Mayoritas sejarawan menilai penyebaran Islam di Indonesia berlangsung secara damai. Nilai-nilai Islam yang bersifat universal juga dipandang memudahkan penerapannya dalam beragam situasi sosial di masyarakat.
Dalam jurnal Islamisasi Nusantara (Analisis Terhadap Diskursus Para Sejarawan) karya Husaini Husda (2016), Hasan Mu’arif Ambary membagi proses Islamisasi di Indonesia ke dalam tiga fase. Pertama, fase kehadiran para pedagang Muslim yang diduga terjadi sebelum abad ke-13 M. Kedua, fase terbentuknya kerajaan-kerajaan Islam yang berlangsung antara abad ke-13 M hingga abad ke-16 M. Ketiga, fase pelembagaan Islam.
Salah satu media yang digunakan dalam dakwah pada masa itu adalah kesenian. Ketika pengaruh kebudayaan Hindu masih mengakar kuat, para pendakwah disebut tidak menghapus kebudayaan yang telah ada, melainkan memanfaatkannya untuk menyampaikan ajaran Islam. Uraian ini antara lain dibahas dalam jurnal Analisis Historis terhadap Corak Kesenian Islam Nusantara karya Nurrohim dan Fitri Sari Setyorini (2018).
Wayang kulit sebagai media dakwah
Pertunjukan wayang telah dikenal sejak masa pra-Islam. Dalam perkembangannya, Sunan Kalijaga disebut menyisipkan ajaran Islam ke dalam pertunjukan wayang. Mengacu pada jurnal Dakwah Sinkretis Sunan Kalijaga oleh Supriyanto (2009), Sunan Kalijaga tidak meminta bayaran uang. Syarat untuk menonton pertunjukan wayangnya adalah membaca kalimat syahadat.
Selain itu, ajaran Islam juga disisipkan dalam kisah Mahabharata. Salah satu contoh yang disebutkan adalah tokoh Yudistira yang diberi pustaka bernama Kalimasada, yang dimaknai sebagai dua kalimat syahadat.
Arsitektur dan bangunan
Jejak Islam di Nusantara juga tampak pada bangunan-bangunan yang memperlihatkan percampuran antara unsur arsitektur Islam dan tradisi Hindu-Buddha. Tujuannya disebut untuk menghindari perubahan yang terasa mendadak bagi masyarakat.
Contoh yang kerap dikemukakan adalah Masjid Demak yang masih mempertahankan ciri arsitektur India Hindu. Sementara itu, Menara Kudus disebut menyerupai bangunan khas Hindu. Selain itu, sejumlah masjid yang dibangun pada masa awal juga digambarkan memiliki bentuk yang menyerupai rumah adat Nusantara.
Sastra dan penerjemahan ajaran
Dalam bidang sastra, kitab-kitab ajaran Islam banyak diterjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa Melayu agar lebih mudah dipahami masyarakat. Bersamaan dengan itu, muncul pula karya-karya sastra bernuansa Islam.
Salah satu contoh yang disebut adalah Serat Dewa Ruci, yang memuat cerita pewayangan sekaligus berbagai upaya menuju tarekat, hakikat, hingga kemakrifatan dalam Islam. Sunan Giri juga disebut menulis kitab ilmu falak yang oleh Ranggawarsita dinamakan Serat Widya Praddana.