Dalam rentang dua hari pada Maret 2018, kata “sontoloyo” muncul di dua media berbeda—dalam berita bertema sastra dan opini bertema politik. Kemunculan itu memunculkan pertanyaan lama: apa sebenarnya makna “sontoloyo”, dan bagaimana pergeseran pengertiannya dari masa ke masa?
Dipakai dalam sastra dan politik
Di Kompas edisi 19 Maret 2018, kata “sontoloyo” muncul dalam berita berjudul “Sapardi dan Tokoh-tokoh Usilnya”. Dalam peluncuran novel Yang Fana Adalah Waktu, Sapardi Djoko Damono menyebut tokoh Sarwono sebagai “tokoh sontoloyo” dengan bandel yang “minta ampun”.
Sehari kemudian, Republika edisi 20 Maret 2018 memuat opini Erwin Moeslimin Singajuru berjudul “Demokrasi Sontoloyo”. Di sana, kata itu dipakai sebagai bentuk kritik keras, antara lain melalui kalimat yang menyerukan agar “orang-orang yang bermain dengan demokrasi sontoloyo” terus diperangi, disertai kekhawatiran demokrasi “dirongrong, dibelokkan, dibajak, dan di-sontoloyo-kan”.
Dalam dua pemakaian tersebut, kata “sontoloyo” tampil tanpa penjelasan rinci dari penulis. Situasi ini membuka kemungkinan bahwa penulis mengandaikan pembaca sudah memahami maknanya, meski di abad ke-21 kata-kata baru terus bermunculan dan makna kata lama bisa bergeser.
Jejak lama: “Islam Sontolojo” dan kebingungan pembaca
Istilah itu mengingatkan pada tulisan Soekarno di majalah Pandji Islam pada 1940 berjudul “Islam Sontolojo”. Judul tersebut memantik rasa ingin tahu, tetapi juga menimbulkan kebingungan pembaca mengenai asal-usul dan arti kata “sontolojo/sontoloyo”.
Di majalah Alfatch edisi 20 Juni 1940, rubrik “Lamdahoer Linie” memuat semacam polemik yang menunjukkan pembaca mempertanyakan apakah kata itu berasal dari bahasa Jawa, Sanskerta, Bali, atau Kawi. Rubrik tersebut menyebut “sontolojo” sebagai ungkapan makian dengan arti luas dan belum memiliki ketetapan pasti.
Rubrik itu juga menampilkan daftar arti yang sangat beragam—dari “bodoh” dan “dungu” hingga sejumlah istilah lain yang banyak tampak berasal dari bahasa Jawa. Namun, penjelasan tersebut disampaikan tanpa rujukan kamus atau kutipan ahli bahasa, sehingga kebingungan pembaca tidak sepenuhnya terjawab.
Masuk kamus dan mengalami pergeseran arti
Beberapa tahun kemudian, kata itu tercatat dalam kamus. Poerwadarminta memasukkan lema “sontolojo” dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (1952) dengan arti “bodoh sekali” atau “dungu”, disertai keterangan “dp” yang menunjukkan pemakaian dalam percakapan.
Pada edisi 1976, setelah kamus tersebut diolah kembali oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, pengertiannya berubah menjadi: “kurang baik seperti konyol, tidak beres, bodoh.”
Dalam Tesamoko: Tesaurus Bahasa Indonesia (2016) susunan Eko Endarmoko, “sontoloyo” dicatat sebagai sinonim antara lain untuk “brengsek” dan “konyol”. Jejak ini menunjukkan bahwa kata tersebut tetap hidup, meski dengan nuansa yang dapat bergeser mengikuti konteks.
Konteks pemakaian Soekarno
Dalam esainya, Soekarno menautkan istilah “Islam sontolojo” pada laporan di majalah Pemandangan tentang ulah seorang guru agama yang mencabuli murid. Guru itu berdalih memiliki pemahaman agama dan wibawa, sementara Soekarno menilai tindakan tersebut sebagai bentuk memperalat agama demi berahi, termasuk menghalalkan perbuatan dosa menurut dalih hukum fikih.
Soekarno tidak segera memberikan definisi eksplisit “sontolojo” dalam esai itu. Pembaca diajak memahami makna melalui uraian tentang tindakan cabul, manipulasi agama, dan kebohongan yang menjerumuskan. Di bagian akhir, Soekarno menutup dengan peringatan agar orang tidak merasa sudah mukmin, karena “banjak di kalangan kita jang Islam-nja masih Islam sontolojo”.
Kata lawas yang terus dipakai
Puluhan tahun setelah esai Soekarno, kata “sontoloyo” tetap muncul dalam ruang publik, termasuk pada 2018 melalui pemakaian di berita sastra dan opini politik. Kemunculannya memperlihatkan bahwa kata-kata lawas masih dianggap relevan dan efektif untuk menandai karakter, kritik, atau penilaian, sekaligus membuka kembali pembacaan pada sejarah bahasa, pers, sastra, agama, dan demokrasi.
- Kata “sontoloyo” muncul di media pada Maret 2018 dalam konteks sastra dan politik.
- Jejak pemakaian menonjol dapat ditelusuri hingga esai Soekarno “Islam Sontolojo” (1940).
- Makna dalam kamus mengalami pergeseran: dari “bodoh sekali/dungu” (1952) menjadi “konyol/tidak beres/bodoh” (1976), dan tercatat sebagai sinonim seperti “brengsek” dan “konyol” dalam tesaurus (2016).

