BERITA TERKINI
Dua Maestro Ukir Jepara di Tengah Zaman: Sutrisno, Suhartono, dan Pertaruhan Tradisi yang Masih Hidup

Dua Maestro Ukir Jepara di Tengah Zaman: Sutrisno, Suhartono, dan Pertaruhan Tradisi yang Masih Hidup

Nama Sutrisno dan Suhartono Kasari mendadak ramai dicari. Google Trends menangkap rasa ingin tahu publik pada kisah dua maestro ukir Jepara yang bertahan di tengah perubahan zaman.

Isu ini menjadi tren karena menyentuh sesuatu yang dekat, namun sering luput. Seni ukir Jepara bukan sekadar kerajinan, melainkan ingatan budaya yang bekerja diam-diam.

Ketika karya mereka hadir di Pameran TATAH 2026 bertajuk Suluk–Sulur–Jepara di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, perhatian publik menemukan pintunya. Tradisi tiba-tiba terasa aktual.

Di balik sorotan itu ada pertanyaan yang lebih besar. Bagaimana tradisi bertahan ketika selera pasar berubah, tenaga muda berkurang, dan nilai kerja tangan kerap kalah oleh produksi cepat.

Berita ini tidak sekadar tentang pameran. Ia tentang keberlanjutan, tentang orang-orang yang memilih tekun pada sesuatu yang membutuhkan waktu, pada dunia yang serba segera.

Di Jepara, sebatang kayu jarang dianggap biasa. Di tangan pengukir, kayu bisa menjadi kisah, menghadirkan gerak, dan menyimpan jejak kebudayaan lintas generasi.

Namun keindahan tidak lahir dari romantika semata. Ada proses panjang, disiplin, dan pengorbanan yang jarang terlihat ketika orang hanya memotret hasil akhirnya.

Di titik itu, kisah Sutrisno dan Suhartono menjadi cermin. Mereka menempuh jalan berbeda, tetapi dipertemukan oleh kecintaan yang sama terhadap seni mengolah kayu.

-000-

Mengapa Kisah Ini Menjadi Tren

Ada tiga alasan yang membuat isu ini meledak di ruang publik. Ketiganya berkelindan antara emosi, identitas, dan kecemasan sosial.

Pertama, publik merindukan cerita yang memberi harapan. Di tengah kabar yang sering keras, kisah ketekunan dan keterampilan terasa menenangkan sekaligus membangkitkan hormat.

Kedua, ada dorongan mengafirmasi identitas budaya. Jepara sudah lama menjadi simbol ukir kayu, dan ketika dua maestro diangkat, orang seperti diingatkan pada akar bersama.

Ketiga, ada kegelisahan tentang masa depan kerja tradisional. Banyak orang bertanya, apakah profesi seperti pengukir masih bisa hidup, dan bagaimana caranya bertahan tanpa kehilangan martabat.

Tren ini juga dipicu oleh panggung nasional. Ketika Museum Nasional menjadi ruang pamer, seni ukir Jepara tak lagi dilihat sebagai lokal semata, melainkan bagian narasi Indonesia.

-000-

Sutrisno: Tradisi, Pendidikan, dan Keberanian Membaca Zaman

Sutrisno, 57 tahun, mulai mengenal seni ukir sekitar usia 10 tahun pada era 1980-an. Ketertarikannya tumbuh dari lingkungan keluarga dan masyarakat sekitarnya.

Ia memulai dari belajar otodidak. Lalu ia menempuh pendidikan kejuruan di bidang ukir kayu, sebuah langkah yang menandai keseriusannya sejak dini.

Keinginannya memperdalam keterampilan membawanya ke Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Ia lulus pada 1996 dengan bekal yang memperluas cara pandangnya terhadap seni.

Di kampus, ia tidak hanya memahat. Ia mempelajari anatomi, ornamen, tahapan pengerjaan karya, hingga manajemen seni, pengetahuan yang kelak menentukan daya tahan praktiknya.

Di sini ada pelajaran penting yang sering hilang dalam pembicaraan tentang tradisi. Tradisi tidak selalu bertahan karena kesetiaan saja, tetapi juga karena strategi.

Sutrisno meyakini menjaga tradisi tidak cukup menghasilkan karya indah. Seni ukir membutuhkan pengetahuan, pengelolaan usaha, dan kemampuan membaca peluang agar tetap punya tempat.

