Program Talk Vietnam: The Contemporary Vitality of Trinh Cong Son's Music yang baru-baru ini ditayangkan di Vietnam Today menyoroti daya hidup musik Trinh Cong Son melalui perpaduan cuplikan arsip, wawancara, percakapan antarkarakter, hingga pertunjukan. Tayangan ini membuka ruang obrolan yang lebih intim tentang karya sang komposer, dilihat dari sudut pandang seniman muda serta kawan-kawan internasional.
Dalam program tersebut, karya Trinh Cong Son digambarkan tidak mudah dipadatkan ke dalam satu perbandingan. Perbincangan dibuka dengan suara Nakatani Akari—Michiko Yoshii, sosok yang disebut sebagai inspirasi mendiang Trinh Cong Son dalam film Em dan Trinh. Dari sana, penonton diajak ke sebuah auditorium di Jepang, tempat penyanyi Tokiko Kato merayakan 55 tahun karier menyanyinya.
Tokiko Kato mengaku mengenal musik Trinh Cong Son sejak dekade 1960-an. Ketika berusia 25 tahun, ia meminta izin langsung kepada Trinh Cong Son untuk merekam lagu-lagunya dalam bahasa Jepang. Sejumlah rekaman tersebut kemudian meraih status emas di Jepang. Ia menilai kekuatan musik Trinh Cong Son terletak pada melodi yang indah dan mampu menyentuh hati, serta daya tahan lagu-lagunya melampaui waktu. “Melodinya sangat indah, bisa menyentuh hati pendengar. Tidak setiap lagu bisa bertahan selama itu,” kata Tokiko Kato.
Jejak musik Trinh Cong Son juga disebut meluas ke berbagai wilayah lain. Sejumlah acara musik Trinh Cong Son telah digelar di Eropa. Di Korea Selatan, Museum Kebudayaan Asia bahkan menghadirkan area pameran tersendiri untuk musik Trinh Cong Son sebagai bagian dari warisan budaya daerah tersebut.
Bagi banyak pendengar asing, musik Trinh Cong Son menjadi pintu masuk untuk memahami budaya Vietnam. Penyanyi Kyo York menyebut lagu-lagu Trinh Cong Son mudah menyentuh hati karena “sangat manusiawi” dan “sangat personal.”
Di sisi lain, sejumlah orang kerap menyebut Trinh Cong Son sebagai “Bob Dylan-nya Vietnam.” Namun Profesor John Schafer menilai Trinh Cong Son tidak dapat dibatasi pada satu perbandingan saja. Menurutnya, dalam musik Trinh Cong Son, kesedihan personal dan kesedihan tentang kondisi manusia kerap saling terkait dan bertransformasi satu sama lain. Ia juga menyinggung dimensi Buddhisme dalam karya-karya tersebut, yang dipahami sebagai pengenalan hubungan antara kedamaian batin dan perdamaian dunia.
Dr. Nguyen Nam, Direktur Pusat Studi Vietnam dan dosen di Universitas Fulbright Vietnam, menilai musik Trinh Cong Son memiliki kualitas filosofis, meski bukan filsafat dalam pengertian akademis yang kaku. Ia menyebut Trinh Cong Son menyampaikan filsafat hidup kepada pendengar melalui apa yang oleh Profesor John Schafer disebut sebagai “filsafat lunak.”
Program ini juga menampilkan bagaimana seniman muda mencoba memberi napas baru pada lagu-lagu Trinh Cong Son. Ha Le, misalnya, menggabungkan rap, hip hop, dan EDM untuk menghadirkan ritme yang lebih kuat dan cepat. Sementara The Thien—putra penyanyi Trinh Vinh Trinh yang menyebut Trinh Cong Son sebagai pamannya—menciptakan ulang musik Trinh dengan sentuhan house kontemporer. Ia mempertahankan melodi asli, tetapi menambahkan ritme yang lebih tegas, suara elektronik, dan energi muda.
Di lokasi syuting, The Thien bercerita bahwa ia tidak serta-merta menyukai musik pamannya sejak awal. Ketertarikan itu, menurutnya, tumbuh seiring bertambahnya usia dan kedewasaan. Dalam album debutnya, Tran The, ia memilih memasukkan elemen musik Trinh Cong Son dalam porsi terbatas. “Saya hanya menggunakan sekitar satu menit, jumlah yang sangat singkat, sebagai cara untuk mengungkapkan rasa terima kasih dan mengenang beliau, sekaligus mencoba untuk melestarikan warisannya karena kita semua ingin warisannya ‘terus hidup’,” ujar The Thien.
Ia juga menyinggung dilema yang kerap dirasakan seniman Gen Z ketika berhadapan dengan karya-karya yang dianggap “sakral.” Menurutnya, banyak orang memandang musik Trinh Cong Son sebagai sesuatu yang harus dijaga ketat sehingga perubahan cara menyanyi atau aransemen kerap memicu perdebatan. “Memang benar bahwa musik Trinh Cong Son itu sakral dan layak dihormati. Tetapi jika kita tidak mengizinkannya untuk diberi kehidupan baru, untuk terus ‘hidup,’ ia tidak akan mampu bertahan sepanjang masa,” kata The Thien.
Ia mengakui sempat menerima komentar negatif pada awalnya. Namun seiring waktu, undangan tampil semakin banyak. The Thien menyebut respons penonton—yang bersorak gembira setiap kali ia memainkan musik tersebut—menjadi penegasan bahwa upaya memberi ruang baru bagi warisan Trinh Cong Son dapat menemukan tempatnya di generasi kini.