KLUNGKUNG – Penataan panggung utama Festival Semarapura ke-8 menjadi sorotan menjelang pembukaan festival yang dijadwalkan berlangsung Selasa (28/4/2026). Sejumlah seniman yang akan tampil menyampaikan keluhan, bahkan ada yang melayangkan protes, terkait tata letak panggung yang dinilai kurang ideal.
Berdasarkan informasi di lapangan, panggung utama disebut menghadap ke barat dan membelakangi posisi Catus Pata atau Patung Kanda Pat Sari. Penataan tersebut dinilai berdampak pada ruang panggung yang dianggap kurang luas, sehingga membatasi keleluasaan seniman saat tampil. Panggung utama disebut berukuran sekitar 10 x 14 meter, sementara ruang yang diperuntukkan bagi penonton juga dinilai tidak terlalu luas.
Selain soal ruang pertunjukan, mitigasi kerumunan massa turut menjadi perhatian. Arus utama yang disebut sebagai pintu keluar penonton dinilai terhalang oleh keberadaan panggung utama. Akses keluar alternatif disebut tersedia, namun dikhawatirkan dapat terisi parkir kendaraan pengunjung.
Penataan panggung tersebut juga dikhawatirkan berpengaruh pada agenda parade gong kebyar, salah satu pertunjukan yang biasanya menyedot ratusan penonton dan melibatkan banyak penabuh serta perangkat gamelan dari dua sekaa gong. Parade gong kebyar dijadwalkan tampil pada hari ketiga festival, Kamis (30/4/2026), dengan menghadirkan Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak Candra Nirwana Desa Pikat dan Sekaa Gong Kebyar Wanita Komunitas Wadon Klungkung sebagai duta Kecamatan Banjarangkan.
Sejumlah seniman menyatakan kekhawatiran situasi di atas panggung dapat menjadi padat sehingga karya tidak tersaji secara utuh. “Kami merasa ruang ekspresi menjadi terbatas karena tata letak panggung utama kurang ideal. Gerak dan interaksi dengan penonton menjadi kurang maksimal,” ujar seorang seniman yang menolak namanya disebutkan.
Di sisi lain, acara pembukaan juga terdampak penyesuaian agenda. Salah satu pertunjukan kolosal, Tari Pendet massal yang melibatkan sekitar 500 penari, dilaporkan batal memeriahkan pembukaan. Padahal, pertunjukan tersebut disebut sempat dipromosikan lebih dulu oleh Kementerian Pariwisata melalui akun media sosial Karisma Event Nusantara (KEN) 2026.
Sementara itu, penampilan Tabuh Adi Merdangga massal tetap mengisi rangkaian acara, namun disiasati dengan pembagian titik tampil. Sebagian penabuh disebut berjalan kaki dari depan Puri Agung Klungkung mengiringi tamu VIP menuju tenda undangan. Sebagian lainnya menunggu di Kertagosa dan Monumen Ida Dewa Agung Jambe, lalu bergabung secara keseluruhan di depan panggung utama.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata Klungkung, Gusti Agung Putra Mahajaya, saat dikonfirmasi Minggu (26/4/2026), menyatakan belum mendengar adanya keluhan dari para seniman dan menyebut pihaknya tidak masuk ke urusan teknis tata letak panggung.
“Sejauh ini kami belum tahu ada keluhan dari para seniman. Apa keluhannya saya tidak tahu itu. (soal panggung) kami tidak masuk sampai ke ranah itu,” kata Agung Mahajaya. Ia menambahkan, tata letak panggung baik menghadap ke selatan dengan latar belakang monumen maupun menghadap ke barat dengan latar belakang Patung Catus Pata sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan.
Terkait pembatalan Tari Pendet massal, Agung Mahajaya menegaskan hal itu dilakukan karena jadwal pementasan berbarengan dengan penampilan Adi Merdangga massal. “Penampilan Tari Pendet Masal terpaksa dibatalkan karena jadwalnya berbarengan dengan Adi Merdangga masal. Kami menilai dua pertunjukan kolosal dalam waktu yang sama kurang ideal dari sisi penataan acara,” ujarnya.