Kini ia mengelola Jepara Carver, perusahaan sekaligus bengkel kerja ukir di Desa Senenan, Jepara. Ia menggarap relief artistik, patung tiga dimensi, hingga furnitur ekspor.

Dalam Pameran TATAH 2026, salah satu karya kolaborasinya berjudul Ratu dari Pulau Muria ikut ditampilkan. Kehadiran karya itu menegaskan ukir sebagai bahasa artistik.

Bagi Sutrisno, seniman perlu memahami cara membangun pasar. Ia menyebut manajemen seni sebagai kemampuan membuat pasar sendiri, agar karya menjangkau lebih banyak orang.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi implikasinya besar. Ia menggeser posisi seniman dari sekadar produsen karya menjadi pengelola ekosistem.

-000-

Suhartono: Kecintaan yang Tumbuh dari Keterbatasan

Suhartono Kasari, juga berusia 57 tahun, menghadirkan kisah yang berbeda. Perjalanannya menunjukkan bagaimana kecintaan pada seni dapat tumbuh dari keterbatasan.

Dari keterbatasan itu, karakter berkarya dibentuk. Ia berkembang menjadi sosok yang kuat tanpa harus selalu mengikuti permintaan pasar, sebuah sikap yang sering mahal harganya.

Di ruang publik, posisi seperti ini kerap diperdebatkan. Ada yang menuntut seniman mengikuti selera, ada pula yang menganggap idealisme sebagai inti martabat kerja kreatif.

Kisah Suhartono mengajak kita menimbang ulang. Apakah pasar selalu menjadi ukuran utama, ataukah ada nilai lain yang pantas dipertahankan agar tradisi tetap bermakna.

Ketika dua maestro ini dipamerkan dalam satu peristiwa, publik melihat spektrum pilihan. Bertahan bisa melalui manajemen, bisa pula melalui keteguhan artistik.

-000-

Pameran TATAH 2026: Tradisi yang Dipaksa Menjawab Masa Kini

Pameran TATAH 2026 bertajuk Suluk–Sulur–Jepara menjadi ruang perjumpaan. Ia menunjukkan seni ukir Jepara bukan sekadar peninggalan, melainkan tradisi yang terus hidup.

Museum, dalam konteks ini, bukan hanya tempat memajang. Ia menjadi panggung legitimasi, tempat kerja tangan memasuki percakapan kebangsaan, dan dinilai sebagai pengetahuan.

Ketika tradisi masuk museum, ada dua risiko yang selalu mengintai. Ia bisa dibekukan menjadi artefak, atau sebaliknya, justru diberi napas baru sebagai praktik hidup.

Kabar tentang Sutrisno dan Suhartono bergerak di antara dua kemungkinan itu. Ia mengingatkan bahwa tradisi perlu ruang tampil, tetapi juga perlu ruang bekerja.

-000-

Isu Besar Indonesia: Ekonomi Kreatif, Pendidikan Vokasi, dan Martabat Kerja Tangan

Kisah ini terkait langsung dengan isu besar Indonesia: masa depan ekonomi kreatif dan industri berbasis budaya. Ukir Jepara adalah contoh bagaimana warisan bisa menjadi kerja.

Namun kerja berbasis budaya tidak otomatis kuat. Ia memerlukan keterampilan yang diturunkan, akses pasar yang adil, dan penghargaan publik yang tidak berhenti di kekaguman.

Di sini pendidikan vokasi dan pelatihan keterampilan menjadi krusial. Jalur Sutrisno menunjukkan bagaimana pendidikan formal dapat memperkaya teknik dan memperluas cara pandang.

Kita juga melihat isu kewirausahaan kreatif. Sutrisno menekankan manajemen seni, sebuah pengingat bahwa pelaku tradisi sering dipaksa menjadi pelaku usaha agar bisa bertahan.

Di sisi lain, kisah Suhartono menyorot martabat kerja tangan. Dalam masyarakat yang mengukur nilai lewat kecepatan dan kuantitas, kerja detail sering terpinggirkan.

Perbincangan tentang ukir Jepara akhirnya menyentuh pertanyaan kebijakan dan budaya. Apakah Indonesia memberi tempat layak bagi profesi yang membutuhkan waktu, ketelitian, dan kesabaran.

-000-

Kerangka Konseptual: Mengapa Tradisi Bisa Bertahan atau Runtuh

Riset tentang pelestarian warisan budaya takbenda, termasuk kerajinan tradisional, sering menekankan satu hal. Keberlanjutan bergantung pada transmisi pengetahuan antar generasi.

