BERITA TERKINI
Ketua KWI Apresiasi Misi PWKI ke Vatikan, Bahas Tindak Lanjut MoU Bahasa Indonesia dan Literasi Sejarah Diplomatik

Ketua KWI Apresiasi Misi PWKI ke Vatikan, Bahas Tindak Lanjut MoU Bahasa Indonesia dan Literasi Sejarah Diplomatik

Ketua Presidium Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr Antonius Subianto Bunjamin, OSC, mengapresiasi langkah Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) yang menjalankan misi ke Vatikan pada akhir Maret 2026. Misi tersebut mencakup pertemuan dengan Paus Leo XIV, penandatanganan nota kesepahaman (MoU) penggunaan resmi bahasa Indonesia oleh Vatikan, serta penyerahan buku tentang 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Takhta Suci.

Apresiasi itu disampaikan Mgr Antonius saat menerima delegasi PWKI di Kantor KWI, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (20/4/2026). Dalam pertemuan tersebut, Mgr Antonius didampingi Sekretaris Eksekutif KWI, Rm Jatmiko, serta tim KWI. Delegasi PWKI dipimpin AM Putut Prabantoro (Founder) dan Asni Ovier Dengen Paluin (Ketua), bersama Lucius Gora Kunjana, Stanislaus Jumar Sudiyana (Sekretaris), Bonfilio Mahendra Wahana Putra (Bidang Hubungan Antar Lembaga), serta Yophiandi Kurniawan dan Algooth Putranto (Bidang Hubungan Luar Negeri).

Putut Prabantoro menjelaskan bahwa PWKI melaporkan pelaksanaan misi yang dimulai pada 25 Maret 2026 dengan tiga agenda utama. Ia menyebut perjalanan tersebut tetap dijalankan meski situasi dinilai berisiko. “PWKI melaporkan kepada KWI atas misi ke Vatikan yang diawali pada 25 Maret 2026 dengan tiga agenda utama. Kami bersyukur karena tugas tersebut sudah selesai dilaksanakan. Tugas tetap dilaksanakan meski perang masih terjadi. Perjalanan ini berisiko dengan kemungkinan sulit untuk kembali ke tanah air. Ada risiko tetapi juga ada kebahagiaan selama kami melaksanakan tugas tersebut. Lebih bersyukur rombongan mendarat kembali di Indonesia dengan selamat,” ujar Putut.

Kehadiran delegasi PWKI di Vatikan dilakukan dalam rangka mendampingi Ketua Komisi Komunikasi Sosial (KOMSOS) KWI, Mgr Agustinus Tribudi Utomo, dan Sekretaris Komisi, Rm Petrus Noegroho Agoeng Pr. Ketua PWKI Asni Ovier menyebut delegasi PWKI yang ikut terdiri dari Putut Prabantoro, Stanislaus Jumar Sudiyana, Bonfilio Mahendra, serta Mayong Suryo Laksono sebagai penasihat organisasi.

Agenda pertama dalam rangkaian kunjungan tersebut adalah menghadiri penandatanganan MoU penggunaan resmi bahasa Indonesia oleh Vatikan. Penandatanganan dilakukan oleh Komisi KOMSOS KWI dan Dikasteri (Kementerian) Komunikasi Vatikan pada Rabu (25/3/2026). Usulan penggunaan resmi bahasa Indonesia, menurut laporan dalam pertemuan itu, diajukan PWKI pada Juni 2022 dan dikawal hingga prosesnya berujung pada penandatanganan pada Maret 2026.

Dalam kunjungan yang sama, rombongan KWI dan PWKI juga beraudiensi dengan Paus Leo XIV. Audiensi tersebut berlangsung sebelum penandatanganan MoU.

Agenda berikutnya adalah penyerahan buku “75 Tahun Hubungan Diplomatik antara Indonesia dan Takhta Suci” kepada Duta Besar RI untuk Takhta Suci, Trias Kuncahyono. Buku itu disusun oleh tim KBRI dan diterbitkan PWKI bersama Palmerah Syndicate.

Pada pertemuan di Kantor KWI, Mgr Antonius juga menerima buku yang dikirim khusus oleh Dubes RI Trias Kuncahyono. Buku tersebut diserahkan oleh Bonfilio Mahendra sebagai bentuk kontribusi literasi dan dokumentasi sejarah hubungan Indonesia dan Takhta Suci.

Mgr Antonius menyatakan kebanggaannya atas kerja PWKI dan mengapresiasi konsistensi organisasi itu dalam mengawal proses panjang hingga menghasilkan capaian yang dinilai nyata. Ia juga menegaskan komitmen KWI untuk membahas tindak lanjut MoU secara teknis, termasuk mengenai akomodasi penerjemah, serta meminta dukungan PWKI dalam aspek pelaksanaannya.

“Upaya-upaya baik yang dimulai sejak Juni 2022 akhirnya membuahkan hasil. Namun, ini tidak boleh berhenti pada seremonial. Perlu terus dikawal agar memberi manfaat luas bagi umat. Ya saya bangga sekaligus terharu atas perjuangan kawan-kawan PWKI yang akhirnya bisa audiensi dengan Paus Leo, ini berkah yang luar biasa atas penantian panjang,” tegas Mgr Antonius.

Pertemuan tersebut juga menjadi ruang refleksi mengenai peran komunikasi dan kerja jurnalistik di tengah dinamika era digital. Dalam dialog, PWKI menyinggung maraknya narasi negatif di media sosial terkait kehidupan menggereja yang kerap menyudutkan salah satu pihak, serta memicu beragam respons di kolom komentar.

Menanggapi hal itu, Mgr Antonius menekankan pentingnya menyampaikan kebenaran dengan cara yang benar, baik, santun, dan kudus. Menurutnya, komunikasi tidak cukup hanya berisi fakta. “Cara menyampaikan kebenaran menjadi sama pentingnya dengan isi itu sendiri. Kebenaran yang disampaikan tanpa kebijaksanaan dapat melukai, sementara kebaikan tanpa dasar kebenaran berpotensi menyesatkan,” ujarnya.

Ia menambahkan, komunikasi yang baik perlu berakar pada kejujuran, disampaikan secara etis dan santun, serta diarahkan untuk membangun kehidupan bersama. Dalam konteks iman, ia memandang komunikasi juga terkait panggilan untuk menghadirkan nilai kasih dan kedamaian.