BERITA TERKINI
Duong Cam: Pengetatan aturan lip-sync jadi sinyal perbaikan ekosistem musik Vietnam

Duong Cam: Pengetatan aturan lip-sync jadi sinyal perbaikan ekosistem musik Vietnam

Komposer Duong Cam menilai pengetatan regulasi terhadap praktik lip-sync merupakan sinyal penting bagi perkembangan musik Vietnam. Menurutnya, agar seni yang autentik benar-benar menjangkau publik, pasar perlu memiliki kriteria yang transparan serta pendekatan yang lebih adil terhadap profesi ini—baik bagi seniman maupun perusahaan produksi. Ia juga menekankan bahwa kejujuran di atas panggung adalah tanggung jawab profesional setiap artis.

Duong Cam melihat dunia musik bergerak dalam dua kecenderungan. Pertama, tren pertunjukan yang menekankan aspek komprehensif seperti desain panggung, pencahayaan, koreografi, dan teknologi. Kedua, tren yang mengutamakan “ruang musik murni”, dengan vokal dan emosi sebagai pusat perhatian. Meski begitu, ia menegaskan bahwa inti dari profesi penyanyi tetaplah kesiapan tampil di hadapan penonton dengan suara asli.

Menurutnya, bernyanyi secara langsung merupakan elemen utama yang menentukan nilai sebuah pertunjukan musik. Interaksi langsung antara artis, panggung, band, dan penonton menciptakan keaslian serta emosi yang tidak bisa diulang persis sama dari satu penampilan ke penampilan lain. Bagi Duong Cam, aspek ini tidak dapat digantikan oleh teknologi.

Dari sudut pandang produser musik, ia mengakui persoalan lip-sync perlu dilihat secara realistis dan dari berbagai sisi. Ia menyebut keputusan sebagian artis atau tim produksi menggunakan vokal rekaman atau lip-sync kerap dipengaruhi sejumlah tekanan dalam proses produksi dan pertunjukan.

Salah satu tekanan itu adalah tuntutan kualitas suara yang “sempurna”. Duong Cam menilai audiens kini terbiasa dengan hasil pemrosesan audio yang sangat bersih di platform digital. Ketika tampil langsung, sebagian artis khawatir kualitas vokal di panggung tidak sebaik versi rekaman, sehingga memilih opsi yang dianggap lebih aman.

Ia juga menyinggung tuntutan pertunjukan berskala besar yang sering kali kompleks. Dalam sejumlah program, artis tidak hanya dituntut bernyanyi, tetapi juga menari, bahkan melakukan teknik khusus seperti terbang atau bergelantungan di udara. Dalam kondisi seperti itu, aspek visual kadang lebih diprioritaskan daripada kemampuan vokal, dan tim produksi menggunakan solusi teknis untuk menutupi keterbatasan bernyanyi langsung.

Selain itu, ada tantangan operasional bagi penyelenggara. Pertunjukan live membutuhkan latihan teliti dan penyesuaian tata suara yang memerlukan waktu, tenaga kerja, dan biaya besar. Sebaliknya, lip-sync dinilai dapat mengurangi risiko teknis, terutama pada acara dengan banyak penampilan dan artis.

Duong Cam menambahkan, kurangnya standardisasi di pasar seni pertunjukan turut membuka ruang bagi praktik lip-sync. Ketika istilah seperti “pertunjukan langsung” dan “konser langsung” tidak didefinisikan dengan jelas, penggunaan vokal rekaman lebih mudah terjadi karena tidak ada tekanan untuk bersikap transparan kepada penonton.

Ia juga menyoroti dampak lip-sync terhadap karya musik itu sendiri. Menurutnya, sebuah lagu bukan hanya melodi dan lirik, melainkan ruang bagi artis untuk menanamkan emosi yang terus berkembang di setiap penampilan. Daya tarik pertunjukan langsung, katanya, terletak pada kemungkinan sebuah lagu yang sama memiliki “semangat” berbeda di setiap panggung, seiring perubahan emosi artis dan respons penonton.

Jika artis mengandalkan backing track atau lip-sync, lagu tersebut akan terkunci pada satu versi saja dan kehilangan kemampuan beradaptasi dengan suasana panggung yang nyata. Duong Cam menyebut hal itu sebagai kerugian terbesar bagi sebuah karya.

Untuk mendorong ekosistem yang lebih sehat, ia menilai para seniman perlu terus mengasah kemampuan bernyanyi, meningkatkan kontrol vokal di panggung, dan menjaga stabilitas penampilan dalam kondisi nyata. Di sisi lain, perusahaan produksi diminta menyeimbangkan tuntutan pementasan dengan kapasitas bernyanyi langsung artis saat merancang program, agar tidak menempatkan artis pada konsep pertunjukan yang melampaui kemampuan vokal dan akhirnya bergantung pada teknik.

Ia juga mendorong adanya kriteria yang jelas untuk membedakan jenis program seperti pertunjukan langsung dan konser langsung. Dengan pemahaman yang lebih terang tentang format acara yang dihadiri, penonton dapat memiliki ekspektasi yang tepat terkait kejujuran penampilan, yang pada akhirnya dinilai akan berdampak positif bagi berjalannya pasar musik.