BERITA TERKINI
Membaca ‘Senyawa’ Sastra dan Seni Rupa: Dari Dalí–Picasso hingga Kolaborasi di Bali

Membaca ‘Senyawa’ Sastra dan Seni Rupa: Dari Dalí–Picasso hingga Kolaborasi di Bali

Diskusi bertajuk “Senyawa” yang mempertemukan seni sastra dan seni rupa digelar pada 1 Juni 2025 sore di Sawidji Studio, Denpasar. Acara ini diinisiasi perupa Made Kaek bekerja sama dengan Sawidji Gallerey & Studio. Meski relasi lintas-disiplin antara sastra dan seni rupa bukan hal baru, perbincangan semacam ini dinilai tetap relevan karena kolaborasi dua bidang seni kerap melahirkan karya yang kuat.

Dalam catatan yang mengiringi diskusi tersebut, hubungan antara teks dan visual dipotret melalui sejumlah contoh dari sejarah seni dunia. Salvador Dalí, misalnya, pernah membuat karya rupa sebagai respons atas karya sastra “Alice’s Adventures in Wonderland” karya Lewis Carroll. Dalí menginterpretasikan kisah itu melalui lensa surealis dengan menghadirkan elemen-elemen ganjil dan bentuk-bentuk abstrak, sehingga membuka cara pandang baru terhadap narasi yang sudah dikenal luas.

Dalí juga dikenal merespons karya klasik “Divine Comedy” karya Dante Alighieri. Ia disebut sempat diminta pemerintah Italia untuk membuat karya rupa dalam rangka peringatan 700 tahun kelahiran Dante, meski proyek tersebut akhirnya tidak digunakan secara resmi. Kendati demikian, karya yang dihasilkan tetap dipandang sebagai bagian penting dari interpretasi visual atas teks klasik. Dalí pun mengerjakan karya rupa untuk “Don Quixote” karya Miguel de Cervantes, menggunakan pendekatan yang eksperimental dan ekspresif untuk menangkap semangat petualangan dan absurditas dalam cerita.

Selain Dalí, Pablo Picasso juga tercatat membuat sketsa tentang Don Quixote pada 1955. Sketsa itu dimuat dalam jurnal mingguan Prancis Les Lettres Francaises edisi 18–24 Agustus, untuk menandai ulang tahun ke-350 bagian pertama “Don Quixote” karya Cervantes. Dalam rujukan yang dikutip dari situs pablopicasso.org, sketsa tersebut menggambarkan Don Quixote de la Mancha, kudanya Rocinante, pengawalnya Sancho Panza, keledainya Dapple, matahari, serta beberapa kincir angin, dengan garis-garis tebal di atas latar putih.

Picasso juga disebut membuat seri sketsa berdasarkan mitos “Metamorphosis” karya Ovid. Karya itu dibuat pada 1930 setelah diminta penerbit Swiss Albert Skira. Dalam kurun satu bulan, Picasso menghasilkan tiga puluh karya cukilan yang dicetak oleh Louis Fort. Catatan tersebut menyebut tema “Metamorphosis” dipandang sejajar dengan kehidupan Picasso pada masa itu, termasuk sosok perempuan yang dikaitkan dengan Marie-Thérèse Walter. Kekhasan seri ini digambarkan terletak pada kesederhanaan goresan yang menegaskan jalinan tubuh dan garis, serta menghidupkan kembali tradisi menggambar yang lebih klasik.

Relasi sastra dan seni rupa, dalam catatan itu, dipahami sebagai pertemuan dua medium komunikasi: verbal dan visual. Di Bali, “senyawa” semacam ini juga disebut telah lama berlangsung. Salah satu contoh yang diangkat ialah pertemuan karya rupa pelukis Made Gunawan dengan puisi-puisi penyair Sahadewa dalam buku “Gajah Mina”. Prof. Darma Putra menyebut alih kreasi puisi, lukisan, dan sketsa tersebut dengan istilah “Pasatmian”.

