BERITA TERKINI
Pentas Sastra KSS3G Temanggung Angkat Isu Krisis Lingkungan di Taman Kali Progo

Pentas Sastra KSS3G Temanggung Angkat Isu Krisis Lingkungan di Taman Kali Progo

TEMANGGUNG — Keprihatinan atas kondisi lingkungan hidup yang kian memburuk disuarakan melalui panggung sastra. Komunitas Studi Sastra Tiga Gunung (KSS3G) Temanggung menggelar pentas seni bertajuk “Ketika Progo Mengering, Sastra Harus Bicara” di Taman Kali Progo, Temanggung, saat masa liburan.

Pentas tersebut menampilkan beragam pertunjukan, mulai dari pembacaan puisi, cerpen, pantomim, hingga teater. Karya-karya yang dipentaskan menjadi media refleksi sekaligus kritik terhadap persoalan lingkungan.

Isu yang diangkat mencakup kerusakan ekosistem, pencemaran, perubahan iklim, hingga eksploitasi alam yang dinilai semakin mengkhawatirkan. Kegiatan ini melibatkan berbagai kalangan, antara lain guru, seniman, aktivis lingkungan, mahasiswa, dan pelajar. Para peserta menyampaikan kegelisahan yang sama melalui karya sastra dan pertunjukan seni.

Ketua KSS3G Temanggung, Asrul Sanie, mengatakan pemilihan momentum Bulan Lingkungan Hidup bertujuan mengajak masyarakat kembali memberi perhatian terhadap kondisi alam yang terus mengalami degradasi.

“Maksud dan tujuannya untuk memperingati Hari Lingkungan Hidup. Kemudian sambil kita menengok kembali alam kita seperti apa. Hari-hari ini ekosistem rusak, polusi, perubahan iklim, dan bencana sering terjadi di sekitar kita. Ini adalah langkah kecil kita sebagai wujud perhatian kepada alam,” ujar Asrul.

Menurut Asrul, sastra dapat menjadi media penyadaran sosial karena mendorong masyarakat merenungkan hubungan manusia dengan alam. Ia berharap tema yang diangkat dapat memperkuat kesadaran bersama bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab kolektif.

“Sastra adalah cara kita menyikapi kehidupan. Kebetulan bulan Juni merupakan Bulan Lingkungan Hidup, sehingga tema ini sangat relevan. Harapannya masyarakat semakin menyadari bahwa lingkungan kita sedang mengalami kerusakan dan menjadi tanggung jawab bersama untuk menjaganya,” katanya.

Pesan pelestarian lingkungan disampaikan melalui berbagai karya yang ditampilkan. Salah satunya puisi berjudul “Tanah Hutan Hanya Warisan Cerita” yang dibacakan Angelina Meisa, peserta berdarah Papua.