BERITA TERKINI
Ketika QRIS Menyapa Sam Poo Kong: RTB 2026, Seni Budaya, dan Cara Baru Membaca Konektivitas Indonesia

Ketika QRIS Menyapa Sam Poo Kong: RTB 2026, Seni Budaya, dan Cara Baru Membaca Konektivitas Indonesia

Mengapa RTB 2026 dan QRIS Mendadak Jadi Perbincangan

Tabuhan tambur barongsai dan alunan Gambang Semarang di Sam Poo Kong terdengar seperti perayaan biasa.

Namun RTB 2026 membuatnya berbeda, karena panggung budaya dipakai untuk membicarakan sesuatu yang sangat modern.

Bank Indonesia Jawa Tengah memilih seni sebagai pintu masuk mengenalkan QRIS, termasuk perkembangan QRIS Antarnegara.

Di situlah isu ini menjadi tren, karena publik melihat digitalisasi tidak lagi hadir sebagai poster imbauan.

Digitalisasi datang sebagai cerita, sebagai pengalaman, dan sebagai bagian dari identitas kota.

-000-

RTB 2026 mengusung tema yang panjang, tapi intinya sederhana.

Jejak pelayaran Laksamana Cheng Ho dipakai untuk menjelaskan konektivitas masa kini melalui jaringan digital.

Masyarakat diajak membaca ulang makna “melintasi batas”, dari laut dan perdagangan ke ponsel dan pembayaran.

Di era ketika teknologi sering terasa dingin, RTB 2026 menawarkan kehangatan narasi budaya.

-000-

Ada tiga alasan mengapa isu ini mudah menjadi tren.

Pertama, karena menyentuh kehidupan sehari-hari: cara orang membayar, berdagang, dan bertransaksi.

Kedua, karena formatnya tidak biasa: edukasi kebijakan publik dibalut pertunjukan dan aktivitas kreatif.

Ketiga, karena ada unsur kebanggaan: QRIS Antarnegara disebut meraih 50-in-5 Awards 2026.

Tren lahir ketika informasi bertemu emosi, dan emosi bertemu pengalaman kolektif.

-000-

BI Jateng mencatat hingga Juli 2026, transaksi QRIS di Jawa Tengah mencapai 870,01 juta transaksi.

Nilainya disebut Rp73,45 triliun, angka yang membuat digitalisasi terasa bukan lagi wacana.

Di periode sama, transaksi inbound QRIS Antarnegara di Jawa Tengah mencapai 495,89 ribu transaksi.

Nominalnya Rp136,37 miliar, menandai bahwa “lintas batas” bukan sekadar slogan panggung.

-000-

Di titik ini, RTB 2026 bukan cuma acara budaya.

Ia menjadi cermin cara negara berbicara kepada warga tentang perubahan yang pelan-pelan mengubah kebiasaan.

Dan kebiasaan adalah wilayah paling sensitif dalam kehidupan sosial.

Orang boleh menolak pidato, tetapi sulit menolak kemudahan yang sudah mereka rasakan.

-000-

Sam Poo Kong sebagai Metafora: Jejak Lama, Konektivitas Baru

Sam Poo Kong menyimpan cerita pertemuan, persinggahan, dan akulturasi.

Karena itu, tempat ini cocok untuk membicarakan konektivitas yang hari ini tak lagi bertumpu pada pelabuhan.

Konektivitas kini bertumpu pada interoperabilitas, jaringan, dan kepercayaan pada sistem.

Bahasanya teknis, tetapi dampaknya sangat manusiawi.

-000-

RTB 2026 menghadirkan pertunjukan utama bertajuk “Two Shores, One Story, One Connection”.

Pertunjukan memadukan tari, musik tradisional China dan Jawa, visual, serta teknologi.

Penonton dibawa menelusuri perjalanan konektivitas antara Tiongkok dan Semarang.

Cerita bergerak dari pelayaran Cheng Ho menuju babak konektivitas era digital.

-000-

Di babak itulah QRIS masuk sebagai simbol.

Dulu, koneksi dibangun lewat kapal dan perdagangan.

Kini, koneksi juga dibangun lewat transaksi digital yang bisa terjadi dalam waktu singkat.

Termasuk kemungkinan transaksi lintas negara melalui QRIS Antarnegara.

-000-

Pilihan medium ini penting.

Edukasi sistem pembayaran sering terasa satu arah, penuh istilah, dan cepat dilupakan.

RTB 2026 mengubahnya menjadi pengalaman: melihat, ikut bermain, ikut mencoba, lalu percaya.

Kepercayaan publik jarang lahir dari brosur.

-000-

Akulturasi juga dipentaskan sebagai bahasa sosial.

Ada Gambang Semarang berkolaborasi dengan unsur musik China.

Ada barongsai, wayang potehi, hingga seni kaligrafi China.

Seolah acara ingin berkata: konektivitas yang sehat selalu punya ruang untuk perbedaan.

-000-

Dari Panggung ke Bazar: Ketika Kebijakan Menjadi Aktivitas

RTB 2026 tidak berhenti di pertunjukan.

Pengunjung diajak masuk ke kegiatan yang lebih membumi, lebih dekat ke tangan dan dompet.

Ada storytelling Cinta Bangga Paham (CBP) Rupiah dan Galang Uang Logam (GAUL).

Ada workshop kerajinan berbahan daur ulang.

-000-

Ada pula kegiatan melukis lampion dan kipas.

Ada membuat aksesori tusuk konde khas China, membatik, hingga menyulam.

Rangkaian ini tampak sederhana, tetapi menyimpan pesan penting.

Literasi ekonomi sering lebih efektif ketika hadir lewat aktivitas yang membuat orang betah.

-000-

Di sisi lain, edukasi kebijakan BI dan sistem pembayaran dikemas lewat permainan interaktif.

QRIS Challenge, misalnya, mengajak orang tidak hanya tahu, tetapi juga mencoba.

Dalam literasi digital, pengalaman langsung sering menjadi pembeda antara paham dan sekadar dengar.

Dan jarak antara paham dan dengar itulah yang sering menimbulkan kecurigaan.

-000-

RTB 2026 juga memuat aspek ketahanan pangan.

Ada kegiatan tebus murah komoditas pangan strategis, disertai edukasi hilirisasi dan diversifikasi pangan.

Ini membuat acara seperti simpul, yang mengikat isu pembayaran dengan isu keseharian lain.

Karena ekonomi rumah tangga tidak pernah berdiri sendiri.

-000-

Di area bazar “Fusion Flavor”, cita rasa Semarang dan China dipertemukan.

Produk kerajinan lokal, termasuk wastra pesisir, ikut meramaikan.

Ekosistem bazar menjadi ruang memperkenalkan QRIS sebagai alat transaksi harian.

Di titik ini, kebijakan bertemu praktik, dan praktik melahirkan kebiasaan.

-000-

Isu Besar di Balik QRIS: Inklusi, Kepercayaan, dan Arah Ekonomi Digital

QRIS sering dibahas sebagai teknologi pembayaran.

Namun pembicaraan yang lebih besar adalah soal inklusi dan efisiensi ekonomi.

Ketika transaksi makin mudah, pelaku usaha kecil bisa lebih cepat berputar modal.

Ketika pencatatan terbantu, akses ke layanan keuangan dapat lebih terbuka.

-000-

Di Indonesia, isu ini penting karena ekonomi rakyat banyak bertumpu pada usaha mikro dan perdagangan harian.

Digitalisasi pembayaran bisa menjadi jembatan, tetapi juga bisa menjadi jurang bila literasi tertinggal.

Karena itu, pendekatan budaya dalam RTB 2026 menarik perhatian.

Ia menawarkan cara merangkul, bukan menggurui.

-000-

Isu besar kedua adalah kedaulatan dan konektivitas sistem pembayaran.

Ketika QRIS Antarnegara dibicarakan, publik menangkap pesan bahwa Indonesia tidak hanya menjadi pasar.

Indonesia juga ingin menjadi pemain dalam jaringan pembayaran yang interoperabel.

Penghargaan 50-in-5 Awards 2026, sebagaimana disebut BI, memperkuat persepsi itu.

-000-

Isu besar ketiga adalah transformasi tata kelola.

Puncak acara RTB 2026 menjadi momentum TNT Awards Jawa Tengah 2026.

Program ini mengapresiasi pemerintah daerah yang mempercepat elektronifikasi transaksi pemerintah.

Bahasanya administratif, tetapi dampaknya menyentuh layanan publik.

-000-

BI Jateng menyebut sinergi dengan BPKAD, Bapenda, Bank Jateng, serta TP2DD.

Tujuannya mendorong transaksi nontunai, mengoptimalkan kanal pembayaran digital penerimaan daerah.

Juga memperkuat transformasi digital pengelolaan keuangan daerah.

Harapannya mendukung penerimaan daerah dan PAD.

-000-

Membaca RTB 2026 dengan Kacamata Riset: Adopsi Teknologi Butuh Kepercayaan

Riset tentang adopsi teknologi berulang kali menunjukkan satu pola.

Orang menerima teknologi bukan hanya karena berguna, tetapi karena terasa mudah dan bisa dipercaya.

Dalam kajian perilaku pengguna, dua faktor itu sering menjadi penentu niat memakai.

Di ruang publik, niat memakai sering dipengaruhi pengalaman sosial.

-000-

Karena itu, pendekatan RTB 2026 terasa relevan.

Acara ini tidak hanya memaparkan manfaat, tetapi juga membangun rasa akrab.

Budaya berfungsi sebagai bahasa bersama, yang menurunkan jarak antara institusi dan warga.

Ketika jarak turun, resistensi sering ikut turun.

-000-

Riset lain di bidang literasi keuangan menekankan pentingnya konteks.

Literasi tidak cukup dengan definisi, tetapi perlu skenario nyata dan latihan.

QRIS Challenge, bazar, dan aktivitas transaksi menjadi bentuk latihan sosial.

Warga belajar sambil menjalani, bukan sambil menghafal.

-000-

Ada pula pelajaran dari riset kebijakan publik.

Kebijakan lebih mudah diterima bila komunikasinya konsisten, sederhana, dan hadir melalui saluran yang dipercaya.

Bagi banyak orang, saluran tepercaya bukan hanya media formal.

Ia bisa berupa komunitas, budaya lokal, dan pengalaman bersama di ruang kota.

-000-

Rujukan Luar Negeri: Saat Pembayaran Digital Menjadi Cerita Nasional

Di banyak negara, pembayaran digital juga pernah menjadi isu publik besar.

India, misalnya, mendorong pembayaran digital melalui sistem UPI yang mengubah lanskap transaksi harian.

Perubahan itu melahirkan antusiasme sekaligus perdebatan tentang literasi dan kesiapan infrastruktur.

Pelajarannya jelas: percepatan selalu membutuhkan pendampingan.

-000-

Singapura mengembangkan infrastruktur pembayaran digital yang terintegrasi, termasuk penggunaan kode QR.

Upaya itu sering disertai kampanye edukasi yang menekankan kemudahan dan keamanan.

Meski konteksnya berbeda, benang merahnya sama.

Teknologi pembayaran hanya bertahan bila publik percaya dan merasa terlindungi.

-000-

Di Tiongkok, pembayaran mobile menjadi bagian dari gaya hidup.

Namun pengalaman global juga mengingatkan bahwa kenyamanan membawa konsekuensi baru.

Risiko penipuan, kebocoran data, dan eksklusi kelompok rentan selalu mengintai.

Karena itu, literasi dan perlindungan konsumen menjadi pasangan wajib inovasi.

-000-

Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi

Isu QRIS dalam RTB 2026 sebaiknya ditanggapi tanpa euforia berlebihan dan tanpa kecurigaan membabi buta.

Teknologi pembayaran adalah alat, bukan tujuan.

Tujuannya adalah kemudahan, efisiensi, dan akses yang lebih adil.

Jika alat itu menimbulkan jarak baru, maka pendekatannya perlu diperbaiki.

-000-

Pertama, publik perlu merespons dengan sikap belajar aktif.

Mencoba fitur secara bertahap, memahami alur transaksi, dan membiasakan verifikasi saat membayar.

Pengalaman langsung, seperti yang difasilitasi RTB 2026, bisa menjadi awal yang aman.

Namun kebiasaan aman harus dibawa pulang, bukan berhenti di lokasi acara.

-000-

Kedua, pelaku usaha dan komunitas perlu menjadikan QRIS sebagai bagian dari tata kelola sederhana.

Mencatat transaksi, memisahkan uang usaha dan pribadi, serta memahami biaya dan prosedur.

Digitalisasi akan benar-benar membantu bila ia memperkuat disiplin usaha.

Jika tidak, ia hanya mengganti cara bayar tanpa memperbaiki fondasi.

-000-

Ketiga, pemerintah daerah dan institusi perlu menjaga aspek inklusivitas.

Elektronifikasi transaksi pemerintah yang diapresiasi lewat TNT Awards perlu memastikan layanan tidak menyulitkan warga.

Saluran bantuan, edukasi, dan alternatif layanan harus tersedia.

Transformasi digital yang baik selalu menyediakan jalan bagi mereka yang tertinggal.

-000-

Keempat, ruang publik seperti RTB 2026 layak diperbanyak, tetapi dengan evaluasi yang jujur.

Ukurnya bukan hanya ramai, melainkan apakah pemahaman warga meningkat.

Dan apakah pelaku UMKM merasakan dampak nyata pada transaksi, bukan sekadar ikut tren.

Di sinilah data transaksi yang disebut BI Jateng perlu dibaca bersama cerita di lapangan.

-000-

Penutup: Di Antara Tradisi dan Layar Ponsel

RTB 2026 di Sam Poo Kong memperlihatkan sesuatu yang sering luput.

Modernitas tidak selalu harus memutus tradisi.

Ia bisa menumpang pada tradisi, belajar dari tradisi, lalu menjadi lebih manusiawi.

Ketika budaya menjadi medium, teknologi menjadi lebih mudah diterima tanpa kehilangan nalar kritis.

-000-

Jejak lama Cheng Ho mengingatkan bahwa konektivitas selalu punya harga.

Dulu harga itu berupa keberanian menyeberang laut.

Kini, harganya berupa kesiapan membangun kepercayaan, literasi, dan perlindungan dalam ruang digital.

Indonesia sedang menulis bab itu, pelan-pelan, dari panggung budaya hingga layar ponsel.

-000-

“Masa depan bukan sesuatu yang kita tuju, melainkan sesuatu yang kita bentuk, satu keputusan kecil setiap hari.”