Kolaborasi lain datang dari perupa I Wayan Sujana “Suklu” yang bekerja bersama penulis Ni Made Sri Andani dalam buku alih media bertajuk “Sang Inisiator”. Suklu juga berkolaborasi dengan penyair Anak Agung Sagung Masruscitadewi dalam buku “Nawa Sena”. Dalam catatan tersebut, ada rencana karya rupa dari “Nawa Sena” dan “Sang Inisiator” akan dipamerkan. Suklu menyebut kolaborasi itu sebagai “intermingle”, sementara Masruscitadewi memberi istilah “Lango”, dengan makna yang dinilai sepadan.

Di sisi lain, penyair Tan Lioe Ie menggunakan istilah “eksphrasis” untuk puisi-puisi yang terstimulasi dari karya seni rupa dan seni lainnya. Ragam istilah itu menunjukkan luasnya cara para seniman memaknai perjumpaan teks dan visual, meski substansinya tetap bertumpu pada upaya saling menerjemahkan daya ungkap.

Catatan tersebut juga memuat pertanyaan tentang posisi seni rupa dalam lanskap penghargaan internasional yang populer seperti Nobel atau Pulitzer. Penulis mengisahkan pernah mempertanyakan hal itu kepada almarhum penyair Frans Nadjira. Dalam pandangan yang dikemukakan, seni rupa dan sastra sama-sama merupakan medium ekspresi dan produk intelektualitas, dengan perbedaan utama pada media ungkap: visual dan verbal.

Untuk menegaskan argumen, dicontohkan karya “Guernica” Picasso yang disebut memenuhi kriteria kemanusiaan—sebagai pernyataan antiperang yang kuat dalam seni modern—karena memuat refleksi intelektual dan dinilai menggugah kesadaran. Namun, catatan itu juga menyebut Nobel hanya memiliki lima kategori utama, ditambah penghargaan bidang ekonomi yang didirikan pada 1968 oleh bank sentral Swedia, sehingga seni rupa tidak termasuk di dalamnya.

Meski terdapat penghargaan seni rupa internasional seperti Turner Prize, Praemium Imperiale, dan Golden Lion di Venice Biennale, popularitasnya dinilai tidak sebanding dengan Nobel atau Pulitzer. Perbincangan mengenai hal itu, menurut catatan tersebut, pernah berlangsung namun terhenti, dan rasa ingin tahu yang tersisa bertahan lama tanpa kesimpulan pasti.

Dalam konteks diskusi 1 Juni 2025, penulis juga menyebut tidak sepenuhnya menangkap penjelasan Prof. Darma Putra karena gangguan pendengaran. Meski demikian, ia menekankan pentingnya analisis unsur bahasa visual untuk memahami bagaimana karya seni “berbicara” tanpa kata. Gagasan itu dirumuskan sebagai “kosa rupa”, yang dipadankan dengan “kosa kata” dalam bahasa.

Catatan tersebut kemudian membandingkan kekuatan seni rupa dan sastra. Seni rupa dipahami menyampaikan ide, pesan, imajinasi, dan emosi melalui elemen visual seperti warna, bentuk, dan tekstur, serta cenderung dapat dirasakan lintas budaya karena tidak bergantung pada bahasa. Sementara sastra menyalurkan pengalaman manusia melalui bahasa, narasi, dan struktur yang kompleks, dengan simbolisme dan kiasan yang menuntut interpretasi kontekstual.

Rujukan pada buku “Visual Thinking” karya Rudolf Arnheim turut disertakan, dengan penekanan bahwa memahami dan memproses informasi visual merupakan hal penting dalam seni dan desain. Pada akhirnya, pertanyaan tentang apakah seni rupa lebih universal daripada sastra tidak diposisikan sebagai jawaban mutlak. Keduanya dinilai menawarkan cara pandang berbeda: seni rupa memberi kesan visual-intuitif, sedangkan sastra menantang pembaca mengurai makna di balik kata-kata.

Justru ketika sastra dan seni rupa “bersenyawa”, tantangan pemahaman menjadi berlipat: penikmat dituntut menguasai sekaligus bahasa verbal dan bahasa visual. Catatan tersebut menutup dengan sikap yang membiarkan pertanyaan-pertanyaan itu tetap terbuka, sebagai ruang untuk terus memahami perbedaan yang mungkin menyimpan persamaan di antara dua medium seni tersebut.