BERITA TERKINI
Penampilan Justin Bieber di Coachella Picu Perdebatan soal Makna Konser ‘Live’ di Era YouTube

Penampilan Justin Bieber di Coachella Picu Perdebatan soal Makna Konser ‘Live’ di Era YouTube

Justin Bieber kembali tampil di panggung Coachella setelah empat tahun absen dari tur. Namun alih-alih disambut semata sebagai momen comeback, penampilannya justru memicu kontroversi karena di beberapa bagian ia bernyanyi diiringi klip YouTube, bahkan sesekali tidak bernyanyi sama sekali.

Coachella rutin dipadati sekitar 125 ribu pengunjung setiap akhir pekan. Festival ini juga ditayangkan secara langsung melalui saluran YouTube resminya, dengan 5,89 juta audiens internasional berlangganan. Dalam skala sebesar itu, setiap keputusan artistik di panggung mudah memantik reaksi luas—dan itulah yang terjadi pada set Bieber.

Perdebatan pun muncul di kalangan penonton dan kritikus: apakah aksi Bieber merupakan pernyataan kreatif tentang nostalgia dan budaya internet, atau sekadar pertunjukan “malas” yang dianggap tidak menghargai penggemar.

Bagian yang paling menuai sorotan berlangsung sekitar 20 menit dari total pertunjukan 90 menit. Di luar segmen tersebut, set Bieber berjalan seperti penampilan festival pada umumnya, termasuk menghadirkan sejumlah tamu spesial seperti Dijon, Tems, Wizkid, Mk.gee, dan The Kid Laroi—sesuatu yang memang menjadi ciri khas Coachella.

Meski demikian, tanda-tanda bahwa penampilan ini akan berbeda sudah terlihat sejak awal. Usai membawakan “Speed Demon”, Bieber menatap kamera dan menyapa penonton yang menonton dari YouTube. Pada saat yang sama, layar raksasa panggung menampilkan kolom komentar siaran langsung.

Sekitar menit ke-50, Bieber kembali menyapa audiens. Ia mengatakan malam itu terasa spesial dan mengajak penonton “melakukan perjalanan”, lalu bertanya apakah mereka mengingat sebuah lagu. Dalam posisi duduk di depan laptop, ia mengetik kata “baby” di kolom pencarian YouTube yang ditampilkan ke layar. Video klip “Baby” (2010) kemudian diputar, dan Bieber menyanyikan lagu tersebut sambil sengaja melewatkan beberapa lirik. Di beberapa bagian, ia hanya menggerakkan bibir tanpa suara.

Dalam pertunjukan musik modern, penggunaan backing track atau rekaman vokal pendukung bukan hal asing, meski sering kali tidak ditonjolkan. Dalam kasus Bieber, perbedaan karakter suara antara rekaman masa lalu dan vokal Bieber saat ini membuat segmen itu terdengar seperti “duet” lintas waktu: Bieber dewasa bernyanyi bersama versi dirinya yang lebih muda.

Setelah bagian hook utama, Bieber menghentikan lagu secara tiba-tiba dan kembali mengangkat tema masa lalu. Ia memutar “Favorite Girl” (2009), bernyanyi pada bagian chorus, lalu kembali mengakhiri lagu dengan mendadak. Saat menyusuri deretan lagu hit YouTube miliknya secara cepat, Bieber hanya sekali meminta maaf—bukan karena penggunaan rekaman, melainkan karena memotong “Confident” (2013) terlalu singkat. Ia mengatakan segmen itu memang berupa cuplikan-cuplikan pendek.

Dalam rangkaian itu, Bieber juga memutar video cover awal kariernya di YouTube saat membawakan lagu-lagu Chris Brown dan Ne-Yo, lalu melanjutkan dengan sejumlah hit komersial seperti “Sorry” dan “Where Are You Now”. Pada satu momen, ia sempat berpura-pura mengalami gangguan koneksi Wi-Fi. Setelah itu, pertunjukan menampilkan berbagai referensi budaya populer, termasuk video kompilasi kegagalan (blooper) yang memuat cuplikan Bieber muda menabrak pintu kaca dan terperosok di panggung, hingga kemarahannya yang lebih baru terkait privasi dan paparazi.

Di tengah kritik yang menyebut segmen tersebut sebagai tindakan “malas”, muncul pandangan lain yang menilai bagian-bagian itu justru tampak dirancang rapi. Dengan skala produksi sebesar Coachella, risiko teknis dan reputasi dianggap terlalu besar jika seluruh jeda dan lelucon dibiarkan terjadi tanpa persiapan.

Perdebatan ini pada akhirnya mengarah pada pertanyaan yang lebih luas: apa makna pertunjukan musik “live” saat rekaman, layar, dan budaya internet menjadi bagian dari pengalaman menonton?

Dalam sejarah pertunjukan musik, musisi kerap bermain dengan batas antara penampilan langsung dan rekaman. Pada 1967, The Doors membawa televisi ke atas panggung untuk menonton penampilan mereka sendiri dalam acara varietas yang sudah direkam. Pada dekade berikutnya, Kraftwerk menampilkan diri sebagai robot, bukan sebagai virtuoso. Memasuki abad ke-21, Deadmau5 membongkar kebiasaan dengan menampilkan set prarekaman dalam kancah EDM.

Praktik memadukan audio prarekaman atau sequencer sebagai pengganti instrumen yang dimainkan langsung telah lama digunakan untuk mengubah ekspektasi penonton tentang hubungan antara apa yang terlihat dan apa yang terdengar.

Contoh lain adalah duet lintas waktu yang melibatkan musisi yang sudah tiada, seperti penampilan Natalie Cole bersama mendiang ayahnya, Nat King Cole, di Grammy 1992. Kemudian ada hologram Tupac Shakur di Coachella 2012, serta hologram Maria Callas yang “bernyanyi” bersama Melbourne Symphony Orchestra pada 2023. Hologram menawarkan akses pada pertunjukan yang secara fisik mustahil dilakukan, sekaligus berupaya menghidupkan kembali masa lalu.

Dalam konteks itu, penampilan Bieber dapat dibaca sebagai upaya serupa: ia berinteraksi langsung dengan rekaman dirinya sendiri dari masa lalu. Bedanya, ia bukan hanya mengandalkan materi prarekaman, tetapi juga sejarah viralitasnya. Pertunjukan yang bersifat referensi diri ini berangkat dari cara budaya dikonsumsi secara daring, sehingga interaksinya dengan YouTube dinilai terasa relevan dan manusiawi oleh sebagian penonton, alih-alih sekadar berjarak.

YouTube sendiri disebut telah memengaruhi cara pertunjukan disajikan. Salah satu contoh yang disorot adalah kanal Boiler Room, yang menampilkan DJ tampil di tengah kerumunan. Estetika video semacam itu kemudian memengaruhi desain pesta klub dan festival, dengan konsep DJ dikelilingi audiens alih-alih berada di panggung tinggi yang terpisah. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa apa yang ditonton orang secara daring dapat membentuk ekspektasi terhadap apa yang seharusnya terjadi di panggung.

Dengan membawa logika itu ke panggung Coachella yang jauh lebih besar, Bieber dianggap menunjukkan keterlibatan langsung dengan eksistensinya di budaya populer internet. Pada akhirnya, reaksi publik terhadap penampilan ini—apakah melihatnya sebagai eksperimen artistik atau sebagai kemunduran standar konser—berpotensi ikut memengaruhi format pertunjukan langsung di masa depan.