BERITA TERKINI
Persoalan Sampah dan Pentingnya Teks Argumentasi: Contoh Bahasan dari Plastik hingga Sekolah

Persoalan Sampah dan Pentingnya Teks Argumentasi: Contoh Bahasan dari Plastik hingga Sekolah

Persoalan sampah tidak lagi bisa dipandang sekadar urusan kebersihan. Sampah yang menumpuk tanpa pengelolaan memadai dapat memicu banjir, mencemari udara, menyebarkan penyakit, hingga memperburuk krisis iklim. Karena itu, isu sampah kerap dibahas melalui pendekatan argumentatif agar masyarakat lebih memahami dampaknya sekaligus terdorong mendukung solusi nyata.

Dalam buku Bahasa Indonesia: Wahana Pengetahuan (Kemendikbud, 2017), teks argumentasi dijelaskan sebagai teks yang memuat pendapat atau alasan disertai bukti, data, dan fakta untuk meyakinkan pembaca mengenai suatu hal. Tujuannya bukan hanya menyampaikan opini, tetapi juga memengaruhi cara berpikir pembaca agar menerima pandangan penulis.

Secara umum, teks argumentasi memiliki beberapa ciri, antara lain memuat klaim yang jelas, didukung fakta atau contoh nyata, bertujuan meyakinkan pembaca atau pendengar, serta biasanya ditutup dengan simpulan atau penegasan kembali. Pemahaman ini membantu penyusunan argumen yang kuat, termasuk saat membahas isu lingkungan seperti sampah.

Salah satu contoh yang kerap diangkat adalah persoalan sampah plastik. Plastik dinilai menjadi masalah serius karena sulit terurai secara alami. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebut Indonesia menghasilkan lebih dari 60 juta ton sampah setiap tahun, dengan sekitar 17% di antaranya berupa plastik. Sampah plastik dapat mencemari sungai, laut, dan tanah. Dalam argumen yang sering disampaikan, hewan laut dapat menelan plastik dan dampaknya berpotensi masuk kembali ke rantai makanan manusia. Karena itu, penggunaan plastik sekali pakai dinilai perlu dikurangi melalui kerja sama pemerintah dan masyarakat, misalnya dengan membawa tas belanja sendiri, memakai botol minum isi ulang, serta mendukung kebijakan pengurangan plastik di pusat perbelanjaan.

Contoh lain berkaitan dengan sampah rumah tangga yang disebut sebagai penyumbang terbesar volume sampah di Indonesia. Dalam praktiknya, masih ditemui kebiasaan membuang sampah sembarangan, termasuk ke sungai, yang dapat menyumbat aliran dan memicu banjir. Argumen yang diajukan menekankan pentingnya pemilahan sampah dari rumah. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos, sementara sampah anorganik bisa disalurkan melalui bank sampah. Dengan langkah sederhana ini, volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) dapat berkurang.

Isu sampah juga muncul di lingkungan sekolah. Sekolah dipandang sebagai ruang pendidikan yang seharusnya memberi contoh pengelolaan sampah yang baik. Namun, sampah plastik sekali pakai dari jajanan siswa masih kerap menjadi persoalan jika tidak diimbangi aturan dan kebiasaan yang mendukung. Sejumlah gagasan yang sering diajukan antara lain program sadar lingkungan, kewajiban kantin menggunakan wadah ramah lingkungan, kebiasaan siswa membawa botol minum sendiri, hingga lomba kebersihan kelas. Peran guru juga dinilai penting untuk memberikan edukasi mengenai dampak buruk sampah.

Melalui contoh-contoh tersebut, teks argumentasi dapat menjadi sarana untuk menjelaskan persoalan sampah secara runtut—mulai dari klaim, dukungan data atau contoh, hingga simpulan—sekaligus mendorong perubahan perilaku dan kebijakan yang lebih peduli lingkungan.