisi pendatang baru untuk membangun koneksi dengan komunitas dan kolektif jazz.
Aspek keberlanjutan lingkungan turut menjadi perhatian penyelenggara. Panggung Langgam menggunakan genset berbahan bakar minyak yang berasal dari hasil pengolahan limbah plastik melalui metode pirolisis bersama Get Plastic. Selain itu, Prambanan Jazz menggandeng Lokalogi sebagai mitra pengelolaan sampah untuk melakukan pemilahan sampah selama festival berlangsung.
Program #BerkainKePrambananJazz kembali mengajak pengunjung mengenakan wastra Nusantara sebagai bagian dari upaya menjaga nilai budaya. Sementara itu, Kids Area disediakan sebagai ruang bagi keluarga untuk menikmati pengalaman lintas generasi, memperkuat suasana festival yang disebut akrab untuk kembali dikunjungi.
Founder Prambanan Jazz Festival, Anas Alimi, menyampaikan apresiasi kepada penonton yang hadir. “Terima kasih kepada lebih dari 85.000 penonton yang telah hadir. Prambanan Jazz selalu menjadi tempat bagi kita semua untuk pulang dan berbahagia bersama,” ujarnya.
Festival Director Prambanan Jazz Festival, Tovic, mengatakan penyelenggaraan tahun ini menjadi titik awal pembaruan yang akan terus dikembangkan. “Mungkin tahun ini belum menjadi versi terbaik bagi sebagian penonton. Namun bagi kami, ini adalah versi terbaik dalam menghadirkan berbagai pembaruan sebagai awal babak baru Prambanan Jazz. Semarak yang tercipta menjadi semangat bagi kami untuk menghadirkan pengalaman yang lebih baik di tahun depan,” katanya.
Prambanan Jazz Festival #12 menutup perjalanannya dengan menegaskan keyakinan bahwa sukacita lahir dari berbagai elemen yang saling melengkapi, mulai dari musik, seni, budaya, ruang yang nyaman, kepedulian terhadap lingkungan, hingga kebersamaan yang terbangun selama tiga hari penyelenggaraan.