BERITA TERKINI
Hafiizh HVZH, Musisi Autodidak dari Berau yang Mengolah Kisah Kesepian hingga Pluto

Hafiizh HVZH, Musisi Autodidak dari Berau yang Mengolah Kisah Kesepian hingga Pluto

Bagi Muhammad Hafiizh Zulkarnain, musik bukan sekadar rangkaian nada. Di balik nama panggung HVZH, pemuda kelahiran Berau, 2 Mei 2004, itu menjadikan musik sebagai ruang untuk menampung perasaan yang sulit diucapkan—mulai dari kesepian, pencarian diri, hingga kisah tentang sebuah planet bernama Pluto.

Perjalanan bermusiknya bermula jauh sebelum ia mengenal studio rekaman atau platform digital. Sejak kecil, Hafiizh akrab dengan lagu-lagu yang diputar di rumah. Meski tidak berasal dari keluarga musisi, kebiasaan mendengarkan musik di rumah perlahan menumbuhkan ketertarikannya. “Keluarga memang suka mendengarkan musik walau tidak ada yang berkecimpung di dunia musik,” ujarnya.

Titik balik datang pada 2014 saat ia duduk di kelas IV sekolah dasar. Gurunya menunjuk Hafiizh untuk mengikuti lomba bernyanyi. Ia mengaku terkejut karena merasa minim pengalaman, terlebih saat itu ia lebih sering mengikuti lomba Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ). Tanpa latihan khusus, ia tetap tampil dan meraih juara pertama, sekaligus mewakili Kabupaten Berau ke tingkat Provinsi Kalimantan Timur.

Pengalaman itu membawanya belajar bernyanyi secara mandiri. “Pada akhirnya, aku belajar bernyanyi secara autodidak. Banyak belajar dari musik-musik yang didengarkan keluarga dan yang kucari sendiri di internet,” kata Hafiizh.

Dalam proses menemukan gaya bermusiknya, Hafiizh menyebut Tulus sebagai salah satu sosok yang menginspirasi. Ia menilai cara Tulus bernyanyi sederhana namun mampu menyentuh, termasuk dalam penulisan lagu-lagunya. Saat ini, Hafiizh merupakan mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Terbuka.

Sejak merilis karya pada 2023, ia kerap mengangkat tema yang jarang dijadikan lagu. Salah satunya “The Pluto Song”, yang berawal dari unggahan tentang planet-planet di media sosial. Ia mengaku perlu memikirkan cara agar tema planet bisa tetap dekat dengan pendengar. “Aku harus memikirkan bagaimana supaya tema planet ini bisa relate dengan pendengarnya,” ujarnya.

Pluto dipilih bukan hanya karena mudah dipadukan dalam lirik, tetapi juga karena kisahnya dianggap dekat dengan pengalaman banyak orang. Menurut Hafiizh, status Pluto yang kini tidak lagi diakui sebagai planet utama memunculkan makna “tidak dianggap”. “Fakta bahwa Pluto sudah tidak dianggap sebagai planet, menurutku, bisa relate ke banyak orang,” katanya.

Dari gagasan itu, ia membangun cerita tentang dua orang yang sama-sama terluka oleh kehidupan dan ingin pergi sejauh mungkin dari hiruk pikuk dunia. Mereka mendambakan tempat yang sunyi, bahkan jika itu berarti harus dilupakan. Bagi Hafiizh yang mengaku introvert, musik menjadi medium paling nyaman untuk berbicara. “Yang membuatku tertarik dengan musik adalah bagaimana musik bisa mewakili setiap perasaan yang mungkin sulit untuk diutarakan,” ucapnya.

Hafiizh mengakui dirinya tidak mahir memainkan alat musik dan lebih bertumpu pada olah vokal. Namun, ia tetap belajar menyusun musik secara mandiri melalui referensi lagu-lagu favorit dan berbagai tutorial di YouTube. Jalur otodidak itu juga terlihat dalam cara ia membangun kariernya sebagai musisi independen, tanpa label besar maupun jaringan luas industri. Ia memperkenalkan karya lewat media sosial. “Aku memperkenalkan karya-karyaku murni bergantung dengan konten-konten yang kubuat dan posting di media sosial,” tuturnya.

Selain merilis karya, ia rutin membawakan lagu ciptaannya di berbagai panggung, termasuk tampil reguler di sejumlah kafe bersama teman-teman musiknya. Perlahan, kiprahnya membuahkan hasil. Hafiizh beberapa kali dipercaya menjadi wakil Kalimantan Timur dalam ajang menyanyi tingkat nasional. Ia pernah masuk 15 besar FLS2N SMP 2018 di Bangka Belitung, meraih Juara Favorit sekaligus peringkat empat nasional pada FLS2N SMA 2020 kategori vokal solo putra, serta menjadi finalis Kreativesia 2024 di Banjarmasin.

Dua lagunya, “Every Night” dan “Pemeran Terbaik”, juga masuk playlist resmi Spotify Indonesia, Fresh Finds Indonesia. Ia sempat bekerja sama dengan Future Asian Music Indonesia, platform distribusi musik di bawah naungan 88rising.

Meski demikian, Hafiizh menyebut perjalanan musisi independen tidak selalu mudah. Tantangan terbesarnya bukan hanya menciptakan lagu, melainkan membangun koneksi. “Sebagai introvert, aku suka bingung bagaimana dan apa langkah-langkah yang harus kuambil supaya bisa terkoneksi dengan banyak orang,” ungkapnya.

Ia juga menyadari tidak tumbuh di lingkungan keluarga musisi sehingga harus mencari jalan sendiri untuk memahami industri musik. Dalam proses itu, ia menyebut orang tuanya memberikan dukungan. “Mereka sering memperkenalkan aku kepada orang-orang yang mereka kenal dengan harapan aku bisa mendapatkan jalannya. Tapi pada akhirnya memang aku harus belajar sendiri menemukan kesempatan itu,” tambahnya.

Di tengah perjalanan yang masih panjang, Hafiizh menyimpan harapan bagi dunia seni di Berau. Ia ingin lebih banyak seniman daerah berani menghasilkan karya orisinal, tidak hanya membawakan karya orang lain. Ia juga berharap tersedia lebih banyak ruang dan panggung yang memberi tempat bagi karya-karya asli. Bagi Hafiizh, karya bukan semata untuk didengar banyak orang, tetapi juga jejak perjalanan dan cara berbicara kepada dunia—seperti Pluto yang, meski “tidak dianggap”, tetap memiliki cerita yang layak didengarkan.