DENPASAR — Musisi Rahming menghadirkan pesan sejarah dan nilai perjuangan leluhur Bali melalui lagu berjudul Puputan Klungkung. Karya ini ia sebut berangkat dari ketertarikannya pada makna puputan yang menurutnya menyimpan semangat pengorbanan tulus tanpa pamrih.
Ide lagu tersebut muncul secara tidak sengaja ketika Rahming bersama timnya dipercaya menangani Semarapura Festival ke-8 melalui perusahaannya, Vishaka Event Indonesia. Dari keterlibatan itu, ia terdorong untuk mengangkat kisah heroik puputan ke dalam bentuk karya musik.
Rahming mengatakan, setelah membaca sejarah, ia menemukan makna yang kuat di balik peristiwa tersebut. “Saya coba membaca sejarah, dan ternyata maknanya luar biasa. Ini tentang pengorbanan tulus tanpa pamrih,” ujarnya.
Menurutnya, nilai puputan tidak hanya berkaitan dengan peristiwa sejarah seperti Puputan Badung, Klungkung, atau Margarana, tetapi juga dapat dimaknai sebagai semangat hidup yang relevan hingga kini. Ia menekankan pentingnya ketulusan dalam bekerja dan berbuat.
“Puputan itu jiwa pengorbanan. Kita harus bekerja dengan tulus, tanpa pamrih. Bukan berarti tidak mendapat apa-apa, tapi semua harus diawali dengan ketulusan,” kata Rahming.
Ia berharap lagu ini dapat menjadi pengingat, terutama bagi generasi muda, bahwa kehidupan yang dinikmati saat ini tidak terlepas dari perjuangan para leluhur. Selain Puputan Klungkung, Rahming juga menyiapkan karya lain, termasuk rencana menggelar Festival Puputan yang akan berkeliling kabupaten.