BANJARMASIN—Maestro kuriding Kalimantan Selatan, Mukhlis Maman yang dikenal sebagai Julak Larau, menyampaikan pesan reflektif tentang makna musik dan kebiasaan mendengar dalam peringatan Hari Musik Dunia di Taman Budaya Kalsel, Banjarmasin, Jumat (26/6/2026) malam. Dalam pesannya, ia menegaskan kedekatannya dengan kuriding—alat musik tradisional Banjar—yang menurutnya bukan ia pilih, melainkan “kuriding yang memilih” dirinya.
Julak Larau menceritakan awal perjumpaannya dengan kuriding di kampung halamannya, Banua Kupang, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, sekitar 150 kilometer dari Banjarmasin. Ia pertama kali mendengar bunyi kuriding ketika dimainkan kakeknya di pinggir sawah untuk mengusir tikus. Pada masa itu, kuriding belum dipandang sebagai alat musik. Ukurannya yang kecil membuatnya kerap dianggap tidak penting, bahkan muncul istilah “kuriding patah” yang mempertanyakan guna memainkannya ketika ada banyak alternatif lain.
Sepulang dari sawah, kuriding disebut hanya digantung seperti benda biasa. Julak Larau menilai, kala itu belum ada teknik khusus memainkannya sehingga terdengar terlalu sederhana untuk disebut sebagai alat musik. Namun seiring waktu, kuriding mulai digunakan dalam perayaan-perayaan di kampung.
Dalam pesannya, Julak Larau menyinggung pengalaman ketika masyarakat lebih bangga pada bunyi yang datang dari tempat jauh dibanding bunyi yang lahir dari tanah sendiri. Ia menekankan bahwa sesuatu yang kecil tidak selalu bermakna sederhana. Bagi dia, kuriding mengajarkan bahwa bunyi tidak bisa dipaksa; suara muncul ketika pemainnya “berdamai dengan napas sendiri”.
“Semakin keras kita memaksanya, maka ia akan kehilangan bunyi. Semakin tenang kita mendengarnya, maka banyak cerita yang ia sampaikan,” ujarnya. Dari situ, ia menarik pelajaran tentang peran seniman yang menurutnya bukan sekadar membuat bunyi paling nyaring atau paling banyak didengar, melainkan menjaga agar manusia tidak kehilangan kemampuannya untuk mendengar.
Julak Larau juga menyoroti kondisi hari ini ketika musik dapat diakses kapan saja dan dari mana saja. Ia menyebut kemudahan itu sebagai anugerah, namun mempertanyakan apakah di tengah banyaknya suara, manusia justru jarang mendengarkan dirinya sendiri. Ia meyakini bunyi yang baik lahir dari kesabaran, sehingga pemusik tidak cukup hanya piawai memainkan alat musik, tetapi juga perlu pandai mendengar—sesama, alam, dan zaman.
Ia mengingat para gurunya yang tidak banyak meninggalkan tulisan dan tidak mengaku sebagai maestro, namun memperlakukan alat musik seperti sahabat. Karena itu, menurutnya, alat musik tidak pernah berdiri sendiri; selalu ada cerita tentang orang yang membuatnya dan menjadikannya bagian dari kehidupan. “Saya tidak pernah melihat kuriding sebagai benda, bagi saya ia adalah ingatan, ia adalah perjalanan, dan ia adalah cara orang Banjar berbicara kepada alam,” katanya.
Julak Larau menilai, jika orang mengatakan ia menjaga kuriding selama puluhan tahun, sesungguhnya kuridinglah yang menjaga dirinya—mengingatkan asal-usulnya. Kuriding kecil yang kerap disimpan di saku baju disebutnya sebagai pengingat bahwa sejauh apa pun seseorang melangkah, pada waktunya ia akan pulang. Dari fungsi awal sebagai pengusir hama, kuriding kemudian membawanya tampil ke berbagai tempat.
