BERITA TERKINI
Pengembangan Wellness Tourism di Solo Dinilai Perlu Keterlibatan Warga

Pengembangan Wellness Tourism di Solo Dinilai Perlu Keterlibatan Warga

Pemerintah Kota (Pemkot) Solo tengah berupaya menggalakkan wellness tourism sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru di sektor pariwisata. Namun, upaya tersebut dinilai tidak cukup jika hanya mengandalkan pemerintah, melainkan perlu melibatkan masyarakat agar pengembangannya lebih terarah dan mudah dipahami.

Penilaian itu disampaikan mantan anggota DPRD Solo sekaligus pemerhati kebijakan publik, Ginda Ferachtriawan. Ia mengatakan istilah “Solo wellness tourism” sudah digaungkan sejak era Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka dan bahkan masuk dalam salah satu program kerja setelah pelantikan, yakni penguatan sport dan wellness tourism.

Menurut Ginda, gagasan pengembangan sport dan wellness tourism tidak lepas dari situasi pandemi Covid-19. Pascapandemi, kata dia, kebutuhan masyarakat terhadap produk kesehatan dan kebugaran yang mudah diakses semakin meningkat.

“Sport” dalam konteks tersebut berkaitan dengan olahraga, sedangkan “wellness” mencakup gaya hidup sehat yang dapat diwujudkan melalui berbagai aktivitas, seperti minum jamu, meditasi, yoga, dan kegiatan lain yang mendukung kebugaran.

Ginda menuturkan, program terkait wellness tourism sebelumnya sudah pernah masuk dalam program organisasi perangkat daerah (OPD) di Solo. Ia mengingat, Dinas Pariwisata sempat membuka beberapa program yang berfokus pada jamu, mengingat Solo dikenal dengan produk jamunya.

Ia menilai tantangan saat ini adalah menggali dan mengemas potensi wellness tourism Solo agar relevan dengan tren masa kini dan sesuai dengan kebutuhan calon wisatawan. Salah satu aktivitas yang dinilai sedang naik daun adalah yoga, yang beberapa kali digelar melalui berbagai kegiatan di Solo.

Ginda menyebut Presiden ke-7 RI Joko Widodo pernah mengikuti kegiatan yoga bersama komunitas di depan kediamannya di Sumber, Banjarsari. Ia juga mencontohkan Wali Kota Solo Respati Ardi dan istri, Vanessa Winastesia, yang disebutnya rutin mengikuti yoga, termasuk kegiatan yang berlangsung di Stadion Sriwedari.

Meski demikian, ia menekankan perlunya intervensi pemerintah agar pengembangan aktivitas seperti yoga dapat lebih terarah. Di sisi lain, ia menilai keterlibatan masyarakat penting karena hingga kini masih ada kebingungan mengenai bentuk dan cakupan produk wellness tourism di Solo.

Menurut Ginda, wellness tourism dapat mencakup beragam aspek, mulai dari kesehatan, olahraga, spa, hingga makanan dan minuman sehat. Dalam konteks Solo, ia menilai jamu bisa menjadi salah satu kekuatan utama, namun perlu diperjelas dan dikemas agar menarik.

Selain menentukan produk, ia menyoroti pentingnya penyamaan persepsi antarpemangku kepentingan agar berbagai potensi wellness di Solo dapat digali, dikemas, dan dimaksimalkan. Ia mencontohkan sejumlah kegiatan yoga yang telah digelar pada era kepemimpinan Wali Kota Respati di lokasi seperti Balekambang dan Loji Gandrung.

Ginda juga menyinggung contoh di Bali yang memiliki tempat-tempat khusus penyajian layanan wellness. Ia berpendapat, konsep serupa bisa diterapkan di Solo dengan terlebih dahulu menentukan fokus pengembangan yang akan digarap.

Dengan bergeraknya seluruh elemen kota, Ginda meyakini pengembangan wellness tourism di Solo berpotensi menjadi daya tarik. Ia menilai langkah ke depan perlu dibuat lebih terarah dan fokus, mengingat potensi dan pasar dinilai sudah ada.