Provinsi Gorontalo akan menjadi tuan rumah Pekan Nasional Kontak Tani Nelayan Andalan (PENAS KTNA) XVII yang dijadwalkan berlangsung pada 20–25 Juni 2026. Ajang tiga tahunan sektor pertanian dan perikanan ini diperkirakan dihadiri lebih dari 30 ribu petani, nelayan, penyuluh, dan pegiat pertanian dari berbagai daerah di Indonesia.
Penyelenggaraan PENAS dinilai berpotensi menjadi momentum penting bagi perekonomian daerah. Kehadiran puluhan ribu peserta diperkirakan mendorong aktivitas konsumsi dan perdagangan, memperkuat sektor jasa transportasi dan akomodasi, serta menggerakkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Gorontalo.
Momentum tersebut datang saat kinerja ekonomi Gorontalo menunjukkan tren kuat. Pada triwulan I 2026, perekonomian Gorontalo tumbuh 7,68% (year-on-year/yoy), lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan nasional. Tantangan berikutnya adalah menjaga agar dorongan aktivitas ekonomi yang meningkat tidak memicu tekanan harga yang berlebihan.
Dalam tiga bulan terakhir, inflasi tahunan Gorontalo dilaporkan konsisten berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2,5±1% (yoy). Kondisi ini disebut mencerminkan koordinasi pengendalian inflasi yang berjalan cukup efektif antara pemerintah daerah, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), Bank Indonesia, dan pemangku kepentingan terkait. Stabilitas tersebut dinilai perlu dipertahankan menjelang dan selama pelaksanaan PENAS.
Dari sisi dampak ekonomi, PENAS diperkirakan memberi efek berganda (multiplier effect) pada sejumlah sektor. Pada bidang akomodasi dan makan-minum, sekitar 6.000 unit rumah warga di Kabupaten Gorontalo telah dipersiapkan sebagai homestay bagi peserta. Kehadiran peserta juga diperkirakan meningkatkan permintaan restoran, katering, dan produk kuliner lokal.
Sektor perdagangan berpeluang ikut terdorong, terutama untuk produk unggulan daerah seperti kain karawo, kerajinan tangan, dan makanan khas Gorontalo. Aktivitas transportasi dan pergudangan juga diperkirakan meningkat seiring naiknya okupansi penerbangan, penyewaan kendaraan, jasa angkutan, hingga distribusi logistik pendukung kegiatan.
Namun, peningkatan aktivitas ekonomi itu juga diperkirakan disertai kenaikan permintaan komoditas strategis. Berdasarkan simulasi kebutuhan konsumsi peserta yang dihitung menggunakan data konsumsi per kapita mingguan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS) dan estimasi peserta 30 ribu orang, selama pelaksanaan PENAS diperkirakan dibutuhkan sekitar 45,29 ton beras, 70,87 ton telur ayam ras, 11,09 ton ikan dan udang segar, 4,98 ton tomat, 4,74 ton daging ayam ras, 1,91 ton bawang merah, dan 1,15 ton cabai rawit. Perhitungan tersebut belum memasukkan konsumsi masyarakat lokal dan wisatawan yang turut meramaikan kegiatan.
Peningkatan permintaan dipandang sebagai sinyal positif karena mencerminkan aktivitas ekonomi yang menguat. Namun, jika tidak diantisipasi melalui penguatan pasokan dan kelancaran distribusi, kondisi ini berisiko memicu kenaikan harga, terutama pada komoditas pangan yang selama ini menjadi penyumbang utama inflasi daerah.
Pengalaman PENAS ke-XVI di Sumatera Barat pada 2023 disebut menjadi pelajaran bahwa pengendalian inflasi tidak hanya bertumpu pada kecukupan pasokan pangan. Upaya tersebut juga membutuhkan koordinasi antarlembaga, pengawasan distribusi, serta komunikasi publik untuk menjaga ekspektasi masyarakat terhadap harga.
Karena itu, penyelenggaraan PENAS KTNA XVII di Gorontalo dipandang sebagai kesempatan untuk memperkuat sinergi pengendalian inflasi daerah. Sejumlah pihak yang disebut perlu terlibat antara lain pemerintah provinsi dan kabupaten/kota, Bank Indonesia, Bulog, pelaku usaha, distributor, maskapai penerbangan, kelompok tani, kelompok nelayan, serta seluruh anggota TPID, agar kebutuhan peserta terpenuhi tanpa mengganggu pasokan bagi masyarakat.
Sejumlah langkah antisipatif yang disorot meliputi peningkatan produksi pangan, penguatan cadangan pangan pemerintah, pemantauan harga harian, pengamanan jalur distribusi, serta koordinasi lintas daerah. Dengan langkah-langkah tersebut, peningkatan permintaan akibat PENAS diharapkan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi tanpa memicu tekanan inflasi.
Keberhasilan Gorontalo sebagai tuan rumah PENAS ke-XVII dinilai tidak hanya diukur dari kelancaran acara dan jumlah peserta, tetapi juga dari kemampuan menciptakan nilai tambah ekonomi yang luas sambil menjaga stabilitas harga dan daya beli. Dengan pertumbuhan ekonomi 7,68% (yoy) dan inflasi yang masih berada dalam rentang sasaran nasional, Gorontalo dinilai memiliki modal untuk menyeimbangkan dua agenda besar: pertumbuhan dan stabilitas.