BERITA TERKINI
Opini: Standar Ganda dalam Menilai Keyakinan Agama Lain di Kalangan Muslim

Opini: Standar Ganda dalam Menilai Keyakinan Agama Lain di Kalangan Muslim

Seorang penulis beridentitas Muslim menyoroti fenomena yang ia sebut sebagai standar ganda dalam kehidupan keberagamaan, khususnya di kalangan Muslim, saat menilai keyakinan pemeluk agama lain. Refleksi itu ia susun berdasarkan pengalaman sehari-hari di lingkungan masyarakat Muslim, baik melalui percakapan langsung maupun interaksi di media sosial.

Dalam tulisannya, ia menggambarkan bagaimana sebagian Muslim cenderung membela secara penuh kisah-kisah dalam kitab suci Islam. Ketika narasi seperti Isra’ Mi’raj, penciptaan Adam dari tanah, atau kisah Nabi Musa membelah laut dipertanyakan, respons yang ia temui kerap berupa kemarahan hingga tuduhan penistaan agama.

Namun, pada saat yang sama, penulis menyatakan sering menyaksikan sebagian Muslim justru mudah meremehkan kisah-kisah dalam ajaran agama lain. Ia mencontohkan beberapa konsep dalam Hindu, seperti Trimurti—Brahma, Wisnu, dan Siwa—serta tokoh Ganesha yang digambarkan sebagai sosok manusia berkepala gajah. Menurutnya, dalam percakapan santai, kisah-kisah tersebut kerap dijadikan bahan olok-olok atau dianggap sebagai mitos yang tidak masuk akal. Penulis menilai, bila perlakuan serupa diarahkan kepada kisah-kisah dalam Islam, reaksi yang muncul dari sebagian Muslim bisa sangat keras.

Penulis menegaskan tidak sedang menilai benar atau salahnya doktrin suatu agama. Ia lebih menyoroti sikap yang dinilainya tidak konsisten: mengapa seseorang merasa berhak menyebut keyakinan orang lain sebagai mitos, tetapi menolak ketika keyakinannya diperlakukan dengan cara yang sama. Ia menyebut sikap tersebut sebagai inkonsistensi berpikir atau “cacat logika” yang mencerminkan standar ganda.

Menanggapi pertanyaan mengapa kritiknya diarahkan kepada Muslim, penulis menyatakan alasannya karena ia sendiri adalah Muslim. Ia lahir, tumbuh, dan belajar di lingkungan Muslim, sehingga refleksi dan kritik ia tujukan kepada komunitasnya sendiri. Ia juga menyebut tidak merasa berhak mengurusi keyakinan umat agama lain karena bukan bagian dari mereka.

Dalam bagian lain, penulis menilai umat beragama—terutama Muslim—perlu membiasakan diri untuk tidak mudah mencela atau meremehkan kepercayaan orang lain. Menurutnya, kehidupan dalam masyarakat yang beragam membuat perbedaan tak terhindarkan, dan justru menjadi ujian untuk menjaga akhlak, mengedepankan rasa hormat, serta menahan diri dari sikap merasa paling benar.

Ia juga memaparkan sejumlah contoh kekeliruan bernalar yang, menurutnya, dapat ditemukan dalam argumen keagamaan di kalangan Muslim. Di antaranya adalah argumentum ad populum (menganggap benar karena diyakini banyak orang), false analogy (membandingkan dua hal yang tidak setara), circular reasoning (menggunakan premis yang sama untuk membuktikan kesimpulan), argumentum ad consequentiam (menganggap manfaat suatu teks otomatis membuktikan seluruh isinya benar), generalisasi atau fallacy of composition (menarik kesimpulan menyeluruh dari sebagian contoh), serta penggunaan emosi dan ancaman atau appeal to fear.

Penulis menutup dengan menekankan bahwa membiasakan diri menghormati perbedaan tidak berarti mengurangi iman. Ia berpendapat, sikap adil dan konsisten terhadap berbagai keyakinan justru menunjukkan kematangan beragama. Ia juga menilai bahwa jika umat Muslim ingin mengemukakan argumen ilmiah atau historis untuk mendukung klaim keilahian, maka mereka perlu bersedia menerima kritik dengan standar yang serupa, serta membedakan antara keyakinan berbasis iman dan klaim yang memerlukan pembuktian rasional.

Tulisan tersebut mencantumkan sejumlah referensi, di antaranya karya Sadek Hamid, Eric Zemmour, serta buku “Logika” karya Mundiri. Penulisnya disebut sebagai Muhammad Rafli Firjatullah, mahasiswa S1 Program Studi Sejarah Peradaban Islam.