BERITA TERKINI
Gondolio, Musik Tradisional Banyumas yang Terus Dilestarikan di Desa Tambaknegara

Gondolio, Musik Tradisional Banyumas yang Terus Dilestarikan di Desa Tambaknegara

Gondolio merupakan alat musik tradisional khas Banyumas yang dikenal dengan suara nyaring. Pada masa lalu, instrumen ini digunakan untuk menemani petani saat berladang sekaligus membantu mengusir hama. Hingga kini, Gondolio masih dilestarikan di Desa Tambaknegara dan disebut sebagai satu-satunya yang ada di Kabupaten Banyumas, bahkan di dunia.

Ketua Sanggar Seni Budaya SABAWANA, Rusdi, menjelaskan bahwa pada awalnya Gondolio hanya dimainkan oleh keturunan Ki Bangsa Setra, yang dikenal sebagai penemu alat musik tersebut. Namun seiring waktu, komunitas seni setempat menilai regenerasi perlu dilakukan agar tradisi ini tidak punah. Berbagai upaya pun dilakukan untuk melibatkan generasi muda dalam latihan dan pertunjukan.

Gondolio dibuat dengan bahan utama bambu. Rusdi menyebut, karakter bambu membuat perawatan alat musik ini tidak mudah karena suara yang dihasilkan dapat cepat berubah bergantung pada kualitas bahan. Karena itu, bambu yang digunakan harus dipilih dengan cermat. Proses penebangan hingga pembuatan Gondolio juga mengikuti perhitungan tradisional Jawa agar menghasilkan bunyi yang baik. Selain itu, pengeringan bambu dilakukan secara alami tanpa dipaksa dijemur langsung di bawah sinar matahari.

Meski kerap dianggap serupa dengan angklung, Gondolio memiliki perbedaan pada struktur dan fungsi musiknya. Angklung umumnya terdiri dari satu tabung bambu untuk satu nada, sedangkan Gondolio merupakan satu rangkaian alat dengan empat nada dalam satu set, sehingga harmoni yang dihasilkan dinilai lebih kompleks.

Dalam dialog yang sama, Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat, Novi Utami, menyampaikan bahwa pelestarian Gondolio layak dilakukan karena memiliki keunikan dan potensi untuk menjadi daya tarik wisata yang tidak dimiliki daerah lain.

Kesenian Gondolio juga kerap ditampilkan untuk menyambut tamu yang berkunjung ke Desa Tambaknegara, mulai dari kunjungan Pusat Penyuluhan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) hingga mahasiswa dari berbagai daerah luar Jawa melalui program pertukaran mahasiswa.

Salah satu seniman Gondolio, Rusli, mengaku pertama kali mengenal alat musik ini saat duduk di bangku kelas 4 SD melalui ajakan ayahnya, Rusdi. Awalnya ia bergabung sebagai vokalis, sebelum kemudian belajar memainkan instrumennya. Rusli mengatakan proses belajar Gondolio membutuhkan dedikasi dan latihan intensif, dengan ketekunan serta kesabaran sebagai kunci. Ia menyebut memerlukan waktu sekitar tiga tahun untuk bisa memainkannya.

Menurut Rusli, kepedulian terhadap kesenian Gondolio juga datang dari pelaku seni lainnya di Desa Tambaknegara. Namun, sanggar yang dikelolanya disebut menjadi satu-satunya yang secara aktif menjalankan upaya regenerasi dengan melibatkan generasi muda dalam latihan dan pertunjukan. Komitmen pelestarian ini tidak hanya ditujukan untuk menjaga budaya, tetapi juga mempertahankan keterhubungan generasi muda dengan warisan tradisi di daerahnya.