Pemerintah Kota Yogyakarta meneguhkan identitas sebagai Kota Festival dengan menyiapkan strategi orkestrasi ribuan agenda yang terintegrasi. Upaya ini tidak hanya ditujukan untuk memperkuat branding, tetapi juga memastikan setiap kegiatan memberi dampak bagi masyarakat, pelaku usaha, dan sektor pariwisata.
Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, menyatakan deklarasi Jogja sebagai Kota Festival perlu diikuti penguatan konsep, kurasi, serta kolaborasi lintas sektor. Ia menekankan, ke depan orang datang ke Yogyakarta bukan sekadar kebetulan menghadiri acara, melainkan sengaja berkunjung untuk menikmati festival tertentu.
Dengan lebih dari seribu event yang digelar setiap tahun, Pemkot berupaya menyusun kalender kegiatan yang lebih terarah, saling mendukung, dan memiliki kualitas yang konsisten. Strategi ini juga diarahkan untuk menjawab tantangan low season pariwisata yang biasanya terjadi pada Februari hingga April.
Untuk mengisi periode tersebut, Pemkot menyiapkan agenda berbasis budaya, antara lain Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta, perayaan Imlek yang terintegrasi dari Malioboro hingga Ketandan, serta pengemasan Ruwahan Agung dan lomba takbiran bergengsi saat Idul Fitri maupun Idul Adha. Event besar seperti ARTJOG juga akan didorong menjadi bagian dari orkestrasi kota, dengan durasi panjang yang diharapkan mampu menarik wisatawan sekaligus memberi ruang edukasi bagi pelajar tentang seni dan ekonomi kreatif.
Puncak penguatan branding direncanakan berlangsung sepanjang Oktober bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Kota Yogyakarta. Rangkaian kegiatan akan dikemas selama satu bulan penuh, mencakup event budaya, perdagangan, hingga aktivitas komunitas. Wayang Jogja Night Carnival (WJNC) tetap menjadi salah satu magnet utama, dengan target kembali masuk jajaran Karisma Event Nusantara. Namun, Pemkot menegaskan WJNC merupakan bagian dari rangkaian besar yang melibatkan berbagai sektor, bukan satu-satunya agenda utama.
Dampak ekonomi menjadi salah satu perhatian. Wawan menyebut orkestrasi event diharapkan memberi manfaat luas, mulai dari peningkatan hunian hotel, restoran, hingga penjualan suvenir. Pemkot juga merangkul event besar di luar wilayah kota seperti Kustomfest melalui pendekatan promosi dan kolaborasi. Dalam skema ini, pemerintah berperan sebagai orkestrator, sementara swasta dan komunitas menjadi mitra untuk memperkuat daya tarik Yogyakarta sebagai Kota Festival.