BERITA TERKINI
KAI Perkuat Peran Rel Sumatera Utara dalam Agenda Trans Sumatera, 140 Tahun Jalur Medan–Labuhan Jadi Penanda Sejarah

KAI Perkuat Peran Rel Sumatera Utara dalam Agenda Trans Sumatera, 140 Tahun Jalur Medan–Labuhan Jadi Penanda Sejarah

Arahan Presiden Prabowo Subianto agar sistem kereta api nasional menjadi fokus pembangunan dinilai memperkuat arti penting layanan perkeretaapian di Sumatera Utara. Wilayah ini memiliki sejarah panjang sebagai salah satu titik awal perkembangan rel di Sumatera, sekaligus simpul strategis dalam agenda konektivitas Trans Sumatera.

Sejarah perkeretaapian di Sumatera Utara berkaitan erat dengan perkembangan ekonomi Sumatera Timur pada akhir abad ke-19. Pada 1883, Deli Spoorweg Maatschappij (DSM) tercatat sebagai perusahaan kereta api swasta Belanda yang membangun jaringan rel untuk menghubungkan sentra perkebunan dengan pusat perdagangan dan pelabuhan.

Tonggak berikutnya terjadi pada 25 Juli 1886 saat jalur Medan–Labuhan sepanjang 16,743 kilometer resmi beroperasi. Jalur ini menjadi awal kuatnya peran kereta api dalam menghubungkan Medan, kawasan perkebunan, dan pelabuhan sebagai pintu distribusi hasil bumi.

Seiring waktu, rel di Sumatera Utara berkembang menjadi penghubung kegiatan ekonomi. Dari tembakau Deli, karet, sawit, hingga komoditas kebutuhan masyarakat, kereta api ikut membentuk arus pergerakan barang dan mendukung pertumbuhan kota-kota seperti Medan, Binjai, Tebing Tinggi, Pematangsiantar, Tanjungbalai, dan Rantau Prapat.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan sejarah rel di Sumatera Utara menunjukkan bahwa kereta api selalu hadir sebagai penghubung kebutuhan masyarakat dan ekonomi daerah. “Rel Sumatera Utara lahir dari kebutuhan akses. Dulu menghubungkan perkebunan dan pelabuhan, hari ini melayani perjalanan masyarakat, rantai pasok, kawasan industri, bandara, dan pusat-pusat ekonomi,” ujar Anne.

Berdasarkan data KAI Divre I Sumatera Utara 2026, wilayah ini memiliki 476,460 kilometer lintas aktif dan 43 stasiun aktif yang tersebar di 13 kabupaten/kota. Jaringan tersebut melayani penumpang dan barang, serta menghubungkan Medan dengan wilayah strategis seperti Binjai, Tebing Tinggi, Kisaran, Tanjungbalai, Rantau Prapat, Pematangsiantar, Belawan, Kuala Tanjung, dan Kualanamu.

“Berangkat dari arahan Presiden, KAI melihat Sumatera Utara sebagai simpul penting Trans Sumatera. Penguatan layanan kereta api di wilayah ini harus memberi manfaat langsung bagi masyarakat dan memperkuat efisiensi logistik daerah,” kata Anne.

Saat ini, KAI Group melayani masyarakat Sumatera Utara melalui KA Putri Deli, KA Sribilah Utama, KA Siantar Ekspres, KA Datuk Belambangan, dan KA Sri Lelawangsa. Layanan tersebut mendukung akses menuju pusat kota, wilayah penyangga, kawasan kerja, pusat pendidikan, layanan kesehatan, bandara, serta simpul ekonomi daerah.

Data pelanggan menunjukkan kereta api masih menjadi pilihan transportasi di wilayah ini. Pada 2025, volume pelanggan Divre I Sumatera Utara tercatat 2.638.592 pelanggan. Sementara pada Mei 2026, KAI Divre I Sumatera Utara melayani 235.824 pelanggan.

Menurut Anne, angka tersebut mencerminkan fungsi sosial stasiun dan jalur aktif di Sumatera Utara. Kereta api membantu perjalanan harian, perjalanan keluarga, aktivitas kerja dan pendidikan, serta akses menuju layanan publik. “Bagi pelanggan, kereta api memberi kepastian perjalanan. Bagi pelaku usaha, kereta api membantu menjaga distribusi. Bagi daerah, stasiun membuka akses menuju layanan ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan pemerintahan,” ujarnya.

Dari sisi angkutan barang, Sumatera Utara dinilai memiliki potensi besar karena berada di antara sentra perkebunan, kawasan industri, pelabuhan, dan pusat konsumsi. Sepanjang Januari–Mei 2026, KAI Divre I Sumatera Utara melayani 318.481,832 ton barang, meningkat 2,02 persen dibanding periode yang sama 2025 sebesar 312.169,979 ton.

Komoditas utama pada Januari–Mei 2026 meliputi BBM 145.959,255 ton, petikemas 130.012,781 ton, Crude Palm Oil (CPO) 40.280,260 ton, Barang Hantaran Potongan (BHP) 1.692,906 ton, dan lateks 536,630 ton. Komposisi ini menunjukkan peran rel dalam distribusi energi, produk industri, hasil perkebunan, serta barang ritel masyarakat.

Potensi tersebut dinilai semakin relevan dengan keberadaan Pelabuhan Belawan, Kuala Tanjung, kawasan industri Sei Mangkei, serta pusat pertumbuhan Medan–Binjai–Deli Serdang. Dengan jaringan yang telah terbentuk, kereta api berpeluang mengambil peran lebih besar dalam penguatan rantai pasok, pengurangan beban jalan raya, dan peningkatan daya saing ekonomi daerah.

Di sisi keselamatan, KAI mencatat di wilayah Divre I Sumatera Utara terdapat 148 perlintasan sebidang terjaga, terdiri atas 107 dijaga KAI, 15 oleh pemerintah daerah, 2 oleh swasta, dan 24 secara swadaya. Selain itu, terdapat 376 perlintasan sebidang belum terjaga, serta masing-masing 17 flyover dan 17 underpass.

Kondisi ini, menurut KAI, memerlukan kolaborasi dengan pemerintah daerah, kepolisian, dinas perhubungan, dinas pekerjaan umum, dunia usaha, dan masyarakat. Keselamatan perlintasan dipandang penting agar peningkatan konektivitas berjalan sejalan dengan perlindungan perjalanan kereta api dan pengguna jalan.

Untuk jalur dan stasiun yang belum aktif, KAI menyebutnya sebagai bagian dari inventarisasi dan kajian jangka panjang. Rencana pengaktifan kembali disebut memerlukan kajian keselamatan, kesiapan prasarana, tata ruang, kebutuhan masyarakat, potensi ekonomi, serta dukungan pemerintah pusat dan daerah.

“KAI menjaga sejarah rel Sumatera Utara sebagai energi untuk melayani masa depan. Setiap peningkatan layanan akan dilakukan bertahap, terukur, dan berorientasi pada kebutuhan pelanggan serta kemajuan daerah,” kata Anne.

Anne menambahkan, perjalanan 140 tahun jalur Medan–Labuhan menjadi pengingat peran panjang kereta api dalam membangun akses. Dari jalur awal yang menghubungkan perkebunan dan pelabuhan, rel di Sumatera Utara kini terus berkembang sebagai penghubung masyarakat, logistik, bandara, pelabuhan, dan masa depan konektivitas Trans Sumatera.