Enam komunitas iman di Indonesia berkumpul dalam Workshop Konsolidasi Aksi Iklim Lintas Iman bertajuk “Dari Dialog Menuju Aksi Kolaboratif: Membangun Gerakan Ekologi Lintas Agama yang Berkelanjutan” di Ecodeck, Hutan Kota by Plataran, Jakarta, Rabu (10/6). Kegiatan ini diselenggarakan Yayasan Amanah Daya Nusantara (AYANA) bersama Social Trust Fund (STF) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Forum tersebut menjadi tindak lanjut dari rangkaian diskusi yang melibatkan perwakilan Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu untuk memperkuat kolaborasi lintas iman dalam merespons krisis iklim.
Eco Bhinneka Muhammadiyah turut berpartisipasi melalui kehadiran Hening Parlan selaku Direktur Eco Bhinneka Muhammadiyah sekaligus Fasilitator Nasional Interfaith Rainforest Initiative (IRI) Indonesia, serta Dzikrina Farah Adiba sebagai Program Manager SMILE (Strengthening Youth Multifaith Leader Initiative for Climate Justice Through Ecofeminism) Eco Bhinneka Muhammadiyah.
Direktur Eksekutif AYANA, Rizal Algamar, menilai rendahnya pemahaman masyarakat mengenai krisis iklim masih menjadi tantangan besar untuk memperluas aksi iklim. Ia menyebut riset AYANA terhadap lebih dari 4.000 responden menunjukkan sekitar 70 persen masyarakat di Pulau Jawa belum memahami isu krisis iklim secara utuh.
Menurut Rizal, tokoh agama memiliki tingkat kepercayaan tinggi di masyarakat sehingga berpeluang besar menjadi penggerak edukasi iklim dengan bahasa sederhana dan berbasis nilai yang diyakini umat. Ia juga menekankan pentingnya pendekatan berbasis nilai (value-based segmentation) agar program lingkungan lahir dari keyakinan masyarakat dan tidak dipandang sebagai agenda dari luar. Meski seluruh agama memiliki landasan kuat untuk mendorong aksi iklim, ia menilai berbagai inisiatif yang sudah berjalan masih cenderung terfragmentasi dan belum terhubung dalam gerakan yang lebih besar.
Sementara itu, Prof. Amelia Fauzia dari STF UIN Syarif Hidayatullah Jakarta memaparkan hasil enam diskusi kelompok terarah yang menunjukkan tiap komunitas iman telah memiliki program lingkungan unggulan. Di kalangan Muslim, misalnya, terdapat Eco-Pesantren dan Green Waqf. Di gereja, ada Bulan Lingkungan dan Gerakan Tanpa Plastik. Komunitas Buddha menjalankan Eco-Vihara, komunitas Hindu mengembangkan Green Dharma dan konservasi mangrove, sedangkan lingkungan Katolik memiliki Laudato Si’ dan gerakan ekoteologi.
Amelia menilai tantangan utamanya adalah menghubungkan berbagai inisiatif tersebut agar dampaknya lebih luas. Ia juga menyebut sejumlah kendala yang masih dihadapi bersama, antara lain rendahnya literasi lingkungan masyarakat, keterbatasan pendanaan jangka panjang, lemahnya koordinasi antar komunitas, serta minimnya regenerasi kader muda.
Berdasarkan rangkaian diskusi tersebut, forum merekomendasikan empat agenda prioritas bersama, yakni Gerakan Nasional Rumah Ibadah Ramah Lingkungan Lintas Iman, pembentukan Sekretariat Bersama, Program Pemuda Lintas Iman untuk Keadilan Iklim, serta pengembangan Filantropi Hijau Lintas Iman.
Dalam forum itu, Hening Parlan mengusulkan pengembangan Faith-Based Climate Resilience Hub, sebuah model aksi iklim lintas iman yang mengintegrasikan pendidikan iklim, ekonomi hijau, konservasi lingkungan, dan penguatan ketahanan masyarakat. Ia menilai komunitas iman memiliki modal sosial kuat untuk membangun respons kolektif terhadap krisis iklim, terutama bagi kelompok rentan.
Adapun Dzikrina Farah Adiba menyoroti perlunya penguatan kapasitas organisasi dan komunitas berbasis iman dalam mengakses serta mengelola berbagai skema pendanaan lingkungan. Menurutnya, pemahaman terhadap filantropi hijau dapat membantu komunitas merancang program yang lebih baik sekaligus meningkatkan kemampuan mengelola pendanaan untuk mendukung aksi iklim.
Farah juga menegaskan bahwa lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman merupakan hak setiap orang. Karena itu, ia mendorong pelibatan perempuan, pemuda, masyarakat adat, dan kelompok rentan lainnya sebagai bagian dari solusi serta dalam proses pengambilan keputusan terkait isu lingkungan dan iklim.