Ia mengaku bangga melihat anak muda yang mahir memainkan alat musik tradisi maupun modern. Ia menegaskan tidak pernah menuntut mereka bermain persis seperti dirinya, karena setiap zaman memiliki “napasnya sendiri”. Namun ia berharap percakapan dengan para pendahulu tidak terputus agar generasi berikutnya tetap belajar sebelum melanjutkan perjalanan dengan caranya masing-masing. Bagi Julak Larau, tradisi tidak meminta orang menjadi salinan masa lalu, melainkan tidak melupakan akar sebelum menumbuhkan cabang-cabang baru.
Ia menggambarkan perjalanan musik seperti aliran Sungai Martapura dengan cabang-cabang, arus pasang surut, kadang deras dan berbelok, kadang membawa lumpur, namun pada akhirnya bertemu. Ia pun mengajak warga untuk terus membunyikan dan mendengarkan. Jika kelak ia tidak lagi memainkan kuriding, ia berharap yang tetap hidup adalah kebiasaan mendengar—di tingkat individu, komunitas, maupun jejaring.
“Mendengarlah sebelum berbicara, karena dari sanalah semua musik bermula. Dan barangkali di sanalah kita belajar menjadi manusia,” pesannya. Setelah itu, ia menutup pidato dengan mengucapkan selamat Hari Musik Dunia dan memainkan kuriding secara singkat di Panggung Bakhtiar Sanderta, disambut tepuk tangan penonton.
Pada 3 Juli 2026, Julak Larau genap berusia 64 tahun. Ia disebut telah mendedikasikan sekitar 40 tahun hidupnya untuk pelestarian dan pengembangan seni budaya Banjar.
Budayawan Kalimantan Selatan, HE Benyamine, menilai peringatan Hari Musik Dunia di Kalsel tahun 2026 terasa istimewa karena Julak Larau menyampaikan makna peringatan itu, bukan sekadar selebrasi. Menurutnya, pesan tersebut menjadi bentuk perenungan dari seniman senior dengan rekam jejak panjang di bidang musik dan dinilai berharga bagi perkembangan musik di daerah maupun Indonesia. Ia juga menyebut, sejauh pengetahuannya, Kalsel menjadi satu-satunya daerah yang memiliki “pesan” khusus pada Hari Musik Dunia, dan hal itu menunjukkan peluang ekosistem musik di Banua bernilai positif, termasuk bagi anak muda yang berkarya dengan keterbatasan sumber daya.
Sementara itu, Dosen Pendidikan Seni Pertunjukan (PSP) FKIP ULM, Muhammad Budi Zakia Sani, memaknai Hari Musik Dunia sebagai selebrasi bersama karena musik merupakan salah satu alat yang paling banyak digunakan untuk mempersatukan manusia. Ia menilai peringatan tersebut menjadi ruang pertemuan lintas bunyi dan lintas genre. Zaki—sapaan akrabnya—menyebut potensi musik di Kalsel besar, baik tradisional maupun modern, sehingga ruangnya perlu diperluas, termasuk melalui perguruan tinggi. Ia menjelaskan, PSP FKIP ULM mengakomodasi musik lokal dan musik populer dalam pembelajaran, serta berharap musisi konsisten merawat identitas musik Kalsel dalam beragam genre sesuai perkembangan zaman. Ia juga menyinggung penerapan kecerdasan buatan (AI) dalam pembuatan karya musik sebagai tema yang menarik ke depan, agar musik dapat berdampingan dengan kemajuan teknologi.
Kepala UPTD Taman Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalsel, Rizal Pahmi, mengatakan pihaknya berkomitmen membuka ruang kreatif bagi perkembangan budaya musik, baik modern maupun tradisi, termasuk kolaborasi dengan musik daerah dan kontemporer. Ia mengapresiasi antusias penonton dan seniman yang menyemarakkan Hari Musik Dunia di Taman Budaya Kalsel, serta menyampaikan agenda serupa akan terus diadakan pada tahun-tahun berikutnya agar musisi yang belum sempat tampil pada 26 dan 27 Juni dapat berpartisipasi di kesempatan mendatang.