BERITA TERKINI
Kontroversi Musik AI Merambah Panggung Live di Australia, Musisi Protes

Kontroversi Musik AI Merambah Panggung Live di Australia, Musisi Protes

Perdebatan soal penggunaan kecerdasan buatan (AI) di industri musik Australia memasuki fase baru. Jika sebelumnya AI disorot karena membanjiri platform streaming, kini teknologi tersebut mulai muncul dalam pertunjukan musik langsung, memicu protes dari kalangan musisi.

Kontroversi ini mencuat setelah band alternatif asal Sydney, Defair, tampil dalam sebuah acara musik di Bootleggers, Newtown, Sydney. Gitaris Defair, Aidan Sammut, mengatakan dirinya baru mengetahui bahwa salah satu penampil di acara tersebut menggunakan musik dan personel yang dihasilkan oleh AI.

Menurut Sammut, pihak penyelenggara tidak pernah memberi tahu bahwa line-up acara turut menghadirkan proyek musik berbasis AI. Ia menyebut para musisi yang tampil mengira akan berbagi panggung dengan sesama musisi yang berkarya secara konvensional.

Belakangan, salah satu musisi yang terlibat dalam acara itu disebut menyadari adanya kejanggalan setelah melihat akun media sosial penampil tersebut. Konten di akun itu dipenuhi visual berbasis AI, sementara musik, lirik, hingga vokalnya diduga juga dibuat menggunakan teknologi generatif.

Sammut menilai situasi tersebut sebagai penghinaan bagi musisi yang menghabiskan waktu bertahun-tahun mengasah kemampuan. Ia juga berpendapat musik AI dapat hadir karena dilatih menggunakan karya-karya yang sebelumnya diciptakan oleh musisi manusia.

Ia menegaskan panggung musik semestinya menjadi ruang bagi kreativitas dan ekspresi autentik, bukan tempat bagi konten yang sepenuhnya diproduksi oleh mesin. Menurutnya, pertunjukan langsung selama ini merupakan salah satu ruang terakhir bagi penonton untuk menikmati interaksi nyata antara musisi dan audiens.

Sammut juga mengingatkan kehadiran AI di panggung berpotensi mengurangi nilai interaksi tersebut sekaligus mempersempit kesempatan musisi baru untuk tampil. Video protesnya kemudian viral di komunitas musik independen Australia.

Menanggapi sorotan tersebut, pendiri Good Intent—agensi yang menyusun line-up acara—mengakui adanya kesalahan dalam proses kurasi. Ia menjelaskan penampil itu direkomendasikan oleh agensi lain sebagai seorang produser yang menggunakan vokal secara langsung saat tampil.

Namun, setelah meninjau kembali akun media sosial sang penampil, Good Intent menyimpulkan bahwa konten yang digunakan memang secara jelas memanfaatkan AI. Good Intent maupun Bootleggers menegaskan mereka tidak memiliki kebijakan untuk mempromosikan musik yang sepenuhnya dihasilkan AI.

Mereka menyatakan organisasi tersebut sejak awal didirikan untuk mendukung musisi independen dan menjadi wadah bagi talenta baru mengembangkan karier di industri musik.

Kecaman juga datang dari Sydney Music.net, platform informasi konser di Australia. Mereka menyebut kehadiran musisi berbasis AI dalam satu panggung bersama musisi konvensional sebagai bentuk ketidakadilan bagi seniman yang menciptakan karya secara orisinal.

Platform itu menyatakan tidak akan memasukkan acara yang melibatkan penampil AI dalam daftar konser mereka karena bertentangan dengan kebijakan “No AI” yang diterapkan.

Perdebatan ini berlangsung di tengah meningkatnya tekanan industri kreatif Australia terhadap perusahaan teknologi besar. Musisi, penulis, pembuat film, hingga perusahaan media mendorong pemerintah mempertahankan perlindungan hak cipta di era AI.

Mereka menolak wacana yang memungkinkan perusahaan teknologi melatih model AI menggunakan karya kreatif tanpa izin maupun kompensasi kepada pemilik hak cipta. Pelaku industri menilai pelonggaran aturan tersebut berpotensi mengalihkan miliaran dolar nilai ekonomi ke perusahaan teknologi global sekaligus mengancam kepemilikan karya budaya Australia di masa depan.

Bagi banyak musisi, isu AI dinilai bukan lagi sekadar inovasi teknologi, melainkan menyangkut keberlangsungan profesi kreatif.