Sarihusada menilai alergi susu sapi masih menjadi tantangan yang kerap dihadapi orang tua. Salah satu penyebabnya, gejala alergi ini sering disalahartikan sebagai kondisi umum sehingga penanganan dapat terlambat dan berpengaruh pada kenyamanan serta tumbuh kembang anak.
Dalam rangka World Allergy Week, Sarihusada menyatakan terus memperkuat inisiatif SADAR Alergi untuk mendorong pentingnya edukasi, konsultasi dengan dokter spesialis anak, serta dukungan nutrisi yang tepat bagi anak dengan alergi susu sapi.
Pihak Sarihusada juga menyoroti banyaknya informasi yang beredar dapat memicu praktik swadiagnosis tanpa konsultasi medis yang memadai. Karena itu, kolaborasi antara orang tua, tenaga kesehatan, serta edukasi berbasis sains dinilai penting untuk menjaga pemenuhan nutrisi dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Secara klinis, alergi protein susu sapi dapat menimbulkan gejala yang bervariasi pada setiap anak, mulai dari ringan, sedang, hingga berat. Perbedaan tersebut dipengaruhi jenis dan intensitas gejala serta respons tubuh terhadap protein susu sapi. Kondisi ini dapat mengganggu kenyamanan anak, termasuk berdampak pada asupan nutrisi dan kualitas tidur akibat rasa tidak nyaman. Jika tidak terdiagnosis dan ditangani dengan tepat, dalam jangka panjang kondisi ini disebut berpotensi memengaruhi tumbuh kembang anak.
Karena itu, konsultasi sejak dini dengan dokter anak dinilai penting agar penanganan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing anak, sekaligus membantu memastikan kebutuhan nutrisi dan tumbuh kembang tetap terjaga.
Dokter Spesialis Anak Konsultan Alergi Imunologi, dr. Molly Dumakuri Oktarina (K), menekankan bahwa penanganan alergi susu sapi perlu dilakukan secara terarah berdasarkan evaluasi medis. Menurut dia, setiap anak memiliki kondisi berbeda sehingga pendekatan penanganan tidak bisa disamaratakan.
Ia menjelaskan ASI merupakan nutrisi terbaik bagi anak, termasuk pada anak dengan alergi protein susu sapi. Namun, ibu perlu menghindari konsumsi susu sapi dan produk turunannya sebagai bagian dari penanganan. Sementara bagi anak yang memerlukan asupan tambahan karena indikasi medis tertentu, pemilihan nutrisi perlu disesuaikan berdasarkan rekomendasi dan pemantauan dokter anak.
Dr. Molly menyebut formula terhidrolisa ekstensif (EHF) dapat digunakan untuk alergi ringan hingga sedang. Untuk kondisi alergi yang lebih berat atau apabila alergi tidak dapat ditangani dengan EHF, ia menyatakan amino acid formula (AAF) dapat diberikan. Ia juga menyebut formula soya dapat menjadi alternatif pada alergi ringan hingga sedang apabila terdapat kendala biaya atau ketersediaan EHF. Adapun susu terhidrolisat parsial (PHF), menurutnya, bukan pilihan untuk terapi alergi susu sapi.
Ia menegaskan tidak semua formula cocok untuk setiap anak. Karena itu, seluruh proses mulai dari diagnosis hingga pemilihan nutrisi perlu dilakukan di bawah pengawasan dokter anak agar kebutuhan nutrisi serta tumbuh kembang anak tetap terjaga.
Dalam keterangan yang sama, disebutkan beberapa studi menemukan formula terhidrolisa ekstensif (eHF), khususnya yang berbasis whey, memiliki tingkat toleransi tinggi dan rasa yang lebih dapat diterima sehingga dapat mendukung kepatuhan konsumsi anak. Sementara formula berbasis asam amino (AAF) disebut dapat membantu meredakan gejala alergi secara cepat dengan risiko reaksi alergi yang sangat minimal. Selain itu, formula berbasis soya disebut dapat menjadi alternatif dengan tetap memastikan pemenuhan nutrisi penting seperti omega 3 dan 6, AA:DHA, minyak ikan tuna, zat besi, serta vitamin C untuk mendukung tumbuh kembang.