MAUMERE — Suasana di Kantor DPRD Kabupaten Sikka, Jalan El Tari, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), mendadak ricuh pada Kamis (11/6/2026) siang. Sejumlah pedagang Pasar Alok Maumere mengejar Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago hingga ke area belakang gedung dewan.
Aksi tersebut dipicu kekecewaan pedagang terhadap metode penertiban Pasar Alok yang dinilai tidak manusiawi. Dalam video yang beredar di media sosial, para pedagang berupaya mencegat bupati untuk menyampaikan aspirasi secara langsung. Namun, upaya itu tidak berhasil karena bupati diketahui meninggalkan ruang rapat melalui pintu belakang Kantor DPRD Sikka.
Gagal bertemu bupati, massa yang didominasi emak-emak berteriak dan meluapkan kekesalan di depan kantor DPRD karena merasa dihindari.
Para pedagang menyatakan kemarahan mereka berkaitan dengan dugaan perusakan barang dagangan oleh oknum anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Sikka saat operasi penertiban di Pasar Alok. Mereka mengaku tidak bisa berjualan dan mengalami kerugian materiil.
Salah seorang pedagang, Sisilia Lingu Soge, menyampaikan kekecewaan sambil menangis. Ia mengatakan modal puluhan juta rupiah yang mereka pinjam atau kumpulkan habis akibat kerusakan barang.
“Barang-barang kami dibeli dengan uang puluhan juta rupiah. Belum dapat keuntungan seribu rupiah, semuanya sudah dirusak. Bupati yang perintah. Kami sudah memilih pemimpin untuk melindungi dan mengayomi, tetapi justru barang-barang kami dirusak,” ujar Sisilia di halaman Kantor DPRD Sikka.
Seiring situasi di luar gedung yang memanas, para pedagang yang dikawal petugas Satpol PP kemudian diarahkan mengikuti audiensi di ruang rapat DPRD Sikka. Pertemuan dipimpin Wakil Bupati Sikka Simon Subandi Supriadi bersama Ketua DPRD Sikka Stef Sumandi. Dalam forum itu, pedagang kembali melayangkan protes dan mempertanyakan keberadaan bupati yang dinilai enggan menemui mereka.
Menanggapi tudingan bahwa dirinya kabur, Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago membantah. Ia menegaskan kepergiannya melalui pintu belakang bukan untuk menghindar, melainkan karena agenda kedinasan lain yang mendesak dan terjadwal.
“Saya tidak melarikan diri. Hari ini ada agenda yang sangat penting, yakni penyerahan BPJS Ketenagakerjaan kepada seluruh pekerja dalam ekosistem desa dan kelurahan. Ada 11.200 penerima manfaat, termasuk RT, RW, kader Posyandu, dan anggota Linmas,” kata Juventus saat dikonfirmasi, Kamis.
Ia menjelaskan agenda penyerahan jaminan sosial itu melibatkan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) serta BPJS Ketenagakerjaan, dan sudah beberapa kali tertunda sehingga tidak bisa diundur lagi.
Juventus juga menyatakan pemerintah daerah tidak mengabaikan tuntutan pedagang. Menurutnya, hal itu merupakan pembagian tugas antara kepala daerah dan wakil kepala daerah.
“Kami membagi tugas. Saya sudah berkoordinasi dengan Wakil Bupati dan Ketua DPRD. Saya juga sudah turun ke sini (Pasar Alok), sehingga semua agenda bisa berjalan dengan baik untuk masyarakat yang kita cintai bersama,” ujarnya.
Pasar Alok merupakan pasar terbesar di Kota Maumere dan menjadi pusat aktivitas perekonomian Kabupaten Sikka. Statusnya sebagai pasar induk membuat kawasan ini ramai dikunjungi warga, namun belakangan tata kelolanya memicu polemik antara pemerintah daerah dan para pedagang.