UNESCO, melalui kerangka Intangible Cultural Heritage, menempatkan pewarisan keterampilan sebagai inti. Tradisi hidup jika dipraktikkan, diajarkan, dan relevan bagi komunitas.

Dalam kacamata ekonomi, studi ekonomi kreatif kerap menyorot pentingnya rantai nilai. Karya bukan hanya produk akhir, tetapi hasil ekosistem pelatihan, produksi, distribusi, dan narasi.

Pernyataan Sutrisno tentang membuat pasar sendiri sejalan dengan gagasan itu. Seniman yang memahami rantai nilai memiliki peluang lebih besar untuk bertahan tanpa menyerah pada tekanan.

Sementara itu, sikap Suhartono yang tidak selalu mengikuti permintaan pasar menyinggung konsep otonomi artistik. Dalam studi budaya, otonomi sering dianggap penyangga kualitas dan makna.

Ketegangan antara pasar dan otonomi bukan hal baru. Ia hadir dalam banyak tradisi, dari musik, tari, hingga kerajinan, dan selalu menuntut negosiasi yang jujur.

-000-

Rujukan Global: Ketika Kerajinan Tradisional Dipertaruhkan

Di luar negeri, isu serupa muncul pada kerajinan kayu dan seni tradisi yang berhadapan dengan industrialisasi. Jepang sering dijadikan contoh lewat konsep Living National Treasures.

Di sana, sejumlah maestro kerajinan dan seni tradisional diakui negara sebagai penjaga keterampilan langka. Pengakuan ini menegaskan bahwa keterampilan adalah aset publik.

Contoh lain dapat dilihat pada gerakan pelestarian kerajinan di beberapa negara Eropa. Banyak komunitas mendorong sertifikasi asal-usul dan kualitas untuk melindungi perajin kecil.

Rujukan global itu bukan untuk meniru mentah-mentah. Ia membantu Indonesia melihat bahwa pelestarian tradisi membutuhkan kombinasi pengakuan, perlindungan, dan peluang ekonomi.

Kisah Jepara menunjukkan kebutuhan serupa. Tradisi tidak cukup dipuji, ia perlu dipastikan bisa menjadi kehidupan yang layak bagi para pelakunya.

-000-

Bagaimana Publik Sebaiknya Menanggapi

Pertama, tanggapi isu ini dengan menghargai proses, bukan hanya hasil. Ketika membeli atau mengapresiasi karya, tanyakan cerita kerja, teknik, dan waktu yang dibutuhkan.

Kedua, dukung ruang pewarisan pengetahuan. Kisah ini menegaskan pentingnya pendidikan, pelatihan, dan mentor. Tradisi akan rapuh jika generasi muda tak melihat masa depan.

Ketiga, dorong percakapan tentang ekosistem yang adil. Sutrisno berbicara tentang pasar, dan itu berarti akses, jejaring, serta penghargaan yang tidak menekan kualitas.

Keempat, tempatkan karya tradisi dalam konteks kebangsaan yang sehat. Pameran di Museum Nasional menunjukkan bahwa ukir Jepara pantas dibaca sebagai pengetahuan, bukan suvenir.

Kelima, rawat sikap netral namun peduli. Kita bisa mengapresiasi tanpa berlebihan, mengkritik tanpa merendahkan, dan memahami bahwa setiap maestro memikul beban zaman.

-000-

Penutup: Tradisi yang Bergerak Bersama Waktu

Kisah Sutrisno dan Suhartono mengingatkan bahwa tradisi bukan benda mati. Ia adalah pilihan yang diulang setiap hari, di bengkel kerja, di ruang belajar, dan di ruang pamer.

Di setiap guratan kayu, ada pelajaran tentang kesabaran. Ada juga peringatan bahwa masa depan budaya ditentukan oleh cara kita menilai kerja yang sunyi.

Jika publik hanya mengagumi tanpa menopang ekosistemnya, tradisi akan menyusut menjadi nostalgia. Namun jika kita memahami nilainya, ia bisa menjadi energi kreatif bangsa.

Pada akhirnya, ukiran bukan sekadar ornamen. Ia adalah cara manusia meninggalkan jejak, dan cara sebuah masyarakat mengatakan, kami pernah merawat sesuatu dengan sepenuh hati.

“Tradisi bukan menjaga abu, melainkan menjaga api.”