BERITA TERKINI
Piala Dunia 2026 dan Strategi FIFA Mengarahkan Emosi Penonton Lewat Musik Stadion

Piala Dunia 2026 dan Strategi FIFA Mengarahkan Emosi Penonton Lewat Musik Stadion

Piala Dunia 2026 menghadirkan sejumlah perubahan besar: 48 tim peserta, tiga negara tuan rumah—Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada—serta suasana pra-pertandingan yang dibuat lebih meriah hingga adanya jeda minum di tengah laga. Namun, di balik hal-hal yang tampak di lapangan, ada perubahan lain yang berjalan lebih senyap: cara FIFA menggunakan musik di stadion untuk membentuk ritme emosi penonton sepanjang pertandingan.

Jika pada edisi-edisi sebelumnya musik Piala Dunia kerap diingat lewat satu lagu tema yang menonjol—dari Un'estate italiana, The Cup of Life, hingga Waka Waka—kali ini pendekatannya berbeda. FIFA tetap menampilkan lagu tema, termasuk Dai Dai yang dibawakan Shakira dan Burna Boy. Namun alih-alih menjadikan satu lagu sebagai penanda utama turnamen, FIFA membangun semacam “skrip suara” yang mengikuti dinamika pertandingan, dengan lapisan musik berbeda untuk tiap momen.

Menjelang momen besar sebelum kick-off, misalnya, stadion dipenuhi lagu Sirius dari The Alan Parsons Project saat kedua tim keluar dari terowongan. Irama yang kuat dan meningkat bertahap dipakai untuk mendorong ketegangan dan adrenalin menuju puncak. Lagu ini dikenal luas di kalangan penggemar olahraga karena lekat dengan perkenalan tim Chicago Bulls pada era Michael Jordan. Pemilihannya memberi kesan bahwa pertandingan ditempatkan sebagai panggung para bintang, bukan sekadar laga biasa.

Pada fase lain yang kerap menguji kesabaran penonton—jeda minum—musik justru diarahkan untuk menurunkan tensi. Ketika permainan berhenti dan potensi ketidaksabaran muncul di tribun, sistem pengeras suara memutar lagu-lagu bernuansa ceria, terutama Take Me Home, Country Roads karya John Denver. Lagu yang sudah berusia puluhan tahun itu disebut memberi efek psikologis yang membalik suasana, mengubah “jeda teknis” menjadi momen bernyanyi bersama. Lirik tentang kerinduan untuk pulang juga dianggap menyentuh penonton yang datang dari berbagai tempat untuk mengikuti turnamen.

Dampak di luar stadion pun disebut terlihat. Lagu Take Me Home, Country Roads dilaporkan kembali menanjak di daftar lagu yang banyak didengarkan di Spotify dan mengalami peningkatan pencarian di Google, dengan lonjakan 170% pada hari-hari awal turnamen.

Sementara itu, ketika pertandingan memasuki fase menunggu keputusan VAR, FIFA memilih menjaga energi stadion agar tidak turun. Dalam momen penantian yang menegangkan, lagu-lagu rock klasik seperti Livin' on a Prayer, Don't Stop Believin', dan Sweet Child O' Mine dipakai untuk mempertahankan antusiasme. Strategi ini mengalihkan ketidaksabaran menjadi nyanyian kolektif, sehingga atmosfer tetap hidup hingga keputusan diumumkan.

Musik juga dimanfaatkan untuk menutup pertandingan dengan cara yang menegaskan identitas tiap tim. Setelah peluit akhir, perayaan pemenang diiringi lagu yang terkait erat dengan budaya atau tradisi pendukung mereka: Jerman dengan Major Tom, Inggris dengan Wonderwall, dan Argentina dengan Muchachos. Momen bernyanyi bersama ini disebut menghapus jarak antara pemain dan penonton, mengubah stadion menjadi satu kerumunan yang bergerak dalam ritme yang sama.

Di sisi lain, FIFA turut memadukan warna musik lintas budaya—seperti Mariachi, Cumbia, dan Afrobeat—bersama lagu-lagu kemenangan yang sudah menjadi ikon, seperti We Will Rock You dan We Are the Champions. Lagu-lagu tersebut dipakai untuk membingkai euforia kemenangan, sekaligus menghadirkan emosi yang mudah dipahami tanpa perlu terjemahan.

Dengan rangkaian pilihan musik yang mengikuti alur pertandingan, Piala Dunia 2026 digambarkan sebagai pengalaman yang mendekati “konser” raksasa: tiap momen memiliki pengiring yang dirancang untuk memunculkan reaksi tertentu—tegang, lega, marah, atau gembira—dan mengubahnya menjadi pengalaman bersama. Dalam gambaran ini, musik tidak lagi sekadar pelengkap, melainkan elemen utama yang membentuk ingatan penonton atas turnamen.

Saat kompetisi bergerak menuju babak-babak penentuan dan pemenang mulai mengerucut, “konser akbar” itu disebut akan mencapai puncaknya. Setiap lagu tidak hanya mengiringi perayaan, tetapi juga mengabadikan momen yang mungkin akan diingat penonton jauh setelah pertandingan selesai.