Delegasi Iran menyatakan konflik di Lebanon akan menjadi agenda utama dalam perundingan dengan Amerika Serikat (AS) yang digelar di Swiss pada Minggu (21/6). Selain isu tersebut, Teheran juga berencana membahas pencairan aset Iran yang dibekukan serta penjualan minyak negara itu.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan Israel terus melanggar komitmennya di Lebanon. Menurut Baghaei, hal itu akan menjadi topik utama dalam perundingan.
Baghaei juga menyebut Iran akan mengangkat persoalan aset-aset yang masih dibekukan maupun dibatasi aksesnya. Selain itu, pembahasan terkait penerbitan izin yang diperlukan untuk penjualan minyak Iran disebut turut masuk dalam agenda negosiasi.
Di saat yang sama, perwakilan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei untuk Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), Hojjatoleslam Abdollah Haji Sadeghi, menegaskan negaranya tidak memasuki perundingan dari posisi terdesak.
“Kami akan memasuki negosiasi dengan kekuatan dan kehati-hatian, tetapi kami tidak pasif,” kata Sadeghi dalam pernyataan yang diunggah melalui Telegram.
Menurut Sadeghi, negosiasi bukanlah pilihan utama Iran dalam menghadapi AS. Ia juga menyatakan Iran tidak khawatir apabila perundingan tersebut gagal menghasilkan kesepakatan. “Kami tidak memasuki negosiasi karena putus asa atau tidak berdaya,” ujarnya.
Sebelumnya, delegasi Iran tiba pada Sabtu (20/6) malam dengan pesawat bertuliskan “Minab168”. Delegasi dipimpin Ketua Parlemen Iran Mohammad Ghaber Ghalibaf, dengan kehadiran Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.
Sementara itu, perwakilan AS dipimpin JD Vance yang tiba di Swiss dan diantar iring-iringan motor hingga mobil menuju resor pegunungan di Burgenstock, lokasi perundingan dilangsungkan.