Memanjakan anak kerap dianggap sebagai bentuk kasih sayang. Namun, jika dilakukan berlebihan, kebiasaan ini dapat berdampak pada perkembangan anak di kemudian hari. Anak yang terbiasa selalu dituruti dapat tumbuh dengan sikap manja, sulit mandiri, dan cenderung menginginkan segala sesuatu berjalan mudah.
Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi membuat anak kesulitan keluar dari zona nyaman. Akibatnya, ia dapat menghadapi lebih banyak hambatan saat memasuki usia dewasa, terutama ketika harus beradaptasi dengan tuntutan dan tantangan kehidupan.
Salah satu faktor yang kerap memicu anak menjadi manja adalah pola asuh yang kurang tepat. Mengacu pada informasi yang disadur dari apatagro.com.my (25/11/2020), terdapat kesalahan pola asuh yang dapat mendorong terbentuknya perilaku tersebut, salah satunya adalah terlalu melindungi anak dari dunia nyata.
Melindungi anak dari hal-hal berbahaya merupakan tanggung jawab orang tua. Namun, ketika orang tua terlalu protektif dan selalu menyelamatkan anak setiap kali melakukan kesalahan, anak dapat kehilangan kesempatan untuk belajar menghadapi konsekuensi, mengambil keputusan, dan menyelesaikan masalahnya sendiri.
Pola asuh seperti ini sering dikaitkan dengan istilah “orang tua helikopter”, yakni orang tua yang terlalu mengawasi dan mengendalikan kehidupan anak. Dalam praktiknya, pola ini dapat menghambat keberanian anak untuk mencoba hal baru, mengurangi kemandiriannya, serta membatasi proses belajar dari kesalahan.
Selain itu, pola asuh helikopter juga disebut dapat memicu perilaku nakal pada anak dan mengganggu kemampuannya untuk berkembang ketika menghadapi tantangan. Karena itu, orang tua perlu menimbang batas antara melindungi dan memberi ruang bagi anak untuk belajar menghadapi dunia nyata.