BERITA TERKINI
Esai Muh. Asratillah S: Firasat Mati Muda, Kecemasan, dan Upaya Menjadi Autentik Lewat Menulis

Esai Muh. Asratillah S: Firasat Mati Muda, Kecemasan, dan Upaya Menjadi Autentik Lewat Menulis

Penulis Muh. Asratillah S menuturkan pengalaman personalnya tentang rangkaian mimpi yang ia anggap ganjil, yang sempat membawanya pada hipotesis bahwa ia akan wafat pada usia 33 tahun. Ia menyebut peristiwa itu terjadi sekitar empat tahun sebelum esai ditulis, dan meski berupaya menjelaskan mimpi tersebut melalui pengetahuan psikologi—terutama psikoanalisis—serta pengaruh bacaan filsafat eksistensialis dan tasawuf, hipotesis “mati muda” tetap melekat dalam pikirannya.

Esai itu ia tulis pada 3 September, sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-34. Ia bahkan menyelipkan kemungkinan bahwa pembaca akan menemukan tulisannya ketika ia sudah “berpulang” atau masih menjalani keseharian.

Kematian sebagai tema yang memikat

Dalam esainya, ia menyebut kematian memiliki “pesona” tersendiri karena menjadi kepastian paling nyata dalam hidup. Kematian, menurutnya, memunculkan respons keagamaan, spekulasi filosofis—terutama soal moral—dan bahkan bisa dimanfaatkan sebagai bagian dari siasat politik.

Ia mengutip pemikiran Martin Heidegger yang memandang kematian bukan sekadar “berhenti untuk hidup” atau “berhenti untuk menjadi”, melainkan cara berada manusia itu sendiri. Dari sana, ia menekankan gagasan bahwa manusia adalah “ada menuju kematian”.

Doktrin agama dan pengalaman yang personal

Penulis mengakui agama menyediakan seperangkat doktrin untuk menghadapi dan memaknai kematian. Namun ia mempertanyakan apa yang ia sebut sebagai “doktrin siap pakai”, karena baginya narasi umum tentang kematian kerap menjadi milik “orang kebanyakan”, sementara pengalaman kematian bersifat sangat personal.

Ia menilai peristiwa kematian hanya akan berdampak efektif pada diri seseorang jika dimaknai secara personal. Dalam kerangka itu, ia mengkritik gerakan populis berbasis agama yang, menurutnya, cenderung menempatkan agama sepenuhnya sebagai milik kolektif sehingga menuntut keseragaman pemaknaan.

Tekanan “orang banyak” dan kehilangan keautentikan

Meski begitu, ia menegaskan bahwa “orang banyak” tidak serta-merta identik dengan sesuatu yang jahat. Dengan kembali merujuk Heidegger, ia menyebut manusia tidak hidup dalam semesta kosong, melainkan selalu berada di dunia dan terlibat dengan dunia. Namun, ia menilai manusia kerap memilih menjadi anonim.

Ia mengutip Robert Feldman yang menyatakan bahwa semakin dewasa seseorang, semakin cekatan ia tumbuh dalam kebohongan. Dalam pandangannya, banyak orang sibuk mengantisipasi penilaian publik hingga kehilangan wajah, identitas, dan jati diri—menjadi “people self” (Man-Selbst). Situasi ini, baginya, berujung pada ketidakautentikan di hadapan kematian.

Kecemasan, keberanian, dan pilihan untuk terus menulis

Penulis menyebut kecemasan (angst) di hadapan kematian sebagai sesuatu yang wajar, bahkan paling hakiki. Namun ia menegaskan bahwa cemas bukan berarti pengecut. Pengecut, menurutnya, adalah sikap inautentik: menyerah pada arus sejarah, tunduk pada opini “orang banyak”, serta takut menghadapi pelabelan seperti “liberal”, “antek PKI”, “kaum radikal”, “kampret”, “cebong”, “agen mata-mata”, atau “agen Zionis”.

Karena itu, ia memilih terus menulis esai. Ia mengakui menulis bukan satu-satunya cara menjadi autentik, tetapi menjadi jalan yang paling jujur baginya. Ia juga menuturkan keterbatasan fisik dan minimnya keterampilan tangan, namun merasa terbantu oleh kebiasaan membaca yang ia kaitkan dengan didikan ayahnya. Ia menyebut membaca buku dan memantau berita menjadi bahan baku berlimpah untuk menulis, meski ia mengaku tidak pernah mengikuti pelatihan membaca atau menulis.

Menulis sebagai kerja dan cara mengambil jarak

Dalam tradisi Marxian, ia menyinggung kerja sebagai cara manusia memanusiakan dunianya. Ia menempatkan menulis—jika dianggap sebagai kerja—sebagai cara dirinya memanusiakan dunia tempat ia berada. Ia juga memberi catatan bahwa bila kerja selalu diharapkan menghasilkan uang banyak secara berkelanjutan, maka menganggap menulis sebagai kerja bisa berujung pada kekecewaan.

Ia mengatakan untuk tidak larut dalam “orang banyak”, ia perlu mengambil jarak agar bisa mengamati opini, mendengar teriakan, dan merasakan selera publik dengan lebih jernih. Dari jarak itu, ia merasa perlu mempertanyakan dan memperkarakan keadaan.

Harapan, gugatan, dan kebuntuan yang bermakna

Penulis mengaku kerap ditanya tentang tujuan dari pertanyaan dan gugatannya, serta mendapat saran agar lebih baik diam dan mengurus urusan sendiri. Ia menjawab bahwa ia tidak ingin memiliki kematian yang sia-sia.

Ia mengajukan dua pokok alasan. Pertama, tindakan mempertanyakan dan memperkarakan mengandaikan adanya harapan. Baginya, menerima situasi begitu saja dan berpura-pura semuanya baik-baik saja justru menunjukkan sikap tanpa harapan. Ia menyebut rasa syukur dapat dimaknai sebagai upaya memelihara apa yang sudah baik sembari menerobos hal-hal yang masih bobrok, korup, atau tidak adil.

Kedua, ia menilai tidak semua gugatan harus berakhir pada jawaban final. Ia merujuk dialog-dialog Socrates yang kerap berujung pada kebuntuan (aporia) saat menggugat anggapan umum tentang keadilan, keberanian, dan kepatutan. Namun kebuntuan itu, menurutnya, tetap bermakna karena menyadarkan bahwa pengertian awal manusia kerap tidak memadai, sehingga akal-budi perlu terus terbuka menyambut suara lain.

Syukur atas kesederhanaan

Di bagian akhir, penulis menyampaikan rasa syukur bisa sampai pada titik saat esai itu ditulis. Ia bersyukur bertemu orang tua yang mencintai buku, istri yang mencintai lelaki “gila buku”, serta teman-teman ngopi yang berbahagia karena buku. Ia juga menyebut buku sebagai asbab kebahagiaan dan kemewahan sederhana yang ia miliki, seraya berharap kesederhanaan itu tetap terjaga.

  • Esai memotret pengalaman pribadi tentang firasat mati muda dan upaya memaknai kematian.
  • Penulis mengangkat gagasan Heidegger tentang manusia sebagai “ada menuju kematian”.
  • Menulis ditempatkan sebagai jalan keautentikan, harapan, dan cara mengambil jarak dari tekanan “orang banyak”.