Musisi Ho Thanh Danh, Kepala Cabang Musik dari Persatuan Asosiasi Sastra dan Seni Provinsi An Giang, menilai kedekatan antara puisi dan musik lahir dari kepekaan yang sama terhadap emosi. Setelah hampir 20 tahun mendedikasikan diri untuk menggubah dan menampilkan karya, ia dikenal menulis banyak lagu tentang tanah kelahirannya, An Giang, serta mengubah berbagai puisi menjadi lagu dengan nilai artistik yang kaya.
Menurut Ho Thanh Danh, dalam diri setiap musisi terdapat “jiwa seorang penyair” yang mudah tersentuh oleh bait-bait puitis. Ia menyebut, ada puisi yang ketika dibaca lantang sudah memunculkan musikalitas, membangkitkan emosi, dan memicu kreativitas. Karena itu, tidak jarang musisi dari bidang musik memilih puisi karya rekan-rekan di bidang sastra sebagai bahan komposisi.
Ia menegaskan, menggubah puisi menjadi musik bukan sekadar menempelkan melodi pada lirik, melainkan memberi “kehidupan baru” pada puisi—seperti memberi sayap musik. Meski demikian, tidak semua puisi yang bagus dapat digubah menjadi lagu. Dalam prosesnya, komposer bisa mempertahankan lirik asli, menata ulang urutan kalimat, atau mengganti beberapa kata agar sesuai dengan melodi dan ritme, namun tetap menjaga semangat dan makna karya. Ada pula pendekatan adaptasi, ketika komposer hanya meminjam inspirasi dari citra dan gagasan puisi untuk melahirkan lagu baru.
“Kecintaan saya pada puisi lah yang mendorong saya untuk mencari puisi-puisi indah untuk digubah. Sebuah lagu yang sukses yang diiringi puisi harus berasal dari harmoni antara komposer dan penyair. Ketika emosi bertemu, puisi dan musik menyatu, menciptakan efek yang mengharukan yang menyentuh hati para pendengar,” ujar Ho Thanh Danh.
Di kalangan musisi muda An Giang, Cao Thanh Chan disebut sebagai salah satu sosok menonjol dalam karya-karya yang berangkat dari puisi. Ia memilih puisi dengan bahasa sederhana namun bermakna, lalu mengolahnya menjadi melodi yang manis dan mendalam. Sejumlah karyanya mengangkat tema ibu, tentara, cinta tanah air, serta kehidupan rakyat, dengan gaya yang dinilai khas dan emosional. Dalam perjalanannya, ia juga meraih berbagai penghargaan pada kompetisi musik tingkat provinsi dan regional.
Salah satu karya yang dikenal luas adalah lagu Nostalgia untuk Sebuah Sungai, yang digubah dari puisi Mengenang Sebuah Sungai karya Hoang Tien. Lagu itu menggambarkan sosok prajurit yang merindukan kampung halaman pada masa perang. Dalam penggarapannya, Cao Thanh Chan memilih beberapa baris dari puisi, menyesuaikan lirik agar sesuai dengan struktur musik, sambil mempertahankan semangat karya aslinya. Lagu tersebut meraih juara pertama Kompetisi Penulisan Lagu Regional Delta Mekong 2021 dan juara B pada Festival Musik Nasional 2023 (Tahap I).
Cao Thanh Chan mengatakan, menggubah puisi menjadi musik memberi pijakan untuk menggali emosi yang dipantik oleh teks. Namun, agar lagu benar-benar beresonansi dengan pendengar, komposer perlu memahami isi dan konteks penciptaan puisi, sekaligus menanamkan emosi pribadi ke dalam melodi. “Saya selalu percaya bahwa sebuah lagu yang bagus harus memiliki emosi, lirik yang bermakna, serta nilai artistik dan humanistik. Resonansi emosional ini merupakan elemen penting yang membantu saya sepenuhnya menyampaikan keindahan puisi ke dalam musik,” katanya.
Perpaduan puisi dan musik, sebagaimana digambarkan para musisi An Giang, bukan hanya melahirkan karya dengan nilai artistik, tetapi juga membuka ruang hidup baru bagi puisi. Melalui lagu, pesan tentang cinta tanah air, negara, rakyat, dan kehidupan dapat menjangkau pendengar lebih luas. Bagi mereka, setiap lagu yang berangkat dari puisi menjadi pertemuan dua jiwa artistik—tempat emosi terus bergaung dan nilai-nilai keindahan tetap terjaga di hati para pencinta seni.