Pertunjukan bertajuk “Senyawa Seni, Sastra dan Budaya dalam CelupanNya” digelar di Gedung Kesenian Jakarta, Jumat (5/1/2024). Acara ini menampilkan perpaduan karya seni, sastra, dan budaya yang dirangkai sebagai satu kesatuan pertunjukan.
Pertunjukan tersebut dipersembahkan oleh ISAQ Center dan Yayasan Riyadhatul Ihsan. Penyelenggara menilai senyawa seni, sastra, dan budaya dibutuhkan untuk membangun peradaban bangsa sesuai cita-cita para leluhur dan pendiri bangsa, sekaligus menjadi respons atas tantangan globalisasi yang dinilai membuka batas-batas kehidupan.
Hj R Ngt Susilawati Susmono selaku pimpinan ISAQ Center dan Yayasan Riyadhatul Ihsan menyampaikan, senyawa seni, sastra, dan budaya merupakan hasil pencapaian anak bangsa yang merdeka dan telah menghasilkan beragam karya. Ia juga menyatakan setiap anak bangsa berhak turut memberi solusi dalam membangun peradaban secara masif.
Pertunjukan yang digelar di awal tahun ini diharapkan menjadi perenungan yang berbuah gerakan untuk membangun peradaban berjati diri Indonesia. Dalam acara tersebut ditampilkan tembang, lagu, tari, puisi, monolog, dan dialog yang disebut sebagai karya Susilawati Susmono.
Rangkaian pertunjukan dibagi dalam empat segmen, yakni Senyawa Metamorfosa, Senyawa Terapi Qalbu, Senyawa Trihayu, dan Senyawa Tegak. Senyawa Metamorfosa digambarkan membawa audiens pada suasana hati dan jiwa yang sunyi. Senyawa Terapi Qalbu disebut mengajak audiens mengasah jiwa dan hati melalui kolaborasi Susilawati Susmono dan Maestro Biola almarhum Idris Sardi. Segmen Trihayu mengangkat ajakan mengamalkan Tri Hayu Ki Hadjar Dewantara: Memayu Hayuning Sarira, Memayu Hayuning Bangsa, dan Memayu Hayuning Menungsa. Sementara Senyawa Tegak mengajak audiens untuk “tegak” dalam akal, budi, daya, hati, pikir, dan dzikir.
Pementasan tembang dan lagu dibawakan oleh Susilawati Susmono, Saskia Tasnim Utami, dan Qadarasmadi Rasyid. Mereka diiringi musisi Hendri Lamiri, Ega, dan Nuggraha. Adapun tarian dibawakan oleh ISAQ Talents.
Acara juga diisi pembacaan puisi, monolog, dan dialog yang didukung kolaborasi pelaku seni, budayawan, dan berbagai kalangan. Puisi karya Susilawati Susmono dibawakan oleh Suhu Haryanto, seniman Betawi Ramdhani Qubil (Bang Madit), Adiwarman Azwar Karim, Destry Damayanti, Aris Heru Utomo, Muhammad Sabri, Ki Hajar Pamadhi, serta sastrawan dan aktor Jose Rizal Manua yang turut menampilkan musikalisasi puisi karyanya.
Dalam pertunjukan tersebut, apresiasi disampaikan kepada almarhum Idris Sardi yang disebut telah mengaransemen 12 lagu karya Susilawati Susmono. Apresiasi juga diberikan kepada Hendri Lamiri yang mengaransemen 5 lagu, serta kepada Nuggraha dan Ega (Tegar) yang masing-masing mengaransemen 38 dan 5 lagu karya Susilawati Susmono. Seluruh lagu itu disebut telah masuk ke Museum Serat Holistik Kehidupan Susilawati Susmono sebagai persembahan untuk negeri.
Selain pertunjukan malam hari, kegiatan lain digelar sejak pagi, berupa pameran Batik Serat Kehidupan karya Susilawati Susmono. Ada pula kegiatan mini event berupa Workshop Batik yang didukung Museum Batik Indonesia-Jakarta serta Lomba Mewarnai Batik.
Workshop Batik yang dihadiri kalangan remaja dan dewasa berisi edukasi pembuatan batik, pengenalan kain batik, serta cara memakai kain batik. Sementara Lomba Mewarnai Batik menggunakan desain batik karya Susilawati Susmono dan diikuti lebih dari 100 peserta pelajar dalam dua kategori. Kegiatan ini disebut ditujukan untuk memberikan pengalaman belajar imersif dan berbasis praktik, khususnya bagi anak-anak dan remaja, dalam mengenali dan mengasah potensi diri.