Penyanyi muda Mono menggelar acara bertajuk “Pertemuan Pertama dengan My Dieu Ca” pada 4 Juli. Acara ini dikemas sebagai sesi mendengarkan musik yang intim bagi tamu undangan, tim, serta sejumlah penonton. Kegiatan berlangsung sejak pukul 07.00 hingga 21.30 dan dibagi menjadi lima sesi.
Dalam kesempatan tersebut, Mono untuk pertama kalinya mengumumkan judul album studio keduanya, “American Melody”, yang dijadwalkan rilis pada 9 Juli. Alih-alih menggelar peluncuran album dengan format konvensional, ia memilih konsep “pesta hening” di mana setiap peserta diberi sepasang headphone untuk mendengarkan 15 lagu dalam album secara berkelanjutan.
Selama sesi berlangsung, ponsel dan barang pribadi peserta disimpan di loker di luar ruangan. Tanpa kebisingan, tanpa pengumuman, dan tanpa gangguan, Mono ingin para peserta benar-benar menyelami musik yang diperdengarkan.
Ruang acara dirancang sebagai dunia tersendiri yang mencerminkan estetika album. Di bagian tengah terdapat struktur silindris besar yang ditutupi tirai bergambar karya seni resmi “My Melody of Song”, memadukan ilustrasi bunga, burung layang-layang, serta motif Asia Timur dalam nuansa hangat dan lembut.
Area tersebut dikelilingi tikar, bantal, dan kursi rendah untuk menciptakan suasana santai. Pengunjung dapat memilih berbaring, duduk, atau berdiri dalam posisi yang paling nyaman, seolah berada di kamar sendiri saat menikmati musik.
Mono menjelaskan alasan memilih format ini sebagai bentuk kedekatan dengan pendengar. “Ini adalah pelukan, ucapan terima kasih paling tulus dari lubuk hatiku yang ingin Mono kirimkan kepada orang-orang yang sejiwa yang selalu berjalan di sisiku,” ujarnya.
Di hadapan penonton dan media, Mono juga untuk pertama kalinya berbicara secara resmi mengenai album tersebut. Ia menyampaikan bahwa musik selalu hadir dalam perjalanannya, sekaligus menjadi ruang yang mempertemukannya dengan perhatian dan cinta dari banyak orang. “Saya menyebut lagu-lagu ini ‘Melodi Indah’ bukan karena lagu-lagu ini sempurna, tetapi karena lagu-lagu ini terjalin dari hal-hal yang paling tulus, dari emosi terdalam di hati saya,” katanya.
Album yang disebutnya sebagai “My Melody” berisi 15 lagu yang ia gambarkan sebagai 15 cerita dan 15 ungkapan emosi yang “dihargai dan dikumpulkan dari kehidupan” selama bertahun-tahun. Menurut Mono, ada lagu yang bernuansa ceria dan ada pula yang melankolis, namun keseluruhannya saling terhubung dan menghadirkan harmoni yang kaya serta mudah diingat.
Mono berharap rangkaian lagu tersebut dapat beresonansi dengan pendengar dan memberi penghiburan. “Mono selalu berharap musiknya akan seperti permata berharga, membawa harmoni dan pengalaman bersama kepada para pendengar,” ucapnya.
Dengan memilih pendekatan yang lebih hening dan personal, Mono menempatkan emosi serta pengalaman audiens sebagai pusat acara. Baginya, musik tidak hanya untuk didengar, tetapi juga dirasakan secara utuh.