Danantara Indonesia mencatat minat investor yang tinggi dalam penerbitan obligasi global perdananya. Namun, tingginya permintaan tersebut dinilai lebih banyak didorong oleh persepsi kuatnya dukungan negara, ketimbang rekam jejak keuangan Danantara yang masih relatif baru.
Danantara berhasil menghimpun dana sebesar US$ 1,5 miliar melalui penerbitan obligasi internasional. Nilai pesanan investor (orderbook) mencapai sekitar US$ 4,6 miliar, atau lebih dari tiga kali lipat nilai penerbitan.
Besarnya permintaan juga memberi ruang bagi Danantara untuk menurunkan tingkat imbal hasil (yield) dari indikasi awal. Yield obligasi tenor lima tahun turun dari 5,7% menjadi 5,35%, sementara tenor 10 tahun turun dari 6,3% menjadi 5,95%.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai investor global melihat Danantara sebagai instrumen strategis yang memiliki keterkaitan erat dengan agenda ekonomi pemerintah.
“Investor global tidak semata-mata melihat laporan keuangan historis, tetapi membaca Danantara sebagai instrumen strategis negara yang memiliki kedekatan sangat kuat dengan agenda ekonomi pemerintah,” ujar Josua, Jumat (12/6/2026).
Menurut Josua, terdapat tiga faktor utama yang menjadi daya tarik obligasi Danantara, yakni peran strategis dalam pengelolaan aset negara, ekspektasi dukungan pemerintah, serta tingkat imbal hasil yang lebih tinggi dibandingkan obligasi pemerintah Indonesia dalam denominasi dolar AS.
Selain itu, ia menilai instrumen tersebut memiliki karakteristik yang relatif langka di pasar global. “Tidak banyak instrumen dolar AS dari Indonesia yang menawarkan kombinasi peringkat layak investasi, kedekatan dengan negara, ukuran emisi yang besar, dan imbal hasil di atas obligasi pemerintah,” kata Josua.
Di tengah kondisi pasar global yang masih mencari instrumen berimbal hasil menarik, obligasi Danantara dipandang menjadi alternatif bagi investor yang ingin menambah eksposur ke Indonesia tanpa harus masuk ke aset yang lebih berisiko seperti saham maupun obligasi rupiah.
Meski demikian, Josua mengingatkan bahwa tingginya permintaan investor tidak serta-merta menjadi bukti pasar telah sepenuhnya yakin terhadap kekuatan fundamental Danantara sebagai entitas yang berdiri sendiri. Ia menilai sebagian besar investor masih bertumpu pada asumsi bahwa Danantara akan memperoleh dukungan apabila menghadapi tekanan keuangan di masa depan.
“Dengan kata lain, permintaan besar ini lebih mencerminkan kepercayaan terhadap dukungan negara dan peringkat Indonesia, bukan semata-mata penilaian atas kekuatan keuangan Danantara yang berdiri sendiri,” ujarnya.
Josua menilai keberhasilan Danantara memangkas yield merupakan sinyal positif karena menunjukkan daya tawar yang cukup baik di pasar internasional. Di tengah tekanan terhadap rupiah, kenaikan yield surat berharga negara (SBN), serta berbagai kekhawatiran investor terhadap kondisi domestik, ia menilai masih ada permintaan kuat terhadap instrumen Indonesia yang memiliki struktur kredit yang jelas.
Namun, ia menegaskan keberhasilan penerbitan obligasi ini sebaiknya dipandang sebagai pembuka akses pendanaan global, bukan sebagai bukti bahwa seluruh tantangan tata kelola telah terselesaikan.
Josua menyarankan dana hasil penerbitan obligasi diarahkan ke proyek-proyek produktif yang memiliki arus kas jelas, seperti sektor energi, infrastruktur, hilirisasi industri, maupun logistik. Dengan langkah itu, Danantara dinilai dapat membangun sumber pendapatan untuk menopang kewajiban pembayaran obligasi dalam denominasi dolar AS.
“Jika dana digunakan untuk proyek produktif, transparan, dan menghasilkan arus kas yang kuat, obligasi global dapat menjadi sumber pembiayaan yang lebih efisien dibandingkan penyertaan modal negara maupun dividen BUMN,” katanya.
Di sisi lain, Josua mengingatkan penggunaan dana untuk menutup kebutuhan likuiditas jangka pendek atau menopang entitas yang tidak sehat berpotensi memunculkan risiko baru di kemudian hari. Karena itu, ia menilai langkah berikutnya yang perlu dilakukan Danantara adalah memperkuat transparansi, memperjelas strategi penggunaan dana, membuka informasi keuangan secara lebih komprehensif, serta menerapkan tata kelola yang ketat.
“Kredibilitas Danantara ke depan tidak lagi ditentukan oleh keberhasilan penerbitan obligasi perdana, tetapi oleh disiplin penggunaan dana setelah emisi dilakukan,” pungkasnya.