BERITA TERKINI
Pameran di Jogja Angkat Dangdut sebagai Bahasa Seni Rupa Kontemporer

Pameran di Jogja Angkat Dangdut sebagai Bahasa Seni Rupa Kontemporer

Dangdut dihadirkan tidak hanya sebagai musik pengiring pesta rakyat, tetapi juga sebagai medium seni rupa kontemporer melalui pameran bertajuk “Orkes Seni Rupa Dangdut: Merayakan Hidup dengan Goyang Visual”. Pameran yang digelar Paguyuban Djayaningratan ini menempatkan dangdut sebagai bahasa budaya yang mendekatkan praktik seni rupa dengan kehidupan masyarakat.

Pameran dijadwalkan dibuka pada Sabtu malam, 27 Juni 2026, pukul 19.00 WIB, dan berlangsung hingga 27 Juli 2026 di Omah Seni Djayaningratan, Jalan Dagen No. 219, Sosromenduran, Gedong Tengen, Yogyakarta. Sebanyak 43 perupa Indonesia lintas generasi akan menampilkan karya dalam berbagai medium.

Kurator pameran, Jajang R Kawentar, menilai dangdut bukan sekadar genre musik, melainkan representasi cara masyarakat Indonesia memaknai kehidupan. Menurutnya, dangdut memiliki daya lebur terhadap sekat kelas sosial, karena lirik sedih maupun senang sama-sama dihadapi dengan suasana joget dan suka cita.

Jajang juga menyinggung lanskap budaya Indonesia yang kerap dipengaruhi subkultur Barat seperti punk, metal, atau rock. Namun, ia berpendapat memori kultural masyarakat Indonesia memiliki rasa yang berbeda. Karena itu, konsep “orkes” dipilih untuk menggambarkan gerak kolektif para perupa dalam menerjemahkan semangat dangdut ke dalam karya dua dimensi, tiga dimensi, hingga instalasi interaktif.

Pameran ini mengusung tiga benang merah visual. Pertama, “Estetika Extraordinary” yang menampilkan keberanian warna dan bentuk sebagai ekspresi kejujuran rasa. Kedua, “Narasi Mode Kerakyatan” yang mengeksplorasi fesyen dangdut serta atmosfer pasar malam sebagai bagian dari keseharian. Ketiga, “Semangat Sawang-Sinawang” yang mengajak publik membangun empati sosial, bersyukur, sekaligus menyindir ego kekuasaan yang menindas.

Pengunjung tidak hanya diposisikan sebagai penikmat karya. Melalui sejumlah instalasi interaktif, publik diajak terlibat langsung untuk “berjoget” bersama pengalaman hidup, dengan seni sebagai ruang perayaan atas kemanusiaan.

Adapun 43 perupa yang terlibat adalah Arya Pandjalu, Alex Luthfie R, Ali Umar, Mayek Prayitno, Adhik Kristiantoro, Teguh Paino, Indira Bunyamin, Retno Aris, Dwipo Hadi, Budi Blake, Riki Antoni, Joko Gundul Sulistyono, Apud Budianto, Deni Setiawan, Chasanul Fawaid Indi, Iwan Ismael, Syahrizal Pahlevi, Okkan Yunanda, D. Koestrita, Pambudi Sulistio, Deskhairi, Erlambang, Antonius Ruli, Nugrahanto Widodo, Heri Sudiono, Gus Black, Betto Made, Vio Retno, N. Rinaldy, Wisnu Aji Kumara, Yoyok Siswoyo, Joko Santoso, Dwi Putro alias Pak Wi, Febriyustiani, M. Subroto, Yayas Syahdu, Ary Kurniawan, Anthony Sa, Budi Eka Putra, Sima, Dodi Irwandi, R Wisnu D, dan Rajoso Bayu Wicaksono.

Pameran ini terbuka untuk umum dan diharapkan menjadi ruang apresiasi alternatif yang edukatif, interaktif, sekaligus menghibur bagi berbagai lapisan masyarakat.