BERITA TERKINI
Madonna Kembali Lewat "Confessions II" di Usia 67, Dapat Pujian dan Ubah Cara Pandang Industri

Madonna Kembali Lewat "Confessions II" di Usia 67, Dapat Pujian dan Ubah Cara Pandang Industri

Madonna kembali menjadi sorotan pada 2026 setelah merilis album studio ke-15 berjudul Confessions II. Dirilis usai hiatus tujuh tahun, album ini menuai ulasan positif dari sejumlah media musik internasional dan sekaligus memunculkan kembali perbincangan tentang posisi artis perempuan berusia di atas 60 tahun di industri musik.

Jika sekitar satu dekade lalu banyak pihak menilai Madonna telah melewati puncak kariernya, Confessions II justru membuat sebagian kritikus meninjau ulang penilaian tersebut. Variety, dalam ulasannya, menyebut album ini sebagai “album terbaik Madonna dalam dua dekade” dan menilai sang penyanyi kembali ke ranah musik dansa yang membesarkan namanya.

Variety juga menekankan bahwa kekuatan utama Confessions II terletak pada pilihan Madonna untuk tidak lagi berusaha tampil sebagai artis yang lebih muda dari usianya. Setelah album seperti Rebel Heart (2015) dan Madame X (2019) sempat dikritik karena dianggap terlalu mengejar tren pasar atau terlalu ekstrem dalam eksperimen, kali ini Madonna memilih jalur yang lebih dekat dengan keahliannya: musik dansa.

Confessions II disebut melanjutkan semangat Confessions on a Dance Floor (2005), yang kerap dipandang sebagai salah satu tonggak penting musik pop awal abad ke-21. Madonna kembali menggandeng produser Stuart Price dan menyusun album dalam format continuous mix, dengan 16 lagu yang mengalir tanpa putus layaknya set DJ panjang. Ragam warna disko, house, techno, dan musik elektronik menjadi benang merah yang mengikat keseluruhan album.

Menurut Variety, album ini tidak sekadar berupaya mengulang sukses masa lalu. Sebaliknya, Confessions II mengeksplorasi energi lantai dansa sebagai ruang kebebasan, tempat orang bisa menemukan kembali diri mereka ketika sorotan meredup.

Yang dianggap paling berbeda kali ini bukanlah pilihan musik dansanya—karena Madonna sudah berkali-kali merilis materi di wilayah tersebut—melainkan cara ia menempatkan dirinya. Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun, ia dinilai tidak lagi sibuk membuktikan bahwa dirinya lebih muda dari usia sebenarnya.

Di dalam album, Madonna juga memasukkan momen-momen yang lebih personal. Lagu Danceteria menengok kembali masa-masa awalnya di New York pada 1980-an, ketika ia membawa kaset demo “Everybody” kepada DJ Mark Kamins. Dalam Fragile, ia memberi penghormatan kepada saudara laki-lakinya, Christopher Ciccone, yang disebut baru meninggal dunia setelah bertahun-tahun mengalami konflik. Sementara di The Test, Madonna berduet dengan putrinya, Lourdes Leon, dan untuk pertama kalinya mengakui bahwa ketenarannya secara tidak sengaja memberi tekanan pada sang anak. Variety menilai bagian-bagian intim tersebut membuat album ini terasa lebih dalam, bukan hanya kumpulan lagu untuk berdansa.

Kesuksesan Confessions II juga dipandang tidak muncul tiba-tiba. Album ini hadir setelah Celebration Tour yang merayakan lebih dari 40 tahun kariernya berakhir dengan pendapatan lebih dari 225 juta dolar AS, menjadikannya salah satu tur berpendapatan tertinggi dalam sejarah oleh artis perempuan. Billboard juga mencatat Madonna sebagai artis perempuan pertama yang memiliki enam tur dengan pendapatan melampaui 100 juta dolar AS.

Selepas tur tersebut, pemutaran daring katalog klasik Madonna dilaporkan terus meningkat di Spotify dan Apple Music. Sejumlah lagu seperti “Hung Up”, “Like a Prayer”, “Material Girl”, dan “Vogue” kembali muncul di tangga lagu streaming. Para analis menilai keberhasilan tur itu membantu menempatkan Confessions II sebagai babak baru, bukan sekadar produk nostalgia.

Di luar musiknya, kisah Madonna juga dibaca sebagai bagian dari perubahan yang lebih luas. Selama puluhan tahun, industri musik dinilai cenderung memberi lebih banyak ruang bagi artis pria yang menua dibanding artis perempuan. Banyak penyanyi perempuan setelah usia 50 tahun disebut nyaris menghilang dari arus utama pop. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, tren itu mulai bergeser.

Sejumlah nama disebut sebagai contoh perubahan tersebut: Beyoncé mencetak rekor lewat Cowboy Carter di usia 40-an; Kylie Minogue melakukan comeback dengan “Padam Padam” setelah berusia 50 tahun; Cher terus merilis album baru di usia hampir 80 tahun; sementara Janet Jackson, Mariah Carey, dan Celine Dion mempertahankan pengaruh melalui tur serta platform digital.

Dalam konteks ini, Madonna menjadi salah satu contoh paling menonjol. Di usia 67 tahun, ia dinilai tidak sekadar menjual kenangan, melainkan tetap merilis album baru, meraih pujian kritis, dan ikut berada dalam percakapan musik pop kontemporer.

Confessions II pada akhirnya tidak hanya memunculkan pertanyaan apakah Madonna akan kembali mencetak hit sebesar “Hung Up”. Album ini, menurut penilaian sejumlah kritikus, menunjukkan hal lain: seorang seniman legendaris masih dapat terus berkarya tanpa menyangkal usia atau mengejar tren yang cepat berlalu. Lebih dari empat dekade sejak menapaki klub-klub malam di Lower East Side, New York, Madonna kembali menegaskan posisinya di garis depan—bukan sebagai ikon nostalgia, melainkan sebagai musisi yang tetap bergerak maju.