BERITA TERKINI
Obituarium: Kesan Singkat Penulis Saat Bertemu Esais Nirwan Ahmad Arsuka

Obituarium: Kesan Singkat Penulis Saat Bertemu Esais Nirwan Ahmad Arsuka

Penulis mengenang Nirwan Ahmad Arsuka, esais yang dikenal menulis tentang sains dan kebudayaan, yang wafat pada Senin (7/8). Meski mengaku tidak memiliki hubungan personal yang dekat, penulis menyebut pertemuan singkat dengannya meninggalkan kesan mendalam.

Pertemuan pertama terjadi pada 2018 di Salihara, Jakarta Selatan, saat Nirwan menjadi narasumber dalam peluncuran buku terjemahan The Demon Haunted World karya Carl Sagan. Dalam acara itu, Nirwan tampil sederhana dengan kaos hitam dan kain yang dibalutkan seperti syal.

Di hadapan audiens, Nirwan memaparkan pengetahuannya tentang Carl Sagan. Menurutnya, Sagan adalah saintis yang selalu bertanya dan tidak pernah puas dengan apa yang sekadar terlihat. Sikap inilah, kata Nirwan, yang membuat karya-karya Sagan tetap relevan.

Penulis juga mengajukan pertanyaan mengenai mengapa Sagan di Indonesia kerap dilabeli sebagai ilmuwan ateis, meski karya-karyanya kaya pengetahuan saintifik. Nirwan menanggapi dengan tawa, lalu mengatakan sosok Sagan terlalu besar bila hanya dipersempit dengan label tersebut. Ia bahkan menyebut, dalam pandangannya, Sagan bisa saja seorang sufi karena kesungguhannya menghayati semesta.

Penulis mengaku puas dengan jawaban itu dan kemudian mengetahui Nirwan pernah menulis esai panjang tentang Carl Sagan. Karena itu, penulis menilai Nirwan sebagai figur yang otoritatif ketika membicarakan Sagan.

Setelah acara, penulis sempat berbincang dan berfoto dengan Nirwan. Nirwan lalu mengajak penulis dan beberapa audiens lain berbincang di tempat yang lebih sepi untuk meneruskan obrolan seputar kesan tentang Sagan dan sains. Dalam suasana itu, penulis menilai Nirwan memperlakukan lawan bicara secara setara dan egaliter.

Penulis menceritakan bahwa saat itu ia baru sedikit membaca buku sains populer. Selain karya Sagan, ia baru membaca Sapiens karya Yuval Noah Harari. Namun Nirwan menanggapinya dengan antusias dan bahkan sempat melempar gagasan untuk membentuk diskusi atau komunitas kecil membahas buku-buku Harari.

Menurut penulis, ajakan itu tidak berhenti sebagai basa-basi. Nirwan memberikan nomor kontak dan membuat grup WhatsApp terbatas untuk membahas sains serta budaya populer. Ia juga tetap aktif menanggapi percakapan di grup dengan antusiasme yang sama seperti saat bertemu langsung.

Kabar wafatnya Nirwan yang diketahui penulis dari media sosial membuatnya merasakan duka. Penulis menyebut banyak tulisan obituarium beredar yang menggambarkan Nirwan sebagai tokoh perbukuan, pendiri Pustaka Bergerak, esais kebudayaan dan sains, serta aktivis sosial. Meski pertemuan mereka singkat, penulis menyatakan kesan itu sulit dilupakan.