Grup musik MALIQ & D’Essentials tengah mempersiapkan album kesepuluh mereka. Kabar ini disampaikan setelah para personel menyaksikan pertunjukan musikal “Senja Teduh Pelita” yang terinspirasi dari lagu-lagu MALIQ & D’Essentials.
MALIQ & D’Essentials, yang album perdananya dirilis pada 2005, beranggotakan Angga Puradiredja, Indah Wisnuwardhana, Arya 'Lale' Aditya Ramadhya, Dendy 'Javafinger/Jawa' Sukarno, Ilman Ibrahim Isa, dan Widi Puradiredja.
Penabuh drum MALIQ & D’Essentials, Widi Puradiredja, mengatakan pertunjukan musikal tersebut memotivasinya untuk membuat karya yang lebih baik. Ia mengaku proses pengerjaan album baru juga menghadirkan tekanan tersendiri.
“Pasti ini jadi pressure. Iya, kita lagi bikin album kesepuluh, langsung ‘aduh lagu gue udah enak-enak belum ya lagunya’,” tutur Widi saat temu media usai pertunjukan musikal “Senja Teduh Pelita” di Jakarta, pada Jumat.
Widi menilai hadirnya “Senja Teduh Pelita” terjadi pada momen yang tepat. Ia menyebut, setelah 22 tahun berkarya, MALIQ & D’Essentials telah melalui banyak perubahan cara berpikir dalam menciptakan lagu, termasuk mempertimbangkan selera penggemar yang berkembang lintas generasi serta melihat situasi hari ini.
Namun melalui musikal tersebut, Widi merasakan kembali makna lagu-lagu MALIQ & D’Essentials yang sebagian besar dibuat sekitar 10 hingga 15 tahun lalu.
“Jadi tuh setiap karya yang bernilai minimal dari penciptanya pasti akan kayaknya ada celah, jalannya suatu hari nanti selama karya itu dibuat dengan hati ya,” ujar Widi.
Dalam kesempatan yang sama, produser sekaligus sutradara dan penulis naskah musikal “Senja Teduh Pelita”, Nuya Susantono, menjelaskan proses pemilihan lagu untuk pertunjukan itu dilakukan dengan mendengarkan seluruh lagu MALIQ & D’Essentials dari sembilan album. Menurutnya, proses tersebut membantu membangun cerita yang diusung dalam musikal.
“Menurut aku sangat manusiawi dan sangat berpotensi menjadi cerita yang penuh petualangan dan eksplorasi, enggak hanya literal eksplorasi alam dan dunia luar, tapi juga eksplorasi ke siapa diri kita dan apa values kita, apa yang sedang kita perjuangkan di dunia ini,” kata Nuya.
Musikal “Senja Teduh Pelita” mengisahkan cerita fiksi ilmiah tentang sekelompok anak yang berusaha membangun kembali dunia setelah peradaban runtuh, sekaligus mengajak penonton merefleksikan hubungan manusia dengan alam dan masa depan.
Pertunjukan ini membawa penonton ke masa depan, ketika dunia digambarkan porak-poranda akibat perubahan iklim, pengelolaan energi dan pembangunan yang tidak berkelanjutan, pandemi, serta peperangan antarbangsa. Dalam cerita tersebut, populasi manusia menurun drastis, tanah subur dan air bersih menjadi langka, hingga suatu hari seluruh orang dewasa menghilang dan meninggalkan sembilan anak menghadapi dunia yang telah mereka wariskan.
Musikal “Senja Teduh Pelita” dijadwalkan berlangsung di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, pada 3 Juli hingga 12 Juli 2026.