BERITA TERKINI
KUD Sadar Sejahtera Dorong Perputaran Ekonomi Warga Empat Desa di Musi Rawas

KUD Sadar Sejahtera Dorong Perputaran Ekonomi Warga Empat Desa di Musi Rawas

Dampak perkebunan kelapa sawit disebut masih dirasakan masyarakat di empat desa—Karyasakti, Beliti Jaya, Petrans Jaya, dan Karya Mukti—yang tergabung dalam KUD Sadar Sejahtera. Kesejahteraan anggota, menurut pengurus koperasi, terlihat dari perputaran ekonomi yang lebih stabil serta peluang pendidikan anak-anak pekebun hingga jenjang perguruan tinggi.

Pernyataan itu disampaikan Ketua KUD Sadar Sejahtera, Arman Fahmi, dari Desa Beliti Jaya, Kecamatan Muara Kelingi, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, melalui sambungan telepon beberapa waktu lalu. Ia menilai keberadaan perkebunan kelapa sawit di wilayah tersebut memberikan dampak besar bagi masyarakat, terutama bagi anggota koperasi.

Arman mengatakan, harga tandan buah segar (TBS) sawit menjadi faktor penting bagi kemampuan ekonomi pekebun, termasuk mereka yang memiliki kewajiban angsuran kendaraan. Ia berharap harga TBS tidak berada di bawah rata-rata provinsi karena penurunan harga, menurutnya, langsung memengaruhi kemampuan anggota dalam memenuhi kebutuhan dan kewajiban bulanan.

Ia juga menilai pernyataan pemerintah mengenai kontribusi perkebunan kelapa sawit terhadap perekonomian nasional tidak keliru. Arman mengingat kembali periode pertengahan 1990-an ketika perusahaan perkebunan mulai membuka lahan. Pada masa itu, ia menyebut banyak peluang kerja tersedia bagi warga setempat.

Sebelum perusahaan perkebunan hadir, Arman menyampaikan, sebagian warga meninggalkan desa untuk mencari nafkah ke kota atau wilayah lain. Namun setelah pembukaan dan pengelolaan lahan sawit dimulai, banyak warga yang kembali ke desa untuk bekerja di perusahaan perkebunan.

Arman menyebut dirinya dan warga yang tergabung dalam KUD Sadar Sejahtera merupakan bagian dari kelompok transmigran yang mengikuti perkembangan ekonomi setempat sejak awal. Ia mengenang masa ketika lahan garapan dari program transmigrasi belum memberikan hasil memadai. Menurutnya, upaya bertani saat itu kerap menghadapi kendala, mulai dari gagal panen hingga risiko kebakaran pada tanaman tertentu saat musim kemarau.

Memasuki sekitar 1995, perusahaan perkebunan sawit yang berperan sebagai inti mulai membuka lahan dan menyerap tenaga kerja. Dalam perkembangannya, perusahaan juga mengembangkan pola kemitraan atau plasma yang kembali membutuhkan tenaga kerja untuk pengelolaan kebun.

Arman menuturkan, kebun plasma mulai dibuka sekitar 1997–1998. Ia mengatakan kondisi tersebut mendorong warga yang sempat merantau untuk pulang dan bekerja di perusahaan maupun kebun plasma. Sejak itu, ia menilai roda ekonomi di desa-desa sekitar mulai bergerak karena tersedianya pekerjaan dan upah.

Menurut Arman, keberadaan kebun inti dan plasma membuat masyarakat memperoleh penghasilan dari upah kerja serta menerima bagian hasil kemitraan setiap bulan. Meski pada awalnya penghasilan tersebut dinilai baru cukup untuk memenuhi kebutuhan harian, ia menyebut warga tidak lagi mengalami kesulitan seperti sebelumnya dalam mencukupi kebutuhan